Minggu, 23 Juli 2017 | 21:44 WIB

Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Rabu, 04 Mei 2016 | 23:31 WIB
Artikel belum tersedia
Para aktivis mengangkat lilin bersama.
Seorang anak memegang lilin dan poster kampanye untuk menghentikan kekerasan seksual.
Seorang aktivis memegang poster yang meminta agar pendidikan seksualitas juga dibekali kepada anak di sekolah.
Dua anak menyalakan lilin.
Seorang biarawati membantu menyalakan lilin kepada seorang perempuan berhijab.
Seorang perempuan memegang lilin dan poster kampanye melawan kekerasan seksual.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Akhir-akhir ini masyarakat dikejutkan dengan pemberitaan kasus perkosaan dan penganiayaan yang berakhir dengan kematian. Hal tersebut menimpa seorang anak berinisial YY (14) oleh 14 orang pelaku yang beberapa di antaranya masih di bawah umur. Peristiwa yang terjadi di Bengkulu pada 2 April 2016 lalu, baru tersebar pada Sabtu (30/4/2016), karena lokasi kejadian yang jauh dari pusat informasi.

Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan seperti itu kerap terjadi di Indonesia. Berdasarkan catatan Komnas Perempuan, sepanjang 2015 telah terjadi 2.399 kasus perkosaan, 601 kasus pencabulan, dan 166 kasus pelecehan seksual.

Untuk itu, para aktvis yang tergabung dalam Komite Aksi Perempuan melakukan aksi "Bunyikan Tanda Bahaya" dan menyatakan "Indonesia Darurat Kekerasan Seksual". Dalam aksi tersebut mereka antara lain menuntut agar pemerintah dan pihak kepolisian untuk bersikap lebih tegas dalam menangani kasus kekerasan seksual. Selain itu mereka juga meminta pemerintah dan DPR untuk melindungi perempuan, anak, dan disabilitas dengan mereformasi semua aturan hukum yang terkait hal tersebut. (Netralnews/YC Kurniantoro)