Kamis, 14 Desember 2017 | 23:50 WIB

  • News

  • RS Corner

Republik untuk Masa Depan Bukan untuk Masa Lampau

Ilustras: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Walisong Online
Ilustras: Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dengan melihat fenomena politik dan sosial Indonesia mutakhir, serta-merta muncul semacam ada gunda-gulana dalam perasaan kita. Semacam ada kekhawatiran menyergap dalam kalbu kita. Kenapa penulis berani mengatakan itu?

Karena yang terjadi dalam setiap wacana kita, dalam setiap pembicaraan kita, dalam setiap diskusi kita, dalam setiap aksi demonstrasi kita, di sana yang mencuat adalah kata-kata yang saling memojokan dan saling menjatuhkan, kata-kata yang saling menuding, kata-kata yang saling menjelek-jelekkan dan seterusnya.

Intinya hampir tidak ada kata-kata bersahabat  yang menyejukkan. Sangat jarang keluar kata-kata yang saling meneguhkan dan saling membangun. Kalaupun ada kritik yang dilontarkan, itu pun seperti tidak ada kata-kata kritik yang membangun, malah sebaliknya kata-kata kritik yang  saling meruntuhkan.  

Semua itu membuat kita seperti tidak memiliki orientasi dan kesanggupan untuk membangun masa depan bangsa ini. Kita seperti kehilangan gairah untuk membangun masa depan. Itu terlihat dari orientasi perhatian kita yang lebih berpusat pada masalah komunis atau Partai Komunis Indonesia (PKI), kinerja mantan presiden, defisit ekonomi, KPK, dan seterusnya. 

Ingat bahwa negara atau republik ini dibangun untuk masa depan, bukan untuk masa lampau. 

Cita-cita Reformasi

Perlu  sekali lagi dicatat bahwa reformasi yang digelorakan, atau kemerdekaan yang didengungkan, hakikatnya lahir dari niat awal yang mengantarkan bangsa ini menuju masa depan keindonesiaan yang baru. 

Sejak Indonesia diproklamirkan dan kemudian reformasi digelorakan, di sana sebenarnya sudah terpatri sebuah visi kebangsaan masa depan keindonesaan yang lebih sejahtera. 

Semuanya terpancar dari isi Dasar Negara Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Bendera Merah Putih. Dan semua itu pun sebenarnya dan sudah kita jadikan sebagai spirit dalam kehidupan bersama kita untuk membangun masa depan yang lebih baik. Yang menurut hemat penulis, kita bisa menjadi negara terkaya nomor 5 dunia.

Artinya, bahwa Pancasila, Pembukaan UUD 1945, atau UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, Bendera Merah Putih, dan lain-lain, itu semua  sudah merupakan cetak biru, blue print atau landmark sebuah kehidupan bersama dalam berpolitik dan bersosial budaya yang beradab. 

Untuk itu pula, Indonesia harus didefinisikan dan dikerjakan sebagai sebuah kehidupan bersama yang lebih baik ala Benedict Anderson. Di situ, rasa kebangsaan  atau rasa sebagai satu bangsa dengan cita-cita bersama adalah sebuah proses menjadi yang terus diperjuangkan lewat pematangan nilai-nilai dan norma-norma yang hidup dalam masyarakat seperti adanya rasa saling menghormati, bukan saling menjatuhkan. 

Di sini, kita harus setiap saat atau setiap waktu berusaha untuk segera keluar dari turbulensi  kehilangan nilai-nilai moral kebaikan dalam kehidupan masyarakat. Kita tidak boleh terkungkung dalam sejarah masa lampau yang buruk. Kita harus bangkit sambil menyingsingkan lengan baju untuk membangun masa depan dengan mengambil sari makna dari masa lampau yang buruk itu, tanpa terus mencemooh. 

Okelah bahwa kita semua benci pada semua kebusukan yang dilakukan seperti korupsi gila-gilaan dan besar-besaran, buruknya kinerja para pemimpin masa lampau, atau apa pun, kita kutuk segala perilaku amoral anak-anak bangsa di masa lampau, dan kita harus basmi semua kebusukan itu. 

Tetapi, semua itu tidak boleh memerangkap kita, membodohi kita, sehingga kita tidak tahu lagi bagaimana membangun bersama untuk mengukir masa depan yang lebih indah daripada masa lampau dan masa kini. 

Sejarah memang sudah terbentuk, dan kita tidak mungkin lagi dapat merubahnya. Sekuat dan sejenialnya apa pun kita, kita hanya memiliki kesanggupan untuk membangun masa depan yang indah, tanpa kesanggupan apa pun untuk mengubah masa lampau, entah sesederhana atau sehebatnya sejarah masa lampau itu.   

Ada memang dalam sejarah bangsa-bangsa ada terjadi semacam kesanggupan untuk mengubahya dengan warna baru, seperti dalam hubungan Komunis dan Tiongkok. Pada tahun 1930-an Komunis mengubah Tiongkok, namun kini Tiongkok mengubah Komunisme. 

Artinya, jika kita hanya terpusat pada masa lampau, baik itu dalam bentuk kritik dan lain-lain, itu hanya membuat negeri  atau republik ini seperti sebuah republik atau negeri tanpa harapan. 

Keindonesiaan seperti terus meniti labirin tanpa terminal pemberhentian, dan masa depan  tanpa ujung. Itu akan membuat keindonesiaan sebagai sebuah republik tanpa masa depan.

Apa yang mesti dilakukan?

Maka, jika untuk menciptakan masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera dan lebih gemilang, maka hendaknya kita menjadikan segala keburukan atau kebusukan masa lampau sebagai soko guru pembelajaran, bukan dengan terus-menerus mengutuk-ngutuknya. 

Kita harus membangun masa depan dengan membangun harapan baru, memberikan pencerahan baru, dengan memosisikan nation and character building sebagai fondasi  dan insipirasi dalam membangun masa depan yang lebih baik dan lebih sejahtera itu.  

Tentu semua itu dengan upaya maksimal dan kerja keras yang hebat, baik dalam hal menyelesaikan segala persoalan bangsa maupun untuk menerjemahkan utopia  dengan optimisme-optimisme baru demi bisa terciptanya segala kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi semua tanpa kecuali. 

Mewujudkan keindonesiaan yang indah, berarti menemukan sosok-sosok Indonesia, sebuah republik dengan menggali segala potensi yang dimiliki bangsa ini baik di bidang ekonomi, sosial budaya, dan seterusnya. Sebuah penggalian potensi dengan kerja keras yang terus menerus. 

Kerja keras yang tentu dilakukan dengan belajar tentang segala keburukan di masa lampau sambil bertekad untuk tidak melakukannya lagi saat ini dan akan datang.  Itu harus dipatrikan niat bahwa semuanya demi rakyat, demi bangsa dan demi negara. 

Tulis David Kolb, sang penggagas The Clinical Experiental Learning Model di Amerika, bahwa pengalaman nyata masa lampau dan masa kini, adalah titik awal tumbuh kembang yang akan dialami bangsa yang mau merombak nasibnya dan terus belajar dan ingin maju menjadi lebih baik. 

Pengalaman baik buruk masa lampau adalah sumber sejarah inspiratif pembelajaran dan tumbuh kembang menuju masa depan yang lebih baik. Masa lalu adalah ukiran sejarah, masa depan adalah mengukir sejarah.

Tulis Penyair si Burung Merak, WS Rendra

Kemarin dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan sama saja

Langit di luar

langit di badan

bersatu dalam jiwa

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?