• News

  • RS Corner

Ingat! Ini Sejarah, sampai Kapan pun Tak Akan Pernah Jujur

Pahlawan Revolusi yang gugur saat tragedi G30S/PKI
Namapedia
Pahlawan Revolusi yang gugur saat tragedi G30S/PKI

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Akhir bulan September lalu, publik bangsa ini masuk dalam suatu perdebatan tentang kebenaran sejarah atau fakta historik di balik aksi biadab dalam G30S/PKI. Pergunjingan tentang kebenaran sejarah itu, berpusat pada film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, bahwasanya apa yang terpotret dalam film itu tidak memancarkan kebenaran historik tentang aksi G30S/PKI itu sendiri. 

Apakah benar peristiwa itu didalangi oleh PKI, sebuah partai politik yang memang memiliki tradisi merebut kekuasaan, yang kerap dengan jalan pedang? Atau, peristiwa itu merupakan kudeta halus, tetapi kejam dari penguasa baru kepada penguasa lama antara Pak Harto dan Bung Karno untuk memperoleh legitimasi kekuasaan? Tidak ada yang tahu.

Selanjutnya, apakah kekejaman yang terpotret dalam film 30S/PKI itu benar-benar sesuai dengan kenyataan atau bukan. Juga tidak ada yang tahu. Sebagaimana cerita tentang siapa dalang G30S/PKI pun tidak ada yang tahu sampai sekarang.

Lalu, apakah fakta sesungguhnya tidak akan pernah terkuak dari sejarah yang memang terkadang mengandung patologi?  Sejarah memang seringkali memberikan dan menghancurkan peran pelaku sejarah. Sejarah memang cenderung menginabobokan publik masyarakat dan bangsa.

Sejarah Kaum Ningrat

Lalu, kita bertanya, apakah sejarah bangsa ini, atau di mana pun akan selalu jujur dengan mengisahkan kebenaran fakta yang terjadi?  Lalu, apa yang mesti kita katakan di sini? Bangsa ini biar bagaimanapun perlu sejarah yang jujur yang ditulis dan disimpan dengan jujur untuk bisa dipelajari anak cucu kita.

Sejarah yang jujur membuat bangsa ini dapat maju meraih hari esok yang cemerlang, menjadi bangsa terkaya nomor 5 dunia, seperti yang sering saya katakan dalam berbagai tulisan saya. Sejarah yang jujur perlu diciptakan untuk bisa membuat bangsa ini belajar secara benar dan cepat dewasa.

Dalam sejarah apa pun di negeri ini, juga di berbagai negara, sejarah itu sendiri sesungguhnya hanya berkutat dalam spektrum kekuasaan otoriter, di mana sejarah umumnya ditulis bukan untuk menunjukkan kebenaran historisitasnya, melainkan untuk menjadikan sejarah sebagai pembenaran sejarahnya kaum ningrat (baca:elite) yang berkuasa. 

Perlu dicatat bahwa sejarah itu menyangkut dokumen, catatan yang adalah tuangan dari ide atau pemikiran. Di situlah sejarah dibentuk dan ditentukan. Ketika sebuah masyarakat dikuasai segelintir kaum ningrat, segala keburukan kaum ningrat atau kaum elite disulap dan diubah menjadi sejarah yang penuh cerita heroik, patriotik, semangat kepahlawanan dan keperkasaan para kaum ningrat atau para penguasa.

Lihat, misalnya, hingga hari ini apa yang ditekankan dalam sejarah negeri ini dalam kebesarannya yang tidak tertandingi? Misalnya, hingga hari ini selalu saja ditekankan negara kesatuan, bangga dengan Majapahit, Sriwijaya, Mataram, Demak, Padjajaran, dan seterusnya. Kenapa itu selalu terjadi? Jawabannya karena para empu kraton seperti Empu Tantular, sang penulis Bhinneka Tunggal Ika, tan ana mangrwa selalu menulis atas kamauan sang raja. Para empu biasanya disuruh para raja atau penguasa untuk menulis sejarah legitimasi dari dinasti yang lagi berkuasa.

Maka, yang terjadi adalah sejarah orang-orang besar, para penguasa yang memiliki kekuasaan untuk menyitir dan mengarahkan sejarah, dengan tafsirannya sendiri, yang sekali lagi demi legitimasi kekuasaannya. 

Lalu, di manakah sejarah orang kecil? Apakah orang kecil tidak memiliki sejarah, tidak memiliki andil dalam mengukir sejarah. Di manakah sejarah yang melukiskan kisah tragis jutaan orang yang tewas mengenaskan di balik kekejaman G30S/PKI? 

Misalnya, kenapa hanya tujuh orang jenderal Pahlawan Revolusi saja yang diabadikan dalam bentuk monument? Bukankah rakyat jelata juga merupakan pelaku otentik yang telah ikut andil dalam melukiskan perjalanan sejarah itu?

Sayang bahwa rakyat kecil selalu menjadi korban otentik dalam sejarah yang dilukiskan kaum ningrat, para penguasa dan elite negara dan kerajaan.

Paling tidak, itu terjadi sejak zaman Ken Arok Singasari hingga Soeharto, ketika terjadi pergantian rezim, sejarah negeri ini atau sejarah Nusantara ini selalu meminta korban nyawa dan darah anak-anak bangsa yang senantiasa terlupakan dalam sejarah ingatan kolektif bangsa. Rakyat kecil hanya menjadi tumbal sejarah.

Anamnese Sejarah

Selain sejarah yang tidak pernah jujur, lantaran lebih cenderung mengisahkan sejarah kaum ningrat dan mengabaikan sejarah riil kaum jelata, kita juga sering melupakan sejarah yang dilukiskan secara benar. 

Soal melupakan sejarah itu memang selalu menyelipi sejarah umat manusia. Artinya, persoalan-persoalan yang terdahulu, betapapun tragisnya kerap begitu gampang dilupakan jika tidak lagi diangkat oleh media massa. 

Mengenai penyakit lupa yang membuat kita atau sebuah bangsa sulit untuk memperbaiki setiap kesalahan masa lampau ini, sebenarnya sudah puluhan tahun lalu diingatkan seorang penulis kenamaan di Timur Tengah, Millan Kundera, ketika melukiskan aneka pertistiwa demi peristiwa meredam satu sama lain. 

Kundera memberi contoh, Pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menghapus ingatan orang akan invasi Rusia di Cekoslovakia. Pembunuhan di Allende menenggelamkan rintihan orang-orang Bangladesh. Perang di Gurun Sinai membuat orang lupa akan Alende. Pembantaian di Kamboja membuat orang cepat lupa akan Sinai, dan seterusnya. 

Realitas juga menunjukkan bahwa bangsa ini juga gampang melupakan sejarah masa lampau, banyak peristiwa tragis masa lampau yang traumatik, yang sebenarnya harus dijadikan pembelajaran untuk bisa menciptakan bangsa yang maju meraih hari esok yang lebih baik, lebih sejahtera, menjadi bangsa terkaya nomor 5 dunia.

Akhirnya, yang sangat dibutuhkan adalah tulisan-tulisan sejarah yang jujur, sehingga dapat menjadi landasan pembelaran atau referensi yang jelas untuk bisa menciptakan dan membangun sejarah yang baru. 

Kita juga butuh penumbuhkembangan kesadaran anamnetis demi pembaruan bangssa. Dengan pembaruan-pembaruan, akan mudah terciptanya bangsa yang maju. Bangsa yang maju adalah bangsa yang terus belajar dari kesalahan sejarah masa lampau dan berani memperbaikinya.

Sejarah sesunguhnya, kata filsuf kenamaan Hegel, adalah sejarah proses pembebasan, bebas dari segala kecurangan, ia harus berjalan dalam kerangka evolusi keseluruhan. 

Sejarah yang direkayasa mengikuti kamauan kaum ningrat, bukanlah sejarah yang otentik, malainkan sejarah rekayasa; sejarahnya yang mewakili kaum ningrat semata, bukan sejarah riil yang mengisahkan perjalanan anak-anak bangsa yang sesungguhnya.

Masalahnya, seperti ini, apabila ada produsen film menayangkan film berjudul Bung Karno Kudeta Bung Karno? Apa kata dunia? Apa kata generasi muda!

 

 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?