• News

  • RS Corner

FDI Raksasa Mampu Membangun Indonesia Menjadi Terkaya Ke-5

Ilustrasi Foreign Direct Investment (FDI)
Zambia Invest
Ilustrasi Foreign Direct Investment (FDI)

JAKARTA, NNC - Adalah kenyataan bahwa gerak pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat dipengaruhi penanaman modal asing atau disebut juga Foreign Direct Investment (FDI). FDI diharapkan menjadi infus menyehatkan perekonomian nasional sehingga mampu membuka lapangan kerja, mendatangkan teknologi, menciptakan tenaga ahli, kemapanan modal, dan lain-lain.

Berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi FDI pada kuartal pertama (Januari-Maret 2018) mencapai Rp185,3 triliun. Jumlah tersebut merupakan total keseluruhan FDI dari dalam negeri maupun luar negeri. FDI yang berasal dari luar negeri, hingga kini masih didominasi tiga besar, yaitu Singapura, Jepang, dan Tingkok.

Dalam siaran pers BKPM, Senin (30/4/2018), seperti dilansir dalam website-nya, dinyatakan bahwa realisasi FDI meningkat 11,8 persen dari periode yang sama tahun 2017 yaitu sebesar Rp165,8 triliun. Capaian tersebut sejalan dengan target investasi yang dicanangkan. Target sepanjang tahun 2018 adalah sebesar Rp765 triliun dengan kisaran pertumbuhan ekonomi pada level 5,4 persen.

Realisasi investasi tersebut mengalir, di antaranya pada lima lokasi proyek terbesar, yaitu Jawa Barat (19,9 persen), DKI Jakarta (15,6 persen), Jawa Tengah (8,7 persen), Banten (8,4 persen), dan Riau (4,9 persen). Keseluruhan investasi di Jawa dan luar Jawa, menurut data BKPM telah membuka 201.239 pekerjaan baru untuk penduduk setempat.

Sedangkan dilihat dari sektor usaha, realisasi investasi pada kuartal pertama mengalir ke sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran (14,9 persen); industri logam, mesin, dan elektronik (12,3 persen); listrik, gas, dan air (10,4 persen); tanaman pangan dan perkebunan (9,6 persen); serta sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi (7,9 persen).

Untuk realisasi yang mengucur ke wilayah Indonesia Timur masih relatif kecil. Setelah dilakukan pembangunan infrastruktur oleh pemerintahan Jokowi, diharapkan memacu realisasi FDI di wilayah tersebut untuk masa mendatang. Pada tahun 2017, realisasi investasi ke Papua tercatat sebesar Rp379,103 miliar. Jumlah tersebut mayoritas meliputi sektor pertambangan dan perkebunan.

Data realisasi investasi kuartal pertama di atas, bergerak ke arah positif bagi perekonomian nasional. Diharapkan di tahun 2018, akan terus meningkat seperti tahun 2017 yang mencapai US$23,06 miliar atau melonjak hingga 488,3 persen dibandingkan tahun 2016.

FDI Raksasa Dapat Melahirkan Lompatan Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Ricky Sutanto, seorang pengusaha yang bergerak di bidang kontraktor, properti, dan consumer product, apa yang dicanangkan pemerintahan Jokowi sudah cukup menjadi fondasi untuk melakukan lompatan revolusioner.

“Periode pembangunan jangka menengah selanjutnya (2020-2024), seharusnya sudah mampu mendatangkan FDI raksasa,” ungkapnya kepada NNC, Rabu (16/5/2018).

Menurut analisa Ricky, ketercapaian target FDI pemerintahan Jokowi tak lepas dari kerangka dasar yang telah dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 (Perpres No. 2 Tahun 2015). RPJM menjadi pedoman arah pembangunan bagi seluruh aparatur pemerintahan Jokowi dan berpedoman pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025.

Dalam program tersebut selama lima tahun ke depan, prioritas pembangunan nasional adalah untuk mencapai kedaulatan pangan, ketersediaan energi, pengelolaan sumber daya maritim, serta kelautan. Pemerintah juga berkomitmen membangun keseimbangan antarsektor ekonomi, antarwilayah, dan mencerminkan keharmonisan antara manusia dan lingkungan.

Prioritas di awal tahun adalah upaya melayani kebutuhan dasar masyarakat yang tergolong mendesak. Salah satunya pembangunan insfrastruktur di Indonesia Timur serta daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) lainnya. Hal ini diharapkan menjadi fondasi yang kokoh bagi proses pembangunan selanjutnya menuju cita-cita pemerataan kesejahteraan bagi segenap rakyat di semua wilayah Indonesia.

Walau senada dengan arah gerak pemerintah saat ini, namun Ricky ternyata justru sudah memikirkan hal-hal lebih jauh ke depan. “Untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional, diperlukan FDI dengan jumlah sangat besar atau raksasa. Untuk itu, diperlukan konsep kreatif dan terobosan revolusioner yang mengundang FDI sebesar-besarnya dari dalam negeri maupun luar negeri,” demikian paparnya.

Ricky yang dikenal pula sebagai salah satu pendiri perusahaan Adem Sari, menggagas perlunya segera merancang RPJMN untuk periode 2020-2024. Ia mengusulkan beberapa gagasan mega proyek untuk menjadi solusi bagi arah kemajuan Indonesia sekaligus untuk mengundang FDI raksasa.

“Pemerintahan Indonesia harus benar-benar serius menggarap potensi daerah strategis. Gagasan pertama saya adalah proyek pembangunan ASEAN Link. Seluruh negara ASEAN benar-benar harus diajak untuk bersama menggarap kawasan First ASEAN Economic Zone (FAEZ),” kata Ricky.

Untuk kawasan strategis di Indonesia, Ricky mengusulkan agar Batam dan Pulau Galang segera dibangun menjadi daerah FAEZ yang menghubungkan Indonesia-Singapura-Malaysia. Pulau Batam dibangun menjadi pusat bisnis dan harus dibangun terhubung langsung dengan Singapura. Jembatan bisa dibangun melalui bawah laut semacam tunnel.

Sementara Pulau Galang, dibangun menjadi semacam Las Vegas. Pulau Galang dijadikan menjadi pusat pariwisata kelas dunia. “Bali sudah menjadi pariwisata dunia, namun Pulau Galang mempunyai potensi berbeda yang menitikberatkan pada entertainment dan retirement,” papar Ricky.

Pembentukan Zona Ekonomi ASEAN di Batam akan ikut memacu perekonomian di segala bidang, dari mulai nilai jual tanah, mengundang investor, pusat pariwisata, pembangunan hotel taraf internasional, dan lain-lain. Pemerintah dapat menerbitkan FAEZ Bond, yaitu semacam instrumen investasi berjangka 10 tahun bagi perusahaan yang ingin beroperasi di Batam.

“Jika harga tanah di FAEZ bisa mencapai 50 persen dari harga tanah di Singapura, maka FAEZ Bond akan dapat menghasilkan 250 miliar dolar AS dalam tempo 5 tahun,” ungkapnya. Angka tersebut sudah jauh melebihi perolehan FDI 2017. Dengan demikian, pemasukan bagi negara pun akan mengucur.

Selanjutnya, “Layaknya kawasan Uni Eropa dalam semangat gerak bersama telah berhasil mendobrak perekonomian negara. ASEAN juga bisa,” lanjutnya. Sistem hukum (ASEAN law) dan pemberlakukan mata uang ASEAN (ASEAN currency) disusun bersama sebagai panduan arah pembangunan.

Mega proyek lainnya adalah pembangunan pusat keagamaan tingkat dunia di Pulau Samosir. Indonesia mempunyai Borobudur dan mempunyai tradisi keagamaan yang beragam dan kaya. Pulau Samosir dibangun menjadi etalase yang menampilkan semua kekayaan itu.

Untuk membangun Garden of Prayer perlu melibatkan FDI dalam jumlah tak sedikit. “Setiap pihak yang ikut menentukan FDI atau menyumbang pembangunan, dapat saja diabadikan dengan pendirian patung atau The Statues of Thousand Donors di lereng Samosir sehingga dikenang dunia,” kata Ricky.

Garden of Prayer menjadi tempat studi agama dan menjadi tempat akhir menyenangkan bagi semua orang yang ingin menghabiskan hari tua hingga ajal. “Di Garden of Prayer, maut diubah menjadi masa penuh berkat dan sumber mujizat,” demikian Ricky meyakinkan.

Indonesia Menjadi Negara Terkaya ke-5
Melihat prospek Indonesia ke depan, Ricky sangat optimis. “Indonesia seharusnya mampu menjadi negara terkaya nomor lima, selambat-lambatnya tahun 2030,” kata Ricky. Tentu, semua itu tidak serta merta bisa dicapai.

Gagasan mega proyek untuk mendatangkan FDI raksasa adalah salah satu langkahnya. Menurut Ricky, gagasan kreatif harus segera dirancang dan tahap demi tahap diwujudkan. Ia telah menyampaikan sebagian gagasannya. Masih ada gagasan lain yang tidak cukup dipaparkan dalam satu tulisan ini.

Ricky Sutanto berencana meluncurkan bukunya yang berisi tentang gagasan-gagasan terobosan bagi Indonesia. Bagaimana penghitungan beliau mennuju negara terkaya nomor lima, akan dipaparkan lebih jauh dalam buku tersebut. Anda sudah tidak sabar menunggu buku itu?

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?