• News

  • RS Corner

Berperang Melawan Terorisme dan Segera Sahkan UU Antiterorisme

Ilustrasi terorisme
Kupastuntas
Ilustrasi terorisme

JAKARTA, NNC - Aksi teror yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat; tiga gereja di Surabaya; juga di Polres Sidoarjo, Jawa Timur; dan penembakan terhadap para terduga teroris di sejumlah tempat di Tanah Air, sungguh menampilkan sebuah gramatika kekerasan yang begitu tragis di negeri ini.

Aksi terorisme tersebut juga menewaskan sejumlah anggota polisi dan para teroris, sehingga kekerasan tersebut seperti melahirkan perang antara alat negara dan para teroris. Masyarakat pun serta-merta menggantungkan harapan setinggi langit kepada aparat negara agar segera memerangi terorisme hingga tuntas sampai ke akar-akarnya.

Memang, memerangi terorisme tidak semudah membalikkan piring di atas meja makan. Perang melawan terorisme ibarat memerangi gerombolan siluman, meski benar-benar ada tetapi tidak jelas di mana keberadaannya. Meski pelaku teror itu ada, konkret, ada ideologi, ada fenomena aksi, namun semuanya begitu abstrak.

Lagi pula, keberadaan terorisme seperti yang dipertontonkan kelompok ISIS dengan latar radikalisme ini, memiliki jaringan sel yang mati di suatu tempat, kemudian tumbuh dan hidup lagi di tempat lainnya.

Fenomena Sejarah Terorisme
Terorisme sesungguhnya memiliki motif yang beragam, sekaligus disusupi banyak pihak dengan aneka kepentingannya masing-masing. Sehingga berperang melawan terorisme juga harus mendapatkan redefinisi yang selalu berubah dan dikembangkan dari waktu ke waktu.

Dengan perubahan di tataran konseptual, membuat kita tidak terjebak pada kebijakan teknis yang miskin gagasan untuk membangun strategi yang akurat demi menuntaskan terorisme itu sendiri. Ujungnya banyak nyawa yang bergelimpangan sia-sia, selalu direspon dengan berbagai instruksi yang hanya menghabiskan para pelaku teror yang terlihat tanpa sanggup mencabut akar dan benalu terorisme secara menyeluruh.

Terorisme bertujuan untuk menciptakan rasa takut publik. Ini sesuai dengan pengertian dari kata terorisme yang berasal dari kata bahasa Latin, terer, yang berarti menakuti. 

Selain itu, aksi teror juga dapat menciptakan rasa putus asa, hilang kepercayaan warga kepada negara, hingga dapat menewaskan pihak-pihak yang berkepentingan agar menyerah, lalu mengikuti kemauan para teroris seperti mengubah kebijakan politik kenegaraan.

Maka dalam hal ini, terorisme seperti meledakkan bom di sejumlah tempat, adalah tindakan yang dirancang dan diorganisir secara matang untuk menciptakan rasa takut yang hebat. Supaya, kepercayaan masyarakat dapat tergoyahkan, struktur kekuasaan oleng, dan instabilitas negara dapat menyeruak.

Itulah yang kerap dikatakan bahwa terorisme lebih bertujuan politis. Dalam bahasa Inggris sering dikatakan, Post modern terorisme adalah substance application of violence or threatened violence to show panic in a society, to weaken or even overthrow the incumbents, and to bring about political change.

Dalam sejarahnya memang terorisme lebih bertujuan politik. Kemudian berkembang ke tujuan ekonomi dan sosial atau tujuan agama. Dalam hal ini, misalnya aksi teror sebagai pernyataan pembangkangan atau sebagai protes terhadap berbagai kebijakan negara yang dinilai atau dirasakan tidak adil, baik secara ekonomi maupun politik.

Fenomena ini begitu terlihat pada awal abad ke-20 yang terjadi di Rusia, Perancis, dan Spanyol. Sedangkan pada abad ke-21, terorisme berkembang menjadi konsep politik yang terakumulasi dalam tiga fenomena utama.

Pertama, terorisme sebagai ekspresi pembangkangan terhadap pemerintahan yang sah. Kedua, terorisme yang dilakukan oleh negara sendiri kepada warganya dengan tujuan merawat kepentingan negara. Ketiga, penggunaan kekuatan untuk menyalahi rule or engagement, misalnya menyerang warga dengan tujuan politik kekuasaan.

Aksi teror yang dilakukan ISIS, misalnya, itu masuk dalam bingkai tujuan politik. Karena aksi teror bom yang dilakukan, bukan sekadar menciptakan efek rasa takut publik, melainkan lebih pada keinginan untuk menngganti ideologi, bahkan menghancurkan dasar negara.

Tanggung Jawab Negara
Apa pun tujuannya dan siapa pun yang berkepentingan di balik aksi terorisme tersebut, sekaligus betapa sulitnya memerangi terorisme, karena ibarat memerangi siluman, namun semua itu harus diatasi oleh negara. Negara berkewajiban penuh dalam melindungi setiap warga negara dengan menciptakan rasa aman dan nyaman.

Maka, harapan setiap warga negara untuk memerangi terorisme dan menuntasnya sampai ke akar-akarnya tetap digantungkan di pundak aparat negara. Semua itu tentu harus didukung oleh implementasi hukum dan peraturan-peraturan perundang-undangan yang kredibel, seperti Undang-Undang Antiterorisme.

Itulah yang bisa kita pahami di balik begitu gencarnya desakan publik pascaaksi terorisme belakangan ini, untuk segera disahkannya Undang-Undang Antiterorisme, yang hingga kini masih mangkrak di DPR.

Harapan kita untuk DPR adalah singkirkan semua kepentingan, baik pribadi maupun kelompok, lalu segera sahkan Undang-Undang Antiterorisme dan luncurkan sesegera mungkin.

Selain itu, tingginya tingkat pendidikan masyarakat juga dapat mengikis berkembangnya aktivitas terorisme. Pasalnya, dengan tingginya tingkat pendidikan, masyarakat tidak mudah dipengaruhi oleh ajakan atau hasutan yang sifatnya negatif.

Tak kalah pentingnya, faktor tingkat kesejahteraan masyarakat juga berperan dalam mengikis berkembangnya faham radikal di tengah masyarakat. Dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat maka gejolak ekonomi maupun politik di tengah masyarakat tentu akan berkurang.

Selama hampir 73 tahun Indonesia telah merdeka, bangsa kita merayap dari bangsa subsidi di zaman Orde Baru hingga kini menjadi bangsa "sembako" di zaman reformasi.

Sudah selayaknya kemerdekaan diisi dengan kesejahteran, maka pemerintah harus bergegas meningkatkan daya beli dan taraf hidup rakyat menjadi masyarakat pembelanja, seperti layaknya di negara maju.

Kita tidak mau menunggu hingga jatuh lagi nyawa rakyat yang tak berdosa secara sia-sia.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?