• News

  • RS Corner

Indonesia Perlu Bangun Istana Negara yang Baru

Peta wilayah Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.
Google Maps
Peta wilayah Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.

JAKARTA, NNC - Di sela-sela acara berbuka puasa bersama, pada Jumat (8/6/2018) yang lalu, NNC berhasil berbincang-bincang sejenak dengan Bapak Ricky Sutanto. Ia adalah salah satu pendiri Blossom Group (Blossom Commercial Network), sekaligus salah satu pendiri NNC.
 
Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan gagasannya tentang perlunya pembangunan Istana Negara Indonesia yang baru. Gagasan ini murni berasal dari pemikiran bagaimana memajukan Indonesia, serta didasarkan pada rasa cintanya terhadap negara Indonesia.
 
“Indonesia sebentar lagi sudah berusia 73 tahun. Usia cukup tua. Presiden juga sudah tujuh kali berganti. Namun hingga kini, Indonesia belum memiliki Istana Negara yang dibangun oleh putra putri Indonesia sendiri sejak kemerdekaan,” demikian papar Ricky mengawali perbincangan.
 
Memang, Indonesia memiliki  Istana Merdeka, Istana Negara, Istana Cipanas, dan Istana Bogor. Namun semua itu adalah peninggalan Belanda. Istana tersebut dibangun oleh bangsa asing tatkala masih menguasai Indonesia. Bagaimanapun, labelnya adalah budaya Belanda atau budaya Eropa. Nilai-nilai kemerdekaan serta menjunjung tinggi nasionalisme perlu diwujudkan.

Baca juga: Sejarah Istana Negara
 
Pertanyaannya, apakah Indonesia yang telah merdeka tidak mampu membangun istana sendiri? Apakah Indonesia tidak ingin membangun istana yang mencerminkan budaya Indonesia? Bukankah Istana Negara juga akan menunjukkan jatidiri dan peradaban bangsa yang khas Indonesia?
 
Pertanyaan pertama, tentu mudah dijawab. Indonesia bukan negara miskin. Kalau hanya membangun Istana Negara, tentu bukan hal sulit dari sisi anggaran. Pertanyaan kedua dan ketiga adalah soal kehendak dan arah atau citra yang akan dibangun. Janganlah tanya bisa atau tidak bisa, tanyalah mau atau tidak mau.
 
“Sebenarnya, citra Indonesia bisa dicerminkan melalui istana yang bercorak khas Indonesia. Corak itu bisa dirumuskan bersama, baik dari segi arsitektur, falsafah, simbol budaya, dan lain-lain. Bisa saja mengambil konsep model Istana Majapahit,” lanjut Ricky. Jangan lupa kita memiliki ribuan arsitek lulusan universitas tersebar di Nusantara.
 
Kerajaan Majapahit yang pernah menguasai Nusantara sudah kita ketahui mempunyai corak bangunan yang khas. “Bisa saja, model Istana Majapahit dikombinasikan dengan era sebelumnya. Bisa dikombinasi dengan unsur Borobudur, Prambanan, hingga unsur Masjid Demak,” papar Ricky.
 
Konsep Istana Negara yang akan dibangun harus merangkum semua unsur budaya Indonesia yang terkenal dengan keberagamannya. Dengan demikian, sejalan pula dengan Pancasila dan kebinnekaan yang tunggal ika.
 
Pertanyaan berikutnya, di mana lokasi Istana Negara yang baru perlu dibangun? Menurut Ricky, Istana Negara yang baru dan pertama dibangun sendiri, hendaknya dibangun di lokasi strategis. Lokasi itu harus bisa menjadi arah pemekaran ibukota atau bahkan bila perlu untuk memindahkan pusat pemerintahan.
 
Mengapa perlu digeser? Jakarta sebagai ibukota negara sudah sangat padat. Selain dengan membangun infrastruktur transportasi, kemacetan Jakarta dapat diatasi pula dengan pembangunan ibukota baru atau bisa juga disebut sebagai pemekaran ibukota. 
 
“Lokasi strategis tersebut tidak jauh dari Jakarta. Artinya, ibukota Indonesia juga tidak perlu dipindah, misalnya ke Kalimantan. Terlalu besar biayanya. Cukup dipindahkan atau dimekarkan ke wilayah ini,” jelas Ricky.

Lalu dimana lokasi strategis tersebut? “Saya yakin dengan aksi gotong royong bangsa Indonesia mampu mempersembahkan Istana Negara kepada negara tanpa memerlukan biaya dari APBN,” Ricky menambahkan dengan semangat.
 
“Wilayahnya masih menempel dengan Jakarta, yaitu daerah Muara Gembong,” jawab Ricky.

Luas lingkungan Istana Negara dan komplek kementarian kabinet seluas 500 hektare akan menjadi ikon kebanggaan bangsa Indonesia.

Gagasan yang sangat logis. Lokasi ini memang tak jauh dari Jakarta dan bila dibangun, biaya sosial, politis, maupun ekonomi, tentu jauh lebih kecil dibanding konsep perpindahan ibukota ke wilayah Kalimantan.
 
Kawasan Muara Gembong, bentuknya sebenarnya sangat unik. Bentuk daerah ini dikenal seperti “kepala burung garuda”. Bukankah lambang negara kita burung garuda?

Bentuk tersebut sangat tepat dan bisa menjadi unsur filosofis dan simbolis. Istana adalah simbolis mata dari burung elang tersebut, seolah-olah memang sudah disediakan oleh Tuhan YME.
 
Memang, Muara Gembong kini masih menjadi salah satu wilayah Kecamatan di bawah administrasi Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Dengan demikian, bila gagasan pemindahan pusat pemerintahan, dalam hal ini Istana Negara, diperlukan payung hukum yang memadai.
 
Daerah Muara Gembong, secara geografis berada pada 107° 10'' BT dan 6° 11’’ LS.  Luas daerah Pantai Muara Gembong diperkirakan mencapai 140,09 kilometer persegi. Saat ini terbagi dalam enam kelurahan, yaitu Jayasakti, Pantai Harapanjaya, Pantai Sederhana, Pantai Bahagia, Pantai Bakti, dan Pantai Mekar.
 
Sekitar 60 persen daerah ini termasuk wilayah pantai. Oleh karena itu, investasi selama ini banyak bergerak untuk perikanan. Pada tahun 2017, lahan seluas 830 hektare menjadi target pengembangan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMBH)  untuk usaha tambak udang.
 
Program tersebut merupakan salah satu program unggulan yang disponsori langsung oleh pemerintah Jokowi dan didukung sejumlah BUMN, antara lain oleh Bank Mandiri. Hingga kini, program tersebut masih berlanjut dan menjadi salah satu sumber perekonomian masyarakat di sana.
 
Potensi lainnya adalah pemandangan pantai di sekitar Muara Gembong. Pemandangan pantai yang eksotis menghampar di sepanjang bibir pantai, terutama di sebelah Utara.

Keindahan pantai terasa lengkap dengan adanya pemandangan hutan bakau atau hutan mangrove. Pantai Muara Gembong telah menjadi destinasi unggulan yang bisa mengundang para wisatawan pecinta wisata bahari, baik dari lokal maupun luar negeri.

Kawasan yang disebut Eagle Bay Smart City ini, dengan luas 55.000 hektare atau sekitar 2/3 luas DKI, akan mampu mengatasi kemacetan lalulintas ibukota sejak tahun 1960an secara tuntas

Semua potensi tersebut akan menjadi lebih sempurna lagi apabila berani membuat gebrakan untuk membangun Muara Gembong sebagai kota berskala internasional. Salah satunya, ditandai dengan pembangunan Istana Negara di daerah tersebut.

Semoga kita bertekad bulat di era Presiden Jokowi, Indonesia akan memiliki Istana Negara yang dibangun oleh putra-putri sendiri yang akan menjadi kebanggaan bangsa. 

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?