• News

  • RS Corner

Jangan Hanya di Dada, Lekatkan Garuda Pancasila di Bendera Merah Putih

Bendera Merah Putih dengan lambang Garuda Pancasila.
Istimewa
Bendera Merah Putih dengan lambang Garuda Pancasila.

JAKARTA, NNC - Bendera negara adalah salah satu simbol identitas yang sakral. Demikian pula bendera Merah Putih, kebanggaan rakyat Indonesia. Dua potong kain yang dijahit menjadi satu, tidak lagi hanya berarti kain berwarna merah dan putih, tetapi menjadi lambang kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
 
Ketentuan hukum tentang bendera Merah Putih yang patut dijaga kehormatannya tertuang dalam UUD 1945 Pasal 35, UU Nomor 24 Tahun 2009, dan Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1958. Dengan demikian, bendera Merah Putih tidak boleh disepelekan keberadaannya.
 
Sebagai bangsa berdaulat, tentu tidak menginginkan bila bendera sebagai identitas justru menjadi kabur dan tidak jelas. Salah satu kekaburan yang patut kita renungkan adalah bahwa bendera Merah Putih bukanlah satu-satunya milik Indonesia. Negara Monako, Polandia, Jepang, Singapura, Kanada, dan lainnya, ternyata juga berbendera dengan warna merah putih.
 
Maka, bukan mengada-ada bila bendera Indonesia tersebut patut kita kaji ulang. Bila perlu, diubah menjadi bendera yang tepat, identik, dan khas milik Indonesia. Bendera Indonesia, perlu di-rebranding.
 
Ricky Sutanto, pendiri Blossom Group dan sekaligus pendiri NNC, pada  Kamis (5/7/2018), menyampaikan gagasan dan usulan mengenai rebranding atau penyempurnaan tersebut.

Sebelum membahas gagasan beliau, marilah kita tengok kembali sejarah bendera Indonesia, Sang Saka Merah Putih.
 
Asal Mula Bendera Merah Putih
Bendera Merah Putih dipilih karena mempunyai akar sejarah. Warna tersebut mempunyai arti. Warna tersebut juga pernah dipilih menjadi lambang sejumlah kerajaan di Nusantara saat masih berjaya.
 
Dalam mitologi ras Austronesia atau ras cikal bakal bangsa Indonesia, warna merah putih melambangkan langit dan tanah. Langit melambangkan seorang ibu dan tanah melambangkan seorang bapak. Langit memberikan hujan dan panas, sedangkan tanah memberi makan makhluk hidup.
 
Selanjutnya, pada masa peradaban Hindu-Budha, bendera atau panji merah putih pernah digunakan pada masa Kerajaan Kediri (1042-1222), Singasari (1222-1293), dan Majapahit (1293-1500).
 
Dalam Kitab Pararaton, sekitar 1292 Masehi, Jayakatwang dari Gelang Gelang (Madiun) menyerang Singasari. Dalam penyerangan tersebut, pasukan Jayakatwang membawa panji-panji merah putih. 
 
Sementara itu, menurut Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca, merah putih digunakan selama Majapahit menguasai Nusantara. Puncak kejayaannya adalah masa pemerintahan Hayam Wuruk dengan patihnya Gajah Mada. Saat itu, bendera merah putih berkibar hingga wilayah Kampuchea (Kamboja).
 
Pada masa Kasultanan Islam, bendera merah putih kembali digunakan Sultan Agung (1613-1645). Dalam Kitab Babad Tanah Jawa, saat menyerang Pati, pasukan Sultan Agung membawa panji-panji merah putih.
 
Saat kolonialisme mencengkeram Indonesia, bendera merah putih pernah digunakan pula oleh Sisingamangaraja XII di Tanah Batak. Kala itu, bendera merah putih ditambahi lambang Piso Gaja Dompak yang berupa pedang kembar. Selain di Batak, bendera merah putih juga pernah digunakan oleh Kerajaan Aceh dan Kerajaan Bone.
 
Dan akhirnya, saat dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, bendera pusaka Merah Putih berkibar kembali. Peristiwa itu berlangsung di kediaman Presiden pertama, Ir Soekarno, tepatnya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
 
Kala itu, bendera dikibarkan dengan diiringi lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Sejak saat itu, bendera Merah Putih menjadi lambang resmi negara Republik Indonesia hingga sekarang.
 
Perlu Ditambah Garuda Pancasila
“Merah Putih bukan hanya identitas Indonesia. Monako juga berbendera merah putih. Artinya, bila Anda ditanya, merah putih bendera negara apa? Jawabannya bukan hanya Indonesia. Apa artinya?” demikian rentetan kalimat pembuka perbincangan NNC dengan Ricky Sutanto.
 
“Artinya, Merah Putih tidak lagi identik dengan Indonesia. Dan hal ini masihkah mau dimaklumkan terus menerus? Apakah tidak sebaiknya rakyat Indonesia berani mengubah bendera kita agar murni identik dengan Indonesia dan tak ada duanya?” sambung Ricky.
 
Ada benarnya gagasan Ricky. Hal ini patut kita pertimbangkan. Lalu, bendera seperti apa?

Kata Ricky, “Kita tidak perlu mencari-cari yang belum ada. Semua sudah ada. Persoalannya bukan bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau. Bendera Merah Putih tinggal ditambahi lambang Garuda Pancasila. Jangan hanya dilekatkan di dada kita, namun juga di bendera kita.”
 
Garuda Pancasila adalah lambang negara kita. Di dalamnya penuh simbol dan kaya makna. Semua lambang tersebut tidak perlu diubah lagi, karena memang sudah sesuai dengan identitas negara kita yang bhinneka tunggal ika atau beragam suku, agama, dan budaya namun tetap satu.
 
Menurut Ricky, lambang Garuda Pancasila yang digagas dan dirancang Sultan Hamid II (1913–1978) dan disetujui Ir Soekarno pada 15 Februari 1950 di Hotel Des Indes, sudah sangat tepat. Lambang ini tinggal dipertegas saja, yaitu dengan mencantumkannya dalam bendera Merah Putih.
 
“Bila bendera Merah Putih ditambahi gambar lambang negara Garuda Pancasila, maka bendera kita berbeda dengan bendera Monako. Artinya, khas dan langsung mencerminkan jatidiri negara dan bangsa Indonesia,” demikian argumen Ricky terkait usulan perubahan bendera kita.

Di zaman dulu, screen printing belum populer sehingga banyak negara merancang bendera dari sekadar potongan kain. Namun dengan teknologi printing yang canggih, maka rancangan bendera mampu bervariasi dan indah. Tidak mustahil negara-negara lain akan memanfaatkan screen printing untuk rebranding bendera mereka pada waktu yang tidak lama lagi, mengikuti jejak bendera Indonesia.
 
“Perubahan itu bukan hanya sekadar perubahan, ada arti lebih dalam lagi. Bila berani mencantumkan lambang Garuda Pancasila, maka jelas sudah bahwa Indonesia adalah negara berdasar Pancasila. Tidak perlu lagi ada perdebatan agar menjadi negara agama. Pancasila harga mati,” papar Ricky.
 
Ketika ditanya apa landasan hukumnya? Kata Ricky, “Hukum adalah produk manusia. Bila rakyat memang mau mewujudkan citra Indonesia yang berbudaya dan beridentitas jelas, maka tinggal disusun peraturan dan ketentuannya. Bila perlu, dilakukan amandemen UUD 1945,” tutur Ricky.

Rebranding bendera telah dilakukan oleh banyak negara, seperti Selandia Baru, Australia, Tiongkok, Amerika Serikat, Rusia, Inggris, dan lainnya. Bukan suatu yang baru, rebranding adalah penyempurnaan. 

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?