• News

  • RS Corner

Syair Lagu ‘Indonesia Raya‘ Perlu Direvisi? Ini Alasannya

Lirik lagu 'Indonesia Raya'
Telegraf
Lirik lagu 'Indonesia Raya'

JAKARTA, NNC - “Indonesia Raya” adalah judul lagu kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu, lirik dan syairnya melambangkan jiwa dan cita-cita bangsa Indonesia. Lagu ini lahir dari refleksi perjuangan rakyat Indonesia untuk meraih kedaulatan melalui penggubahnya, Wage Rudolf Soepratman.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 dinyatakan bahwa lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan sebagai “pernyataan perasaan nasional”. Lagu “Indonesia Raya” tidak hanya menjadi pembeda dengan bangsa dan negara lain, lagu ini juga menjadi identitas, jatidiri, dan jiwa bangsa Indonesia.

Menilik kata demi kata dalam syair dan lirik lagu tersebut, ada yang mengusik pikiran. Di mata Ricky Sutanto, salah satu pendiri Blossom Group, beberapa kata dalam lagu tersebut sebenarnya kurang tepat.

Pada Kamis (5/7/2018), Ricky menyampaikan pandangannya kepada NNC. Namun, sebelum kita kupas pemikiran dan usulan beliau, mari kita tengok kembali, sejarah lagu kebangsaan kita tersebut.

Sekilas sejarah lagu “Indonesia Raya”
Dalam buku Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika dengan judul “Bunyi Merdeka, Sejarah Sosial dan Tinjauan Musikologi Lagu Kebangsaan Indonesia Raya” (2017), Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid menyatakan, “Setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dalam imajinasi kebangsaan bersama, hak untuk memetik buah kebudayaan nasional.”

Imajinasi rakyat Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa, agama, dan budaya, akhirnya mampu diabstraksikan oleh WR Soepratman. Ia adalah putra seorang serdadu KNIL, kelahiran Desa Somongari, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Senin Wage, 9 Maret 1903.

Pada 1914, ia mengikuti Rukiyem, kakaknya, ke Makassar. Di kota itu, ia diajari musik oleh suami Rukiyem yang bernama Sastromiarjo alias Willem Mauritius van Eldik. Lewat dialah, WR Soepratman mampu memainkan biola, yang di kemudian hari menjadi alat perjuangan dalam dunia pergerakan.

Tahun 1924, ia kembali ke Jawa. Ia sempat bekerja sebagai wartawan surat kabar Kaoem Moeda, Kaoem Kita, dan Sin Po. Sambil menulis berita, ia mencipta lagu pergerakan. Lagu gubahan pertamanya adalah “Dari Barat Sampai Ke Timur”.

Sekitar 1926, majalah Timboel terbitan Solo, menyerukan para komponis Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Disusul kemudian seruan dari Indonesische Clubgebouw. Menjawab tantangan dan kebutuhan historis tersebut, WR Soepratman menggubah “Indonesia Raya” yang pada subjudulnya dengan terang tertulis “lagu kebangsaan”.

Awalnya, lagu “Indonesia Raya” dimainkan WR Soepratman hanya dengan biola pada saat Kongres Pemuda Kedua berlangsung, pada 28 Oktober 1928. Namun, ternyata instrumen tersebut diterima kaum bumiputra dengan antusiasme luar biasa.

Setelah penutupan kongres, di berbagai pertemuan kaum bumiputra, lagu itu sering disenandungkan melalui siulan. Aksi tersebut membikin gerah pihak kolonial Belanda. Pasalnya, lagu itu berhasil menggugah imajinasi setiap orang untuk dihimpun menjadi satu bangsa (nasionalisme).

Propaganda nasionalisme melalui lagu yang awalnya berjudul “Indonesia” itu, tak lepas pula dari peran WR Soepratman sebagai wartawan Sin Po. Syair dan notasi lagu secara lengkap dipublikasikan Sin Po pada edisi 10 November 1928. Edisi ini dicetak hingga 5.000 eksemplar.

Pada 1930, pemerintah kolonial Hindia Belanda mencekal lagu tersebut, karena dianggap subversif dan mengganggu ketertiban dan keamanan (rust en orde). Lagu tersebut dinyatakan memicu semangat kemerdekaan atau pemberontakan.

Sebelum ditangkap pada 1938, WR Soepratman sempat menggubah beberapa lagu lain, di antaranya “Indonesia Ibuku”, “Di Timur Matahari”, dan “Ibu Kita Kartini”. Sedangkan dalam bidang jurnalisme, ia sempat menulis novel berjudul “Perawan Desa” yang diterbitkan pada 1929.

Novel itu mengisahkan tentang potret kesengsaraan di bawah kolonialisme yang dialami para kuli kontrak di tanah perkebunan Deli, Sumatra Utara. Lagi-lagi, novel tersebut juga dianggap subversif sehingga disita dan dimusnahkan oleh aparat Belanda.

Kontribusi WR Soepratman dalam dunia pergerakan, mahal harganya. Setelah ditangkap dan diinterogasi badan intelijen kolonial (Politieke Inlichtingen Dients), ia dijebloskan ke penjara Kalisosok, Surabaya. Di tempat itu beliau mengalami kelelahan fisik, sakit, dan akhirnya meninggal dunia pada 17 Agustus 1938.

Sebelum nafas penghabisannya, ia menulis secarik surat wasiat, “Selamat tinggal tanah airku, Tanah tumpah darahku, Indonesia tanah berseri, Tanah yang aku sayangi, Selamat tinggal bangsaku!

Perubahan lirik lagu “Indonesia Raya”
Hingga menjadi lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang sekarang kita nyanyikan, baik lirik maupun aransemen lagu asli yang digubah WR Soepratman tercatat mengalami beberapa kali perubahan. Artinya, perubahan lagu “Indonesia Raya” sangat mungkin terjadi bila memang diperlukan.

Perubahan pertama terjadi pada 1944. Mendekati tanda-tanda kemerdekaan, Ir Soekarno mengajak Kusbini membentuk panitia penyusunan lagu kebangsaan dengan menghimpun sejumlah tokoh nasional, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, KH M Masyur, Mr Mohammad Yamin, Sanusi Pane.

Mereka berhasil menyepakati perubahan lirik lagu. Namun, pascakemerdekaan, versi yang dibuat pada 1944 itu tak bertahan lama. Tak ada tata cara menyanyikan lagu “Indonesia Raya” menyebabkan tidak ada keseragaman.

Akibatnya, pada 16 November 1948, Presiden Soekarno mengeluarkan Penetapan Presiden Nomor 28 Tahun 1948 tentang Pembentukan Panitia Indonesia Raya. Panitia berhasil membuat ketentuan tata cara menyanyikan “Indonesia Raya” dalam upacara resmi maupun tidak resmi.

Selanjutnya, pada masa Perdana Menteri Ir Djuanda, keluar lagi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 Tahun 1958 dan Lembaran Negara Nomor 72 Tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”. Dalam ketentuan ini, lirik lagu “Indonesia Raya” sama seperti yang kita nyanyikan hingga sekarang, lengkap dengan tiga stanza.

Kodifikasi terakhir terhadap lagu “Indonesia Raya” adalah melalui UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara. Dalam UU tersebut, diatur mengenai cara menyanyikan stanza pertama hingga ketiga. Saat menyanyikan, wajib dengan sikap berdiri dan hormat, serta lain-lain.

Usulan Ricky Sutanto
Perlu diketahui, Ricky Sutanto adalah seorang warga negara Indonesia yang dalam berbagai pertemuan mengusulkan perubahan nama negara. Menurutnya, bila dirunut secara histori, nama “Indonesia” adalah tidak tepat. Kata itu berasal dari sebutan orang Eropa untuk membedakan daratan Asia lainnya.

Mereka biasa menyebut kepulauan Hindia Timur dengan nama Oost Indie, East Indies, atau Indes Orientales. Jadi, bukan asli lahir dari Indonesia. Namun dalam tulisan ini, tidak ingin membahas persoalan ini. Yang akan kita bahas adalah lagu “Indonesia Raya”.

Menyitir pernyataan Hilmar Farid bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk terlibat dalam imajinasi kebangsaan maka dalam konteks ini pula, Ricky Sutanto mengusulkan perubahan lirik lagu “Indonesia  Raya”. Berikut beberapa usulan beliau.

Pada baris pertama stanza pertama, disuarakan “tanah tumpah darahku”. Dirdho Adithyo dan I Gusti Agung Anom Astika menerjemahkan kata “tumpah darahku” dengan merujuk konsep tentang ibu yang menumpahkan darah (wutah getih) saat melahirkan anak-anak Indonesia.

Kata “tumpah darah” juga merujuk pada salah satu tembang mocopat Jawa yang berbunyi, “Lamun sira dumadi prajurit, nganggo wewaton. Kang sepisan, labuh negarane. Kaping pindho sira kudu eling. Duk nalika lahir. Wutah getihipun”. (Jika engkau menjadi prajurit, pakailah dasar-dasar etikanya. Yang pertama, membela negaramu. Yang kedua, engkau harus ingat. Ketika engkau lahir. Darahnya tumpah).

Ini semacam pengingat kepada setiap orang Indonesia untuk selalu ingat kepada ibu yang telah menumpahkan darahnya bagi kelahiran anak-anak Indonesia dan tempat tinggal ibu. Disederhanakan kemudian oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia menjadi tanah tempat kelahiran atau kampung halaman.

Di mata Ricky, pemilihan kata “tumpah darah” justru memberikan lambang yang tidak baik bagi Indonesia. “Kata itu seperti halnya doa yang diramalkan bahwa Indonesia akan selalu diliputi pertumpahan darah. Itulah yang ikut melahirkan energi negatif,” kata Ricky.

Masih pada stanza pertama, disuarakan “Di sanalah aku berdiri” (nada meninggi), lalu “jadi pandu ibuku” (nada merendah berderap). Sebutan “di sanalah” dan “aku” dipertanyakan oleh Ricky. “Seharusnya menggunakan kata 'di sinilah' dan 'kita'. Indonesia adalah tanah air kita dan di sinilah kita berbakti. Bukan 'aku' dan 'di sana',” jelas Ricky.

Pendapat Ricky memang berbeda dengan penafsiran orang lain. Dalam buku “Bunyi Merdeka”, pilihan kata itu diterjemahkan sebagai sikap WR Soepratman (aku) yang berusaha meletakkan Indonesia (di sana) sebagai bagian dari masyarakat dunia yang sanggup “berdiri” dan tidak tunduk kepada bangsa asing.

Contoh terakhir yang kurang tepat, menurut Ricky, adalah pilihan kata terakhir pada penutupan lagu. Disuarakan “Hiduplah Indonesia Raya”. Menurut Ricky, kata “raya” pada akhir baris penutup tersebut tidak perlu. “Negara kita bernama ‘Indonesia’ bukan ‘Indonesia Raya’. Tidak ada negara di dunia ini bernama ‘Indonesia Raya’. Yang ada adalah Indonesia,” ujar Ricky.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?