Rabu, 24 Mei 2017 | 07:32 WIB

  • News

  • RS Corner

Setelah Bung Hatta, Hoegeng Iman Santosa, Siapa Pemimpin Jujur Berikutnya?

Senin, 17 Oktober 2016 | 17:36 WIB
Ilustrasi: Pemimpin yang jujur (megapixl.com)
Ilustrasi: Pemimpin yang jujur (megapixl.com)

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Saat ini, menemukan sosok pejabat negara yang jauh dari isu suap, perempuan, dan kekuasaan, bagaikan mencari jarum dalam jerami. Susahnya bukan main! Setiap kita mendengar pemberitaan mereka di media massa, isinya berputar-putar pada masalah skandal seks, skandal korupsi, konsumsi obat terlarang, dan skandal-skandal memalukan lainnya. 

Sulitnya Indonesia memiliki orang-orang jujur. Kita semua sepakat kalau sosok Bung Hatta adalah sosok pertama pemimpin yang jujur. Bung Hatta dengan kisah sepatu Bally yang tak terbeli. Sulit membayangkan, istri seorang wakil presiden harus menyisihkan uang pemberian suaminya, hanya untuk membeli mesin jahit. Namun, itulah yang dilakukan Rahmi Hatta, istri wakil presiden pertama Indonesia, Muhammad Hatta itu setiap hari menyisihkan sebagian gaji suaminya sebagai orang nomor dua negeri ini pada waktu itu. Ia hampir gagal mewujudkan impiannya ketika tiba-tiba pemerintah mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan uang) yakni nilai uang Rp. 100 menjadi Rp 1 guna menekan inflasi. Nilai tabungannya menurun, tak mencukupi untuk membeli mesin jahit. Bu 

Rahmi lantas bertanya kepada suaminya,"Lho kok dari kemarin tidak bilang kalau ada sanering?" Dengan enteng Bung Hatta menjawab, "Itu rahasia negara, jadi tidak boleh diberi tahu". Meskipun Sang Proklamator mengetahui kesusahan istrinya, ia tidak bicara sedikit pun jika menyangkut rahasia negara. Seperti istrinya, pemimpin sederhana kelahiran Bukittinggi, 12 Agustus 1902 itu pun punya mimpi yang tidak terbeli hingga akhir hayatnya, sepasang sepatu Bally. 

Bally adalah sebuah merk sepatu terkenal dan mahal pada waktu itu. Pada tahun 1950-an, Bung Hatta berminat pada sepatu itu. Ia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Ia menabung dari waktu ke waktu untuk dapat membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi. Tabungannya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga dan membantu saudaranya. Hingga wafatnya, sepatu itu tidak pernah terbeli, karena memang tabungannya tidak pernah mencukupi unuk membeli sepatu Bally. 

Sementara, guntingan iklan sepatu itu masih tersimpan saat ia wafat. Tak heran jika jutaan orang menangisi kepergiannya.

Sosok kedua adalah Hoegeng Iman Santosa dan kisah polisi tidur. Pria kelahiran Pekalongan, Jawa Tengah, 14 Oktober 1921 ini dikenal sebagai seorang polisi jujur, bahkan hingga menduduki pangkat tertinggi di institusinya. Kasus paling fenomenal adalah saat lulusan pertama Akademi Kepolisian (1952) itu membongkar kasus penyelundupan mobil mewah yang didalangi Robby Tjahyadi atau Sie Tjie It. Penyelundupan ini dideteksi polisi tahun 1969. Pada September 1971, Hoegeng mengumumkan kepada masyarakat tentang keberhasilannya membekuk penyelundupan mobil mewah lewat pelabuhan Tanjung Priok. 

Mobil-mobil itu dimasukan ke wilayah Indonesia dengan perlindungan tentara, dan dilaporkan Ibu Tien Soeharto terlibat pula. Bukan pujian yang didapatnya, melainkan pemecatan dirinya sebagai Kapolri pada tahun itu juga. Sebelumnya, Hoegeng mendapa tawaran untuk menjabat sebagai Duta Besar di Belgia melalui Menhankam Jenderal M. Panggabean. 

Dalam buku yang ditulis Ramadhan KH, diceritakan Hoegeng dipanggil Soeharto. "Lho bagaimana Mas, mengenai soal Dubes itu?" tanya Soeharto. "Saya tak bersedia jadi Dubes, Pak. Tapi, tugas apa pun di Indonesia, akan saya terima. Presiden berkata, "Di Indonesia tak ada lagi lowongan, Mas Hoegeng". Saya pun langsung nyeletuk, "Kalau begitu, saya keluar saja". Mendengar itu, ia diam. Saya juga diam. Mau ngomong apa lagi? Setelah kurang lebih setengah jam pertemuan, saya pun pamit. 

Kejujuran yang dijunjung tinggi, membuat Hoegeng tidak takut pada siapa pun. Pernah, saat memimpin operasi antikebut-kebutan di sekitar Taman Soerapati, Menteng, Jakarta, pada awal 1970-an, Hoegeng berkata kepada anak buahnya. "Tangkap saja anak-anak muda yang nakal itu! Kalau bapaknya sok ikut campur, nanti saya yang akan hadapi sendiri!" 

Jauh sebelum itu, kejujuran mantan Menteri Negara Urusan Iuran dalam Kabinet Seratus Menteri itu diuji saat ditempatkan di Sumatera Utara. Ketika itu, ia diangkat sebagai Kepala Reserse dan Kriminal (Reskrim) di Medan yang terkenal sebagai tempat pedagang Tionghoa yang hobi menyuap pejabat. Namun, Hoegeng tidak bisa disuap. Rayuan perempuan cantik, dunia judi, uang, tidak kuasa menjebol benteng kejujurannya. "Dia teladan," ucap Ali Sadikin singkat mengomentari sosok Kapolri yang pertama menganjurkan helm keselamatan untuk pengendara motor itu. 

Menurut saya, tahun 2017 merupakan momentum mencari pemimpin jujur berikutnya menyusul kedua tokoh jujur di republik ini. Tahun 2016 ini merupakan tahun penting bagi kita semua di dalam memilih pemimpin-pemimpin republik dalam memimpin pemerintahan baik di tingkat provinsi, maupun tingkat kabupaten.

Pilkada Serentak 2017 merupakan barometer politik bagi kita semua apakah kita semua secara jujur memilih siapa pemimpin kita. Sebagai warga sudahkah kita menentukan pilihan yang jujur dalam memilih pemimpin? 

Secara khusus saya mencermati proses Pilkada DKI Jakarta. Mulai dari proses penjaringan calon hingga penetapan dan proses-proses berikutnya. Semua calon Gubernur maupun Wakil Gubernur di hari-hari belakangan ini gencar berkampanye dengan giat mengunjungi konstituen dan mensosialisasikan programnya jika terpilih sebagai pemimpin di kota Metropolitan ini.

Secara leksikal, jujur itu bermakna lurus hati, tidak berbohong, misalnya dengan berkata apa adanya),tidak curang misalnya dalam permainan, dengan mengikuti aturan yang berlaku,  mereka itulah orang-orang yang dan disegani, tulus, ikhlas.

Sementara kejujuran itu merupakan suatu keadaan, jujur menyangkut ketulusan hati,kelurusan hati. Jujur itu merupakan bagian dari integritas dimana merupakan satu kesatuan dan keselarasan antara apa yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan dan dapat dipertanggungjawabkan pada masyarakat maupun Tuhan.

Tidak gampang memang menemukan sosok pemimpin yang jujur dan berintegritas saat ini. Pemimpin tersebut harus selalu konsinten dalam bersikap, bertutur kata dan bertindak dan harus tetap terukur.

Saya sepakat jika kita memilih pemimpin jujur maka pemimpin tersebut secara all out akan berpihak pada rakyat yang memilihnya dan tentu akan menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya. Program-programnya adalah program pro kesejahteraan bagi rakyatnya.

Di dalam memilih pemimpin tentu tidak terlepas dari track record pemimpinnya. Sudahkah pemimpin tersebut berbuat banyak bagi rakyat? Seberapa besar prestasi yang ditorehkan ketika menjadi pemimpin entah pemimpin politik maupun pemimpin bentuk lainnya.

Kita semua tentu sudah mengamati, menonton, maupun membaca apa yang ditontonkan Cagub maupun Cawagub ketika bertemu konstituennya. Mereka selain memaparkan programnya juga mencela, mencemooh apa yang telah dilakukan Gubernur maupun Wakil Gubernur sebelumnya.

Sebagai calon pemimpin tentu mereka pun harus jujur mengakui keberhasilan yang ditorehkan pemimpin yang notabene juga merupakan petahana Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Secara gentle mestinya mereka juga harus mengacungkan jempol bagi pemimpin sebelumnya meski ada kekurangan di sana-sini.

Secara pribadi melalui kolom ini saya jujur mengakui bahwa di era Gubernur Ahok kesejahteraan masyarakat di Jakarta sudah mencolok. UMR tertinggi. Gaji-gaji guru pun tertinggi. Ini merupakan suatu bukti bahwa Gubernur DKI Jakarta itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kali-kali kotor pun sudah mulai bersih, pinggir-pinggir kali sudah dirapihkan. Semua sudah tertib. Pengurusan-pengurusan ijin di DKI berlangsung mulus tanpa pungli. Dan masih banyak hal lain yang dikerjakannya.

Jadi apabila Pilkada Jakarta 2017 nanti terpilih Gubernur baru maka yang pertama saya harap jangan prestasi dulu. Akan tetapi cari yang Gubernur jujur, berprestasi, dan berani dulu. 

Mau pilih siapa pemimpin kita, kalau bukan selain 3 karakter yang saya sebutkan di atas melekat pada diri calon pemimpin itu? Mari kita semua jujur dalam memilih pemimpin kita!

Baca juga: Dicari, Pemimpin Berintegritas yang Menyejahterakan Bangsa

Penulis adalah pengusaha nasional, pemilik kelompok usaha Blossom Group (Blossom Commercial Network) yang bergerak di bidang kontraktor, properti, dan consumer product, mantan calon presiden (Capres) dari PKPI 2014

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?