Senin, 18 Desember 2017 | 12:06 WIB

  • News

  • RS Corner

Bangsa yang Lagi Puber (Bagian 2)

Ilustrasi: Kepulauan Indonesia (Istimewa)
Ilustrasi: Kepulauan Indonesia (Istimewa)

Kunci dan Sandi Hukum Bung Ahok

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Indonesia hari ini adalah Indonesia yang masih terus menyembulkan gumpalan-gumpalan persoalan yang sangat rumit, di berbagai bidang, ekonomi, politik, hukum, dan lain-lain. Kasus hukum Bung Ahok, adalah potret yang paling telanjang dan terang benderang dari segumpal persoalan di tengah berbagai gumpalan persoalan-persoalan itu. 

Adalah kasus hukum itu sendiri, an sich, bahwa hukum kita memang belum berfungsi secara maksimal, alias masih belum dewasa dan matang lewat keputusan-keputusan yang adil dan benar dari perspektif hukum. Hukum yang belum dewasa dan matang adalah hukum yang belum sanggup dalam memerosesi Negara Indonesia menjadi Negara hukum (rechstaat) bukan Negara kekuasaan (machstaat).

Hukum yang belum dewasa dan matang adalah hukum yang masih anak-anak, karena masih jauh dari tujuan hukum yang dapat memberikan keadilan (dispensing justice) kepada segenap rakyat yang memiliki perkara hukum.  Hukum yang hanya bekerja karena iming-iming duit dan materi.

Kata seorang hakim senior di Amerika  Serikat, Rothwax dalam bukunya dengan judul sugestif, Gulty-The Collaps of the Criminal Justice System, bahwa para penegak hukum kerap menggunakan hukum dan pengadilan tidak untuk mencari keadilan, melainkan untuk memperoleh kemenangan.  Karena yang diperjuangkan adalah kepentingan diri dan kelompook.  

Simbol Pubertas Berbangsa

[Baca:Bangsa yang Lagi Puber - Sentakan Kesadaran dari Kasus Hukum Bung Ahok]

Indonesia di usia  72 tahun kemerdekaannya,  suka atau tidak suka, kita harus jujur mengatakan kalau Indonesia masih agak kekanak-kanakkan, atau lebih tepat Indonesia masih sedang mengalami masa-masa puber. Suatu masa yang penuh gejolak adalah simbol pubertas bangsa. 

Ingin merdeka sendiri, atau masih ingin mengubah wajah Negara ini menjadi  wajah agama, bukan berwajah Pancasila, seperti ingin membangun Negara Syariah, atau memberontak sambil ingin merdeka sendiri-sendiri berdasarkan suku dan pulau, tidak lain merupakan cermin diri yang sedang berproses menuju dewasa, alias sedang mengalami masa-masa pubertas.

Pubertas manusia adalah masa peralihan dari anak-anak menjadi dewasa (masa remaja), yang ditandai dengan matangnya organ reproduksi atau pematangan fungsi seksual.  Yang terjadi adalah perubahan fisik dan mental anak laki-laki dan perempuan, karena terjadinya perubahan hormon. Secara biologis, baik laki-laki maupun perempuan, sudah siap membuahi dan dibuahi untuk menciptakan kehamilan pada perempuan. 

Yang terjadi pada laki-laki pubertas, ditandai dengan mimpi basah, perubahan suara menjadi lebih besar, tumbuhnya bulu pada daerah-daerah tertentu.  Sedangkan, wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), dan membesarnya buah dada, dan tumbuhnya bulu pada daerah-daerah tertentu. Mulai muncul rasa tertarik pada lawan jenis.

Dengan perubahan-perubahan itulah yang kemudian memengaruhi emosi seorang anak menjadi tidak stabil, cepat marah, ingin memberontak, bahkan bisa gampang marah, mudah menangis dan tertawa, alias masih sangat labil secara psikis dan mental. 

Lalu, apakah Anda setuju jika dikatakan kalau bangsa ini, di mana masih ada anak-anak negeri yang  gemar memberontak, ingin merdeka sendiri, tidak suka dengan tatanan yang sudah ada, dan seterusnya sebagai ekspresi diri tentang sebuah bangsa yang belum dewasa dan matang?  Anda pembaca bisa saja setuju atau tidak setuju, terserah Anda  menerjemahkannya sendiri. 

Hanya saja kita berharap kalau bangsa kita sudah mulai dewasa, dan hanya segelintir orang saja yang belum matang dalam kehidupannya sebagai bangsa dan Negara Indonesia. Atau, hanya segelintir orang saja yang masih belum stabil secara mental atau psikologis, karena masih mengalami masa-masa pubertas dalam berbangsa dan bernegara. 

Tentu kita harapkan anak-anak bangsa yang masih mengalami masa-masa pubertas dalam berbangsa dan bernegara itu segera meninggalkan masa-masa pubertasnya dan cepat menjadi matang. Kalau tidak mau, kita hanya berpesan, jangan terus mengganggu  saudara dan saudarinya yang sedang berjuang untuk menyejahterakan anggota keluarga besar NKRI. Anda tentu tahu risikonya, terutama bagi Anda-anda sendiri.

Golden Key

Yang diharapkan dari kasus hukum Bung Ahok, yang kemudian memuncratkan aneka macam riak penuh gejolak di sana sini, seperti ingin merdeka sendiri, ingin membangun Negara Syariah, dan lain-lain akibat hukum yang mandul kalau bukan banci, dijadikan sebagai golden key -kunci emas-  yang diperlukan untuk lebih adil dan lebih benar lagi dalam mengambil keputusan hukum. 

Atau, kasus hukum Bung Ahok, hendaknya dijadikan sebagai sandi yang dibelakangnya termuat  setumpuk bahan koreksi untuk menata kehidupan bangsa menjadi lebih baik, khususnya di bidang hukum. 

Atau, kasus hukum Bung Ahok, dapat dijadikan sebagai sandi dan kunci emas bagi pertarungan “passion” para  “gajah” yang gemar bertarung di mana pelanduk-pelanduk kecil yang sedang puber terus mati di tengah-tengahnya sebagai tumbal yang sia-sia. 

Semoga tidak! (Habis)

Penulis adalah Pemimpin Umum Netralnews.com 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?