• News

  • RS Corner

Teror Bom dan Matinya Kemanusiaan

Ilustrasi: Teror bom (Istimewa)
Ilustrasi: Teror bom (Istimewa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Indonesia hari ini, bahkan juga dunia,  tidak henti-hentinya disergap berbagai macam kekerasan berdarah. Teror bom, konflik sosial, bahkan perang, seperti tidak pernah hengkang dari planet bumi ini. Manusia seolah selalu berada di ujung laras senjata.

Kita bertanya, mengapa semua itu bisa terjadi di zaman modern yang dikatakan semakin beradab? Mengapa manusia yang dikatakan sebagai makhluk yang bermartabat, dapat saling memangsa dan saling menghabiskan?

Pertanyaan, apakah ini pertanda telah matinya kemanusiaan atau humanisme di planet bumi? Atau, apakah humanisme telah gagal membawa perbaikan pada peradaban manusia? Atau, apakah manusia mampu mengendalikan peradaban agar berkembang ke arah yang lebih baik? Apakah perang, terorisme, dan aneka kekerasan dapat diakhiri?

Perspektif Psikoanalisa

Sigmund Freud dengan psikoanalisanya, jauh-jauh hari sebenarnya telah menjelaskan subtansi persoalan ini dan dikatakannya sebagai bentuk identifikasi diri untuk mendapatkan kemenangan dan “kehidupan baru”. 

Fisikawan kenamaan Albert Einstein pernah bertanya kepada ahli psikoanalisa Sigmund Freud mengenai perang dan aneka kekerasan berdarah yang terus terjadi, dengan pertanyaan, Is there any way to free people from the spector of war and violence? Adakah jalan menghindari umat manusia dari kebrutalan perang  dan kekerasan?

Pertanyaan yang menarik dan sangat esensial itu, dijawab oleh Freud dengan sebuah tesis yang sangat terkenal yang sering dikutib orang, yaitu mengenai dua insting yang sangat kontraproduktif dalam diri manusia, insting kematian (dead instinc) dan insting kehidupan  (eros). 

Perang atau teror bom atau aneka kekerasan atau konflik berdarah, menurut Freud merupakan insting kematian yang telanjang. Dan perang atau konflik berdarah atau terorisme yang berujung kematian yang mengerikan, dipengaruhi oleh faktor-faktor patologi psiko-sosial dan patologi ekonomi-politik terhadap perkembangan insting-insting tersebut. 

Dalam hal ini, pendekatan psiko-sosial mengenai nekrofilia dan biofilia bisa dijadikan rujukan yang dapat membantu kita untuk bisa memahami fenomena paranoia yang dimotori para pelaku tindak kekerasan. Bahwasanya, hasrat berperang atau hasrat membunuh sebenarnya selalu berada pada kutub kematian (nekrofilia), yang bercokol pada masyarakat maju bernaluri purba berbalut peradaban barbar.

Istilah nekrofilia sendiri berasal dari bahasa Yunani, nekros berarti jasad atau penghuni kubur. Dalam bahasa Latin, nex berarti kematian paksa atau pembunuhan.Filia (philia) berart cinta.Erich Fromm dalam The Anatomy of Humman Destructiveness (1978) secara sangat menarik mengupas masalah nekrofilia itu, dan mendefinisikannya sebagai berikut, “Ketertarikan kuat terhadap segala sesuatu yang mati, membusuk dan menghancurkan. Ia memiliki hasrat untuk membunuh dan menghabiskan.”

Sebaliknya, ada biofilia yang merupakan lawan nekrofiia. Biofilia berasal dari kata bio yang berarti kehidupan. Fromm mendefinisikan sebagai “kecintaan terhadap kehidupan dan segala yang hidup. Ia berhasrat untuk menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan yang berbingkai piranti cinta”. 

Perilaku perang dan hasrat membunuh, disebabkan oleh telah matinya insting kehidupan, dan yang ada hanyalah insting kematian, pencinta kubur.  Menurut Anthony Giddens, modernitas yang menyuburkan budaya individualisme, akan menggiring masyarakat kepada sikap yang membunuh insting kehidupan, dan yang berkembang adalah insting kematian. 

Menumbuhkan Insting Kehidupan

Maka, yang dibutuhkan oleh masyarakat bangsa saat ini, di tengah tidak henti-hentinya teror bom dan aneka kekerasan yang mengekspresikan budaya barbar, adalah usaha yang terus-menerus untuk menumbuhkan insting kehidupan di tengah masyarakat.  Masyarakat harus diarahkan untuk saling membangun insting kehidupan dengan terus menumbuhkan peradaban luhur. 

Kehidupan ekonomi, sosial dan politik harus diciptakan sebaik mungkin untuk menghilangkan ruang-ruang bagi tumbuhnya insting kematian, dan memungkinkan tumbuhnya insting kehidupan. Karena iri, dengki, cemburu, dan lain-lain akibat ketiakberesan dalam kehidupan ekonomi, sosial dan politik adalah bibit yang bersenyawa di dalam segala insting kematian itu.  

Inilah tugas para pemimpin bangsa dan Negara! Khususnya soal Polri, masyarakat sebenarnya sudah cukup puas dengan kesigapannya mengungkap kasus pemboman dalam hitungan jam. Profesionalisme Polri, memang dapat diacungkan jempol oleh masyarakat dalam kasus ini, dan juga kasus-kasus teror bom lainnya. 

Namun, yang tentu sangat diharapkan adalah prestasi Polri dalam pencegahannya. Itu untuk menghindari jatuhnya korban nyawa secara sia-sia. Lebih daripada itu, untuk menutup ruang bagi tumbuhnya insting kematian dalam diri para warga yang haus darah.

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?