• News

  • RS Corner

Kenapa Sulit Hidup Bersama dalam Perbedaan? (Sebuah Renungan)

Ilustrasi: Hidup bersama dalam perbedaan (Istimewa)
Ilustrasi: Hidup bersama dalam perbedaan (Istimewa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Keanekaragaman di planet bumi ini, sudah merupakan sebuah keniscayaan. Keanekaragaman juga sebenarnya merupakan sebuah anugerah terindah dari Sang Pencipta. Sehingga, keanekaragaman itu bukan saja tidak mungkin dan tidak akan bisa ditolak keberadaanya, melainkan menolaknya adalah sebuah kekonyolan. 

Keanekaragaman itu  bukan hanya pada manusia dengan segala aspek yang melingkupinya, seperti aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, agama dan lain-lain, tetapi juga dalam keanekaragaman hayati; flora dan fauna. Hewan berjenis-jenis, tumbuhan berjenis-jenis, bahkan benda mati pun bermacam-macam. 

Untuk manusia, khususnya, bukan hanya ada laki-laki dan perempuan, tetapi juga ada ribuan suku bangsa, bahasa, warna kulit, dan lain-lain.Dan semua itu diciptakan oleh karena kebesaran Ilahi, bukan karena kita memintanya. Kehadiran setiap manusia di muka bumi juga bukan karena salah bunda mengandung. Seperti, seseorang itu, tidak pernah meminta dirinya dilahirkan sebagai  orang Jawa, orang Batak, orang Dayak, orang Flores, orang Papua, orang Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, Brasil, Tiongkok, Jepang, dan seterusnya. 

Rekonstruksi Perbedaan

Karena sesuatu yang ada itu diciptakan langsung oleh Sang Pencipta, maka kehadiran seseorang atau sesuatu itu hanya bisa diterima dengan rasa syukur. Di balik rasa syukur itu, terkandung pula rasa tanggung jawab untuk memeliharanya. Agama yang berbeda sebagaimana juga  suku yang berbeda, harus diterima dan saling merawat, saling membina dan saling menumbuhkembangkannya.

Menjadi sesuatu yang aneh jika realitas pluralis itu bukannya diterima untuk saling memperkaya, melainkan malah dijadikan sebagai sumber prasangka yang berujung pada lahirnya aneka macam konflik. Tragisnya, konflik itu kerap berjalan dalam frekuensi yang cukup tinggi dan mendapat semacam justifikasi sebagai sesuatu kemestian. Padahal, konflik itu sebenarnya karena benturan kepentingan akibat egoisme pribadi. Maka, keharmonisan dalam kebersamaan pun tersingkirkan.

Lalu, apa yang harus dilakukan, tidak lain adalah merekonstruksi kembali keberagaman atau pluralisme dalam bingkai pemahaman yang lebih pas. Perlu dilakukan penyadaran yang terus-menerus dengan pendekatan teologis atau keagamaan, bahwasanya keberagaman itu tidak bisa tidak harus diterima untuk saling memelihara, saling menghargai dan saling menumbuhkembangkan.

Bahwasanya, dengan saling menerima dan saling menghargai, semua yang ada dalam perbedaan itu dapat berkembang menuju tahapan kehidupan yang lebih baik. Adalah kehidupan yang saling memperkaya satu sama lain. 

Itulah landasan moral dan etis dalam menjalankan kehidupan di planet bumi ini. Itu pula sebenarnya komitmen bersama dalam keindonesiaan kita, tatkala Negara ini dimerdekakan dan  didirikan. Bahwa cita-cita bersama para pejuang melawan penjajah adalah ingin membangun kehidupan bersama yang adil dan sejahtera. 

Belajar Hidup dalam Perbedaan

Oleh karena itu, tidak ada jalan lain yang lebih mulus dan cara hidup yang lebih indah, selain terus belajar untuk menerima perbedaan dan tak henti-hentinya  meramu kebersamaan dalam perbedaan itu. Adalah belajar bertoleransi, saling menghargai dan saling menghormati, alias saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. 

Ibarat tangan kanan harus menerima tangan kiri, meski tangan kiri terasa kurang berfungsi kerena tidak bisa menulis, atau karena terserang rematik atau struk. Atau, mata kiri lebih kecil daripada mata kanan, tetapi harus saling menerima dan saling membantu untuk lebih terang melihat obyek yang diinginkan.

Artinya, bukankah sehebat  apa pun ilmu kedokteran dan secanggih apa pun teknologi medika, tetap di bawah mikroskop tidak bisa membedakan darah dari suku mana, agama apa, jenis kelamin dan sebagainya, karena semua itu adalah ciptaan Tuhan, yang hanya bisa diterima dengan rasa syukur, dan menyangkal perbedaan sama saja dengan tidak menerima Tuhan? 

Selebihnya, kehebatan budaya atau  etnis serta keunggulan religiositas apa pun yang dibanggakan dari setiap entitas etnis atau agama, akan menjadi sia-sia  jika tidak ada keikhlasan dan keinginan dari masing-masing entitas untuk belajar bersikap secara tepat dalam perbedaan. 

Artinya, yang diperlukan adalah keseriusan dan keikhlasan untuk terus belajar menjadi warga yang pluralis atau beranekaragam. Di situlah kecerdasan dalam hidup bersama. Atau, kata seorang pluralis Chung Hyung, bahwa pluralisme merupakan posisi yang paling tercerahkan saat berhubungan dengan entitas-entitas lain dalam perbedaan. 

Sehingga, dengan belajar menjadi warga pluralis, atau menjadi warga yang beranekaragam, dan berlandaskan pada toleransi, saling menghargai dan saling menghormati terhadap masing-masing entitas, suku, agama, budaya, semua entitas yang ada akan sampai kepada kebahagiaannya. 

Kehormatan, keagungan, kemuliaan, dan kebersahajaan bangsa akan semakin terbentuk ketika segenap warga bangsa yang beranekaragam itu semakin saling menerima, saling menghargai dan menghormati atau saling bertoleransi dalam perbedaan. Semoga!

Namun, di atas semua itu, ada satu hal yang mengganjal dalam pikiran penulis, tentang alasan kenapa kita saling memusuhi satu sama lain, atau kenapa kita masih sulit hidup bersama dalam perbedaan? Di bawah ini saya cuplik ungkapan Gus Mus (KH.A. Mustofa Bisri) yang bisa menjadi renungan bersama.

Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan

Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda

Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda

Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda

Aliran sama dimusuhi partainya beda

Partainya sama dimusuhi karena pendapatnya beda.

Apakah kamu mau hidup sendiri di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?

 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?