• News

  • RS Corner

Mengobati Luka Jakarta,"Eagle Bay City" Sebuah Solusi (Bagian 1)

Ilustrasi: Eagle Bay City (Istimewa)
Ilustrasi: Eagle Bay City (Istimewa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa minggu lalu, saya menulis di Netralnews dengan judul, “Kapan Indonesia Punya Istana Negara”. Sebelumnya,saya juga menggelindingkan sejumlah ide tentang bagaimana  bangsa ini dibangun untuk menjadi  Negara terkaya nomor 5 dunia. Seperti ide tentang Garden of Prayer, Harmony World Resort dan Eagle Bay City.

Dan bagaimana menciptakan Indonesia menjadi Negara terkaya nomor 5 dunia tersebut, saya sudah menulis  sebuah buku kecil, tetapi cukup diminati para penggemar buku, yaitu dengan judul, “2015 Kita Terkaya No.5”.

Dan untuk  menyempurnakan, sekaligus  memperluas cakrawala tentang bagaimana menciptakan Indonesia menjadi Negara terkaya nomor 5 dunia, saya menulis lagi sebuah buku yang kini sedang dalam proses perampungan, dengan judul, yang masih bisa diubah, yaitu "Indonesia 2030, Menjadi Negara Terkaya Nomor 5 Dunia".  

Supaya dengan demikian, pemikiran tentang bagaimana menciptakan Indonesia menjadi Negara terkaya nomor 5 dunia akan lebih runtut, dan solusi yang hendak dikerjakan juga akan lebih bervariasi dan strategis. Dan itu pun harus dikerjakan secara serius, dengan pemimpin yang cerdas, inovatif dan berani.

Namun, esai bersambung ini, tidak mengulas soal isi buku  tersebut. Esai ini lebih menawarkan sebuah jalan keluar atau solusi untuk menyembuhkan luka Jakarta, yang menurut penulis, Jakarta sedang mengalami penderitaan yang mengerikan dan di sana ini wajah dan tubuhnya penuh dengan luka yang harus segera diobati. 

Jakarta yang Penuh Luka

Beberapa tahun lalu, Jakarta, sebagaimana penulis ingat, Castrol Magnated Stop-Start Index, mengukuhkannya sebagai kota termacet sejagat melebihi Istambul, Turki dan Mexico City. Padahal, selama beberapa dekade sebelumnya, Istambul, Turki dan Mexico City, dikenal sebagai kota-kota termacet di dunia. 

Ironis bagi Jakarta adalah bahwa ibu kota Negara ini, bukan hanya terkenal dengan kemacetannya, tetapi juga banjir yang telah menjadi langganan setiap kali musim hujan tiba. Kemacetan dan banjir lalu menjadi dua masalah yang sangat besar, serius dan rumit. 

Apalagi, masih ada masalah-masalah lain yang tidak salah mengerikan, seperti kriminalitas, pengangguran, kekurangan air minum di musim kemarau, tata ruang kota yang semakin tidak seimbang, seperti menjamurnya supermarket, apartemen, kondominium yang menjulang tinggi, dan daerah pemukiman warga yang tidak berubah, bahkan semakin kumuh. 

Mengenai  kemacetan misalnya, bisa diuraikan begini, dengan panjang jalan 7.650 km dan luas 40,1 persegi dengan penambahan hanya sekitar 4 sampai 5 persen pertahun, Jakarta harus mengakomodasi kebutuhan transportasi penduduknya yang menggunakan jalan raya sekitar 12 juta lebih. Pada  tahun 2003  dalam catatan penulis, Jakarta sudah dijejali 615 juta unit kendaraan bermotor. Dan angka meningkat lebih dari 10 persen pada tahun 2014 hingga mencapai 8 juta unit. 

Selanjutnya coba dihitung, berapa kerugian yang diderita dari sisi kemacetan di jalan raya, baik dari aspek ekonomi, maupun sosial dan psikologis warga.  Secara ekonomi sendiri, oleh Masyarakat Transportasi Indonesia ditafsir terjadi pemborosan sekitar 9,5 triliun pertahun. 

Kerugian ekonomi itu dapat ditakar dari pemborosan bahan bakar di jalan, waktu yang terbuang habis, jika dikonversikan dalam uang, ketekoran penghasilan para sopir angkot dan bus juga mobil pribadi, onderdil kendaraan yang rusak, dan produktivitas kerja yang menurun.

Kita bisa lukiskan seperti ini, bagaimana seorang karyawan bisa bekerja produktif kalau dua jam sebelumnya dibanting-banting di dalam bus umum atau bergencet-bergencet atau berdiri dijepit kerumunan manusia dalam kereta api, seperti ikan sardensis. Lalu, bagaimana dengan intangible cost yang diderita pengguna jalan. 

Lebih jauh lagi, bukankah begitu banyak warga Jakarta dan sekitarnya mengalami gangguan kesehatan mentalnya akibat berbagai macam problem yang dihadapi di Jakarta? Apakah ada data yang menjelaskan kerugian psikologis yang diderita oleh para warga?

Jelasnya, sudah begitu banyak warga yang mengalami luka bathin akibat menghadapi berbagai permasalahan di Jakarta.  Sebuah kondisi yang oleh  Prof John Rennie dalam bukunya Urban Theory of Critical Assesment, melukisan wajah kota-kota modern yang penuh luka. 

Solusi Sementara

Solusi-solusi  seperti Three in One, atau Ganjil genap untuk mengatasi kemacetan, itu dapat saja dilakukan, tetapi sebenarnya hanyalah solusi akal-akalan yang hanya memindahkan kemacetan dari satu tempat ke tempat lainnya.  

Atau, solusi mengatasi banjir yang hanya memperbaiki kanal yang mampet, juga hanyalah solusi tambal sulam dan sangat temporal dan sementara. Lalu, bagaimana solusi yang lebih tepat?  

Penulis dalam beberapa minggu lalu menawarkan pemindahan istana Negara. Bagaimana itu bisa direalisasikan. Dalam esai bersambung kali ini, ide Eagle Bay City, dapat dikembangkan menjadi ide besar yang dapat dilakukan atau direalisasikan dengan langkah-langkah yang lebih terencana dan strategis. (Bersambung…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?