Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:33 WIB

  • News

  • RS Corner

Indahnya Hidup Bertoleransi di Indonesia (Bagian 1)

Pemuka agama, Paus dan salah satu pemuka agama Islam sedang berdoa menurut agama masing-masing (naijaonpoint)
Pemuka agama, Paus dan salah satu pemuka agama Islam sedang berdoa menurut agama masing-masing (naijaonpoint)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hidup ini harus dijalankan dengan senang hati. Kuncinya, segala sesuatu yang dialami dan dikerjakan, harus dikemas dan diramu secara menarik.  Jika sudah menarik pasti keindahan itu muncul. Maka hidup ini pasti terasa dan terlihat sangat indah. Kalau sudah demikian, segala sesuatunya pasti menyenangkan.  

Indonesia terkenal dengan jagonya meramu dan mengemas segala sesuatu sehingga menjadi menarik, bahkan enak jika dinikmati. Jagonya orang-orang Indonesiadalam meramu dan mengemas segala sesuatu itu, jika diadu atau dipertandingkan dengan bangsa-bangsa atau Negara-negara lain, penulis yakin Indonesia pasti akan keluar sebagai pemenangnya.

Contoh yang paling tepat untuk itu adalah dalam hal mengemas dan meramu segala jenis masakan di Indonesia, khususnya sayur-sayuran dan aneka macam bumbu makanan. Coba Anda perhatikan, jelas sekali bahwa Indonesiamemiliki aneka macam masakan sayur-sayuran. Dalam satu jenis atau porsi sayur yang dibuat para ibu orang Indonesia, terdapat berbagai macam jenis bahan yang digabungkan dan/atau dicampur aduk. 

Belum lagi bumbu-bumbu dalam sayur atau masakan yang dibuat orang-orang Indonesia, terutama para ibu di Indonesia. Dalam satu jenis bumbu yang dibuat ole para ibu, terdapat begitu banyak jenis bahan masakan yang dicampur aduk, misalnya, cabe, tomat, garam, bawang, lada, pala, garam, dan lain-lain. 

Intinya, Indonesia sangat jago dalam meramu semua itu.  Sehingga, jika masakan-masakan itu dinikmati, akan terasa  enak, dan sungguh enak. Dan akan tidak enak dinikmati jika dimakan satu persatu, dan tidak dicampur aduk. Coba nikmati masakan yang disebut gado-gado, pasti enak, karena terdiri dari aneka macam jenis bahan makanan.   

Cermin Keanekaragaman Bangsa

Apakah Anda pernah melakukan penelitian atau perenungan tentang betapa besarnya bakat orang Indonesia dalam meramu dan mengemas masakan dalam berbagai jenis, sehingga terasa enak untuk dinikmati? Atau, mengapa masakan di Indonesia selalu beraneka ragam atau terdapat berbagai macam jenisnya? 

Dan menariknya Indonesia begitu berbakat dalam meramu aneka macam jenis masakan itu, terutama sayur-sayuran. Dan bakat-bakat itu, benar-benar merupakan bakat-bakat alami. Dan seluruh masyarakat bangsa atau suku-suku di Indonesia, dapat dikatakan jagonya dalam meramu segala jenis masakan itu. 

Dimana rahasianya? Apa simbol dan cermin dari semua itu? Jawabannya, itu adalah cemin sekaligus simbol dan ekspresi dari kemajemukan bangsa Indonesia sendiri. Bumbu-bumbu dapur yang beragam, juga jenis-jenis masakan yang beragam, terutama sayur-sayuran, tidak lain, secara sadar atau tidak adalah cermin dari keanekaragaman bangsa ini. 

Coba amati masakan-masakan dari Negara-negara lain yang mungkin atau pasti banyak di antara pembaca atau Anda sudah menikmatinya. Coba ingat atau pelajari sendiri. Apakah masakan yang ada di Negara-negara lain beranekaragam seperti  yang ada di Indonesia?  Jelas tidak. Di Negara lain, dalam satu masakan tidak terlalu banyak campurannya seperti dalam masakan Indonesia. Dan semua suku di Indonesia memiliki masakah yang beraneka ragam pula.

Sebenarnya, Indonesia  yang memiliki aneka ragam suku, agama, ras dan antargolongan itu, dilahirkan pula bakat-bakat alami untuk meramu dan mengemaskan menjadi sebuah kebersamaan yang menarik dan indah serta menyenangkan. Dan jika disimak dan dipelajari, masyarakat dan bangsa Indonesia memang memiliki bakat dan kesanggupan dalam meramu dan mengemas kemajemukan bangsa menjadi sangat menarik, indah dan menyenangkan. 

Pertanyaannya, kenapa orang-orang Indonesia, terutama ibu-ibunya begitu berbakat dan memiliki kesanggupan dalam meramu  jenis-jenis masakan? Jawabannya, selain karena bakat alami seperti telah disinggung di atas, juga karena adanya keinginan dan kemauan yang kuat untuk terus menciptakannya supaya bukan saja enak dilihat, tetapi terutama untuk enak dinikmati. Dan orang pun tidak bosan makan.

Pertanyaan susulan adalah mengapa kita kadang-kadang begitu sulit meramu kebersamaan kita dari aneka macam jenis suku, agama, ras dan antargolongan itu menjadi sebuah postur keindonesiaan yang benar-benar bersatu dan bersama dalam keberagaman?  Kenapa kita belum sejago ibu-ibu kita dalam meramu keanekaragaman suku dan agama serta ras dan antargolongan di negeri ini?

Sebenarnya, keberanekaragaman bangsa Indonesiayang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan antargolongan itu, jika diramu dalam pergaulan antarsesama yang serasi, maka keindahan dari kebersamaan itu jelas dapat terlihat dan dapat dirasakan. Dan itulah yang kita inginkan. 

Cara Meramu Kebersamaan

Masalahnya, adalah bagaimana kita meramu kebersamaan dalam kemajemukan bangsa yang sudah diciptakan dan disediakan oleh Yang Maha Kuasa itu, sehingga disonansi dalam keanekaragaman yang tidak beraturan itu menjadi sebuah konsonansi yang teratur, serasi dan harmoni? Ini penting karena kebersamaan yang memadukan kemajemukan itu jika dikelola dengan baik, Ia bukan hanya terdengar merdu tetapi juga terasa indah dan sangat menyenangkan. 

Dan kebersamaan dalam kemajemukan itu, hanya bisa terbangun jika masing-masing kelompok suku, agama, ras dan antargolongan itu memiliki perilaku etis yang terpuji dalam masyarakat, dan yang dilandasi dengan suatu kesadaran moral yang tinggi dari segenap anggota masyarakat itu. 

Dengan kesadaran moral, seseorang atau kelompok-kelompok masyarakat dapat menyelami keindahan toleransi. Dengan kesadaran moral, seseorang dapat dengan rela dan bersedia “berkorban” menerima dengan sepenuh hati kekurangan dan kelebihan orang atau kelompok lain. Dengan kesadaran moral pula, akan terlahir tolerasi yang hakiki, di mana setiap orang atau kelompok dapat bergerak melampaui formalitasnya demi kehadiran kelompok lain.

Mengapa demikian?  Jawabannya, karena toleransi mensyaratkan semacam pengorbanan untuk sesama. Pengorbanan dalam bertoleransi seperti itulah yang dulu di zaman bapak-bapak bangsa, dipakai untuk mengukuhkan cita-cita persatuan bangsa dan Negara. Dengan bertoleransi, kehadiran orang lain dijadikan sebagai sarana produktif untuk membangun bangsa dan Negara yang aman, damai dan harmonis.

Bangsa yang bertoleransi tinggi dalam kebersamaan yang serasi dan harmonis, adalah cermin diri dari bangsa yang besar, agung dan mulia dan kredibel. Bangsa yang kredibel akan sangat disegani dan dihormati bangsa-bangsa lain di dunia.

Dan kita memiliki potensi dan modal sosial untuk menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain di dunia dalam hal kemajemukan. Dan kita yakin suatu saat bangsa-bangsa di dunia berpaling ke Indonesia untuk mencontohi kehidupan yang majemuk dan bertoleransi tinggi itu. Ya, semoga dan yakin! (Bersambung…)

 

 

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?