Minggu, 23 Juli 2017 | 21:40 WIB

  • News

  • RS Corner

Indonesia sebagai Pusat United World Ethics-UWE (Bagian 4)

Ilustrasi: Ethics
Istimewa
Ilustrasi: Ethics

Membangun Dunia, Dimulai dari Suku-suku Nusantara

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebagaimana diuraikan secara panjang lebar di tiga tulisan sebelumnya, soal bagaimana kesejahteraan dan perdamaian dunia dibangun dan ditatakelola dengan baik dan benar. Terutama bagaimana kesejahteraan dan perdamaian dunia dibangun di tengah ketidakadilan yang terus menyeruak. Juga bagaimana membangun suatu dunia yang adil di tengah peran PBB yang tidak berjalan secara maksimal dalam menciptakan keadilan dan kesejahteraan dunia. 

Memang, sangat sulit membangun suatu dunia yang adil di tengah pluralisme bangsa-bangsa di dunia yang tidak terbatas. Maka, menurut hemat penulis, sangat diperlukan suatu tatanan dunia yang baru dengan jalan menciptakan dan membangun suatu etika dunia yang baru yang mencakupi Negara-negara dunia. Ini bukan suatu lembaga dunia yang baru yang bermaksud menyaingi PBB atau menggantikan PBB, tetapi suatu etika baru yang lebih memusatkan pada penciptaan kesejahteraan segenap bangsa di dunia. 

Mengapa diperlukan suatu etika baru? Jawabannya, karena masalah kemiskinan, ketidaksejahteraan, ketidakadilan, konflik, dan sebagainya bersentuhan atau berkaitan dengan masalah-masalah moral. Dan semua Negara dan bangsa-bangsa di dunia memiliki tanggung jawab moral bersama untuk mengatasi semua kepincangan itu.  

Indonesia sebagai sebuah Negara dan bangsa yang besar di dunia, negara bangsa yang sangat majemuk di dunia, jumlah muslim terbesar di dunia, dan seterusnya, tentu memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk mengatasi masalah-masalah itu. Maka, Indonesia – menurut penulis, bisa menawarkan diri untuk membangun suatu etika baru, yang menyankut etika global, yang dapa disebut sebagai United World Ethics atau UWE.

Adalah membangun suatu dunia baru yang lebih sejahtera, yang dimulai dari Indonesia. Mengapa? Esai yang keempat ini mencoba menjelaskannya.

Pluralisme moral

Sekali lagi mengapa etika global, atau mengapa United World Ethics? Karena dalam dunia modern yang ditandai oleh globalisasi, maka diperlukan suatu tata kelola hidup negara bangsa yang etis. Dalam hal mana, dalam pandangan bangsa-bangsa di dunia yang beragam, yang tentu saling bertentangan satu sama lain, maka yang diperlukan adalah satu etika dengan refleksi kritisnya yang bisa membantu mengatasi perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan itu. 

Etika yang dibangun dalam bingkai United World Ethics tersebut lebih pada etika sosial, yaitu eika yang bersifat sosial, yang mencakupi kewajiban sosial sebagai masyarakat. Mengapa etika yang bersifat sosial? Karena etika sosial membicarakan hubungan antara manusia, hubungan antarabangsa-bangsa di dunia. 

Dengan demikian, etika sosial juga mencakupi hal-hal yang membahas masalah-masalah aktual zaman ini. Zaman yang kehidupan masyarakatnya serba pincang oleh ketidakadilan, kemiskinan, dan seterusnya, adalah tugas etika untuk mengatasinya. 

Mengapa Indonesia? Karena Indonesia memiliki watak melindungi dan mengayomi serta menyejahterakan sebagaimana termaktub dan teramanatkan dalam UUD’45.  Dalam UUD’45 mengatakan bahwa tujuan didirikannya negara adalah untuk melindungi warga negara dari berbagai aspek atau bentuk kekerasan, ketidaknyamanan atau lainnya, to protect its people from violence and other kinds of harmful acts. 

Karena itu, Indonesia juga merupakan sebuah negara etis. Negara etis, jelas berorientasi pada kepentingan rakyat seluruhnya, tanpa kecuali. Negara etis hakikatnya selalu berpihak pada ihak-pihak yang lemah dan yang lebih membutuhkan perlindungan dan kesejahteraan. Dan sikap tersebut merupakan perwujudan moral negara.

Dalam hal ini, negara-negara bangsa di dunia membutuhkan bukan hanya pengaturan sistem pengawasan ekonomi atau tata ekonomi baru, melainkan peletakan ulang tata moral dunia baru. Di situ, dibutuhkan bukan hanya suatu bangunan etis sebuah lembaga, melainkan suatu tindakan-tindakan tegas yang penuh etika. 

Artinya, diperlukan tatanan moral baru, dengan wadah etika baru, seperti United World Ethics. Di situ, lembaga etika baru itu yang yang dimaksud, bukan sekadar memberikan pedoman dalam tatanan hidup masyarakat, seperti kebaikan, kejujuran, dan keadilan yang sangat universal sifatnya, melainkan bangunan eika yang lebih progresif, untuk bisa mengatasi segala kepincangan dalam hidup bersama antarbangsa-bangsa di dunia.

Lembaga etika baru itu untuk bisa mendorong lahirnya tata moral baru. Adala sebuah lembaga etika yang dapat menjadi cermin moral etis kehidupan bagi semua. Supaya dari situ dapat lahir sebuah tata moral baru. Adalah etika yang dapat mengarahkan perilaku hukum di antara penguasa dan para penegak hukum untuk bisa menggunakan pedang hukum di tangannya untuk bisa menebas segala bentuk ketidakadilan sekaligus sebagai corong bagi terciptanya keadilan dan kesejahteraan yang memadai publik bangsa-bangsa di dunia. 

Dimulai dari Suku-suku Nusantara

Mengingat jasa kemerdekaan bangsa Indonesia terbangun dari seluruh suku-suku di Nusantara, sekaligus suku-suku merupakan wadah dan kekuatan budaya dan peradaban di Nusantara ini, maka etika global yang terbangun dalam sosok United World Ethisc dimulai dan berpijak pada suku-suku Nusantara yang jumlah nya mencapai lebih dari 350 etnis.

Dan perlu diingat dan dicatat bahwa spirit dalam kehidupan berbangsa dan bernegara itu dimulai dan tercermin dalam suku-suku yang berada di seluruh pelosok Nusantara itu. Ini juga mencerminkan keanekaragaman bangsa. Suku-sukulah yang memiliki spririt agung dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Dan suku-sukulah yang membentuk negara bangsa yang bernama Indonesia. 

Maka, ia menjadi fondasi bangsa Indonesia, sekaligus menjadi fondasi dalam tata kelola kehidupan bangsa-bangsa di dunia. Dan Indonesia memiliki prasyarat untuk itu, dimana selanjutnya menjadi prasyarat bagi terbangunnya suatu etika global yang terwujud dalam United World Ethics yang dimaksud.

Untuk itu, mari kita bangun kebersamaan dalam kehidupan bangsa-bangsa di dunia lewat United World Ethics. Supaya kebersamaan dalam kemajemukan dan kesejahteraan serta keadilan dunia dapat dan cepat terbangun dan terwujud.

UWE untuk kesejahteraan. Semoga!

Baca juga:

Membangun Dunia Dimulai dari Indonesia (Bagian 1)

Membangun Dunia Dimulai dari Suku-Suku Nusantara (Bagian 2)

Krisis Kapitalisme Etis dan United World Ethics (Bagian 3)

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?