Selasa, 24 Oktober 2017 | 03:44 WIB

  • News

  • RS Corner

Menapaki Jembatan Emas Kemerdekaan Kita

Ilustrasi banner Drgahayu HUT ke-72 Kemerdekaan RI
Mastimon
Ilustrasi banner Drgahayu HUT ke-72 Kemerdekaan RI

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Beberapa hari ke depan, tepatnya tanggal 17 Agustus 2017 kita bangsa Indonesia kembali memperingati atau merayakan kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan yang memang sangat bersejarah bagi bangsa ini. Semua bangsa dan negara di dunia pun mengalami dan merayakan hari-hari seperti itu. Perayaan yang penuh rasa syukur.

Satu hal yang perlu dicatat bahwa perjuangan menuju kemerdekaan hingga lahirnya kemerdekaan itu sendiri dilandasi oleh suatu cita-cita bersama seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari seluruh suku di Nusantara, tak kecuali suku Tiongoa yang pada waktu itu jumlahnya cukup banyak, dari semua agama, termasuk mereka yang menganut aliran kepercayaan, bahu membahu, dengan tak takut akan korban jiwa-raganya untuk memperjuangkan kemerdekaan itu. 

Hasilnya, kemerdekaan yang dicita-citakan dan diperjuangkan itu, akhirnya terwujud. Penjajah berhasil diusir dari Bumi Pertiwi. Indonesia pun memproklamirkan kemerdekaan; bendera Merah Putih dikibarkan, dan lagu kebangsaan Indonesia Raya pun dikumandangkan. 

Cita-cita dan keinginan bersama yang menggelorakan perjuangan bersama dan nasionalisme seperti itu, diakui oleh sejumlah ahli dan sejarawan, misalnya Ernest Renan (1823-1892) yang mengatakan bahwa suatu bangsa adalah keinginan untuk hidup bersama dan kesepakatan untuk berkorban.

Juga Benedict Anderson yang menulis tentang kesamaan ciri suatu bangsa, yakni memiliki kejayaan yang sama di masa lampau, dan memiliki keinginan yang sama saat itu, serta bercita-cita yang sama pula akan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. 

Jembatan Emas Kemerdekaan

Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah apakah hingga saat ini pasca kemerdekaan Indonesia kita masih memiliki cita-cita dan keinginan yang sama itu, yaitu mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama, dengan berbingkaikan kebersamaan bangsa yang pluralis yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945? Jangan-jangan cita-cita bersama itu sudah mulai melenceng atau ada keinginan untuk dibelokkan?

Itulah renungan yang paling mendasar di saat usia kemerdekaan yang ke-72 tahun ini. Mengingat ada sesuatu yang mungkin tidak bisa disangkal, adalah bahwa kondisi bangsa saat ini seperti terus terbelah dalam berbagai kelompok dengan keinginan masing-masing yang kian mengental. 

Kita tidak tahu apa yang sedang mereka pikirkan dan cita-citakan. Hanya kita harapkan tidak ada keinginan dan cita-cita lain yang tersembunyi, di mana yang ada adalah tetap dalam kebersamaan dalam kapal NKRI yang berdasarkan Pancasila dan berbingkaikan kebinekaan alias pluralisme bangsa. 

Kita semua pun pasti sadar bahwa Pancasila, UUD 1945, dan NKRI hanya bisa bertahan jika bangsa ini sanggup mempertahankan kebhinekaan dan melestarikan pluralisme dan menyingkirkan segala macam pemikiran dan perilaku yang cenderung egoistik yang menggoyahkan kebersamaan. Dan apabila kita mulai bermain-main dengan Pancasila, UUD 1945 dan kebhinekaan, maka kita pasti tahu apa yang akan terjadi dengan Republik ini.

Bagaimana agar hal itu dapat disikapi lebih lanjut? Ernest Renan dalam sebuah artikel pendeknya, What is a Nation, mengatakan kebangsaan dan kebersamaan harus dipahami sebagai suatu bentuk solidaritas moral yang dipupuk dan dipertahankan melalui kesadaran sejarah  yang khas. Karena dari situ pula nasionalisme itu tumbuh dan terpatri.

Bahwasanya, tanpa kehendak dan keinginan dari segenap warga bangsa untuk melanjutkan kehidupan bersama, suatu bangsa akan mengalami disintegrasi dan tenggelam ditelan sejarah. Rasa kebersamaan sebagai bangsa yang senasib, itulah yang harus terus menjadi motivasi untuk setiap langkah maju dalam perjuangan menuju Indonesia yang sejahtera.

Pemikiran Renan tersebut seperti disitir A Malik Gismar, kehendak sadar hari ini merupakan titik temu dari evaluasi pengalaman kehidupan berbangsa di masa lampau, dengan antisipasi atau proyeksi kehidupan berbangsa di masa depan. Masa lampau dan masa depan harus terajut dalam perilaku hidup berbangsa saat kini. 

Itulah yang kemudian digelorakan oleh Bung Karno, “Kemerdekaan” adalah “jembatan emas di seberangnya akan diwujudkan masyarakat adil dan makmur. Di depan pengadilan panjajah terhadap dirinya pada tahun 1930, Bung  Karno mengatakan bahwa perjuangan partainya adalah untuk “membangkitkan dan menghidupkan keinsafan rakyat akan ia punya masa silam yang indah, masa kini yang gelap gulita dan janji-janji suatu masa depan yang melambai-lambai berseri-seri”.

Apa yang Mesti Dilakukan? 

Sebenarnya banyak yang mesti dilakukan untuk mengembalikan spirit nasionalisme  untuk memperkokoh kebhinekaan kita. Mungkin juga kita perlu mengkaji segala sesuatu yang dapat memudarkan spirit nasionalisme dan tersobeknya kebhinekaan kita. Karena mencuatkan keinginan masing-masing kelompok dengan tujuannya yang mungkin berbeda, disebabkan oleh mulai memudarnya spirit nasionalisme itu.

Lalu, tercuat pertanyaan, apa yang mesti dilakukan agar kebersamaan dalam kebersatuan sebagai bangsa dapat tetap ada dalam kapal NKRI? Apa yang salah dengan Republik ini, sehingga ada semacam  mulai memudarnya spirit nasionalisme dan terganggunya kebhinekaan bangsa yang  kemudian mencuatkan perilaku egoisme dan individualism dalam diri masing-masing pihak.  

Ada satu yang mungkin dipikirkan di sini, seperti pernah saya utarakan dan dikutip oleh Netralnews dalam kanal Rebranding adalah soal perbaikan lagu Indonesia Raya. Karena kita tahu kalau betapa pentingnya lagu Indonesia Raya gubahan WR Supratman, yang wajib dinyanyikan pada upacara-upacara bendera dan upacara-upacara resmi kenegaraan dan berbagai instansi lainnya. 

Seperti yang pernah saya kemukakan, lagu Indonesia Raya dapat membentuk dan menanamkan rasa serta melestarikan nasionalisme dan kebhinekaan sebagai anak bangsa untuk NKRI.  Sehingga, penulis merasa alangkah baiknya dilakukan perubahan sedikit tanpa mengubah baitnya. 

Untuk terus memupuk rasa kebersamaan dalam kebhinekaan misalnya, perlu dilakukan penggantian kata Aku/Ku menjadi Kita. Misalnya dalam syair Indonesia Tanah Airku Tanah Tumpah Darahku, akan lebih pas jika ditulis Indonesia Tanah Air kita Tanah Tumpah Darah kita.

Disayangkan karena lagu Indonesia Raya yang sekarang mulai dinyanyikan secara lengkap 3 stanza itu semuanya hanya terdapat kata Aku/Ku dan nya, tidak ada kata kita.

Selain itu, menurut saya, solidaritas kesatuan dan persatuan dalam kebhinekaan  itu penting. "Dan penting pula melekatkan kata-kata Pancasila yang sudah menjadi ideologi di Lagu Indonesia Raya menurut saya itu mutlak.  

Coba dilihat lagi, pribadi-pribadi warga negara Indonesia akan menonjolkan egoisme dan  indiviualisme masing-masing dengan keakuan, bukan kekitaan dalam kebersamaan. 

Di sanalah Aku Berdiri, harusnya Di Sinilah Kita Berbakti. Hal lain menurut saya, sebagai upaya meningkatkan komitmen dan konsensus bersama pada Pancasila  sebagai ideologi bangsa, maka perlu ada kata-kata Pancasila  dalam lagu Indonesia Raya tersebut. 

Masalahnya, apakah kita berani dan mau melakukan perubahan itu, tanpa menyalahi berbagai kaidah tentang perubahan sebuah lagu? Dan bagaimana syair perubahannya, hal itu sudah tertera pada berita Netralnews sebelumnya. 

Meski, kelihatannya kecil, dan untuk mengubahnya pun tidak segampang membalik telapak tangan, tetapi pasti memiliki makna dan pengaruh yang luar biasa dari perubahan lagu Indonesia Raya itu.  Perjalanan waktu juga yang akan menjawabnya.

Salam kemerdekaan! Mari sambut Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia!

 

Penulis : Ricky Sutanto
Editor : Farida Denura

Apa Reaksi Anda?