Minggu, 24 September 2017 | 10:14 WIB

  • News

  • Editor's Note

Kecerdasan dalam Memosisikan Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Etnis Rohingya
dakwatuna
Etnis Rohingya

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Persoalan yang melilit masyarakat etnis Rohingya adalah persoalan kemanusiaan. Seperti diketahui, selama empat tahun terakhir, etnis Rohingya yang tinggal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh, yaitu tepatnya di Rakhine State hidup dalam mimpi buruk yang mengerikan. Mereka terjebak dalam konflik kemanusiaan yang mengancam  keselamatan jiwa.

Banyak versi yang menunjukkan asal mula dari konflik itu terjadi. Namun yang pasti, berbagai perlakuan yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) telah mereka dapatkan sejak 2012. Sebuah runutan sejarah waktu yang panjang, dan telah menelan banyak korban dan merusak begitu banyak sisi kemanusiaan etnis ini.

Rohingya merupakan kelompok etnis di Myanmar yang dinyatakan tidak memiliki kewarganegaraan. Rakhine State sendiri menjadi rumah bagi lebih dari satu juta orang Rohingya yang mayoritasnya adalah Muslim.

Karena itu, Rohingya diklaim sebagai salah satu populasi tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia. Namun di Myanmar, Muslim Rohingya merupakan minoritas, mengingat kebanyakan penduduk Myanmar memeluk agama Budha atau Hindu.

Ujungnya, jika tidak dicermati secara cerdas, maka masalah ini pun begitu mudah digiring ke dalam gerbong agama, bahwa yang terjadi adalah masalah agama, pembantaian terhadap kelompok agama tertentu. Padahal, itu murni masalah kemanusiaan.

Tatkala masalah itu dikerling dari perspektif agama, ia menjadi begitu seksi dan langsung dijelmakan menjadi bola panas nan liar yang begitu mudah digiring ke mana-mana dan membakar siapa saja dan negara mana saja, bahkan agama apa saja. Dan ini bisa terjadi pada semua pemeluk agama, entah itu agama apa karena ini menyangkut sensitifitas dan emosi publik. Lebih parah lagi jika dipolitisasi dalam aneka bentuk.

Jika ia menyentuh isu kemanusiaan dibungkus dengan jubah agama atau sebaliknya isu agama digiring bersama isu kemanusiaan,  maka tembok negara pun ditembus, bahkan bisa roboh kalau tidak hati-hati.

Maka, tidak heran, masalah tragedi kemanusiaan yang mencekik warga Rohingya, bisa bak bola panas yang begitu mudah dgelinding membakar warga Indonesia yang memiliki perasaan kemanusiaan atau keagamaan yang begitu tinggi. Ini sesuatu yang sangat masuk akal.

Namun, harus diingat bahwa setiap negara memiliki aturan main dengan hukum nasional dan internasional  yang otonom, yang tidak boleh dicampuradukkan dengan masalah negara lain apalagi dipaksakan dengan mengikuti kehendak tertentu.

Maka, sikap negara semestinya, adalah meminta agar inti persoalan konflik kemanusian yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar tidak dibawa ke dalam negeri Indonesia, apalagi sampai turut memicu adanya konflik serupa di Indonesia.

Semua warga bangsa ini harus benar-benar menjaga dengan benar bahwa persoalan Rohingya jangan sampai menjadi titik pemicu persoalan di negeri kita. Jadi kita tidak menghendaki mengimpor masalah ini ke dalam negeri. Ini yang harus kita jaga, meskipun persoalan Rohingya memiliki juga dimensi  internasional yang kuat lantaran menyangkut masalah kemanusiaan tersebut.

Di samping masalah kemanusiaan, ia juga sebenarnya masalah multifaktor dan masalah multisektoral. Yang masuk di dalamnya juga faktor geopolitik, ada faktor sumber daya alam, etnis dan faktor-faktor lainnya.

Maka, yang diperlukan adalah kecermatan dan kecerdasan dalam memosisikan trageiy kemanusiaan itu, dan jangan mudah terprovokasi. Apalagi di negeri sendiri Indonesia telah memiliki banyak sekali masalah yang hingga hari ini masih sulit terpecahkan, seperti  masalah kemiskinan, pengangguran, utang luar negeri, korupsi, dan lain-lain yang membutuhkan perhatian ekstra.

Aksi demonstrasi menjadi aksi yang sangat kita hormati sebagai ekspresi di negara demokratis. Tetapi, pemaksaan kehendak menjadi sesuatu yang tabu untuk dilakukan.

Sekarang, kita serahkan kepada pemerintah yang memiliki hak untuk bersuara di level ASEAN atau kepada PBB  untuk menekan pemerintah Myanmar lewat diplomasi politiknya agar aparat  militernya tidak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Myanmar didesak untuk tidak mencederai keadaban bangsa modern yang semakin menghormati kemanusiaan segenap warga bangsa.

Selain itu, untuk masyarakat bangsa ini, bisa digerakkan dengan aksi-aksi solidaritas kemanusiaan  melalui donasi dengan menggalang dana untuk membantu saudara-saudara kita di Myanmar. Masyarakat kita sebenarnya sudah sangat kreatif dalam hal ini.

Para intelektual dan atau  para cendekiawan juga harus dengan cerdas pula mendorong lembaga-lembaga internasional untuk bertindak agar konflik tersebut dapat segera diselesaikan dengan baik tanpa jatuh korban yang lebih banyak lagi.  

Jelasnya, kita semua tidak boleh menutup mata atas tragedi kemanusiaan yang menimpah warga etnis Rohingya.  Sekali lagi, kita perlu cerdas memosisikan masalah tragedi kemanusiaan itu pada posisi yang pas, tepat dan terukur.

 

Editor : Thomas Koten

Apa Reaksi Anda?