• News

  • Editor's Note

PCC, Remaja, dan Fenomena Gunung Es

Korban yang meminum tablet PCC dibawa ke rumah sakit jiwa karena bertingkah aneh.
KBR
Korban yang meminum tablet PCC dibawa ke rumah sakit jiwa karena bertingkah aneh.

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Seorang bocah terlihat bertingkat sangat aneh, matanya terbuka lebar, kaosnya yang berwarna hitam basah kuyup. Awalnya bocah tersebut hanya membungkuk, namun selanjutnya dia terbaring di atas tanah dengan kubangan air.

Video itu lah yang dibagikan di media sosial oleh akun Facebook Fadlyazis Kdi yang membongkar kasus penyalahgunaan obat ini. Dari video yang akhirnya menjadi viral itu, terungkaplah kasus mengerikan yang menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dapat dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena dalam hitungan beberapa hari saja, telah berjatuhan korban hingga 80 orang dan dua diantaranya meninggal dunia di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Ya..para korban ini menengak tablet Paracetamol Caffein Carisoprodol (PCC). Apa sebenarnya PCC itu? Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menjelaskan, dari hasil uji laboratorium terhadap tablet PCC menunjukkan bahwa obat tersebut positif mengandung Karisoprodol.

Karisoprodol digolongkan sebagai obat keras. Mengingat dampak penyalahgunaannya lebih besar daripada efek terapinya, seluruh obat yang mengandung Karisoprodol termasuk Somadryl, dibatalkan izin edarnya pada 2013.

Obat yang mengandung zat aktif Karisoprodol, memiliki efek farmakologis sebagai relaksan otot namun hanya berlangsung singkat dan di dalam tubuh akan segera dimetabolisme menjadi zat aktif lain yaitu Meprobamat yang menimbulkan efek menenangkan (sedatif). Efek tersebut menyebabkan obat-obat dengan kandungan zat aktif Karisoprodol disalahgunakan.

Penyalahgunaan Karisoprodol digunakan untuk menambah rasa percaya diri sebagai obat penambah stamina, bahkan juga digunakan oleh pekerja seks komersial sebagai “obat kuat”.

Beberapa korban mengaku usai meminum tablet PCC, tubuh mereka merasa terbakar sehingga mencari air, hilang kesadaran dan melayang. Beberapa mengaku mendapatkan gratis obat tersebut dan beberapa mengaku membeli dengan harga Rp75.000 untuk tiga jenis obat.

Hilangnya kesadaran ini lah yang membuat mereka bertingkah laku aneh bahkan korban yang meninggal dunia disebabkan karena terjun ke laut. Tentu saja kasus ini menjadi keprihatinan bersama, bagaimana tidak, korbannya masih tergolong anak-anak dan kalau pun ada yang berusia dewasa namun masuk tergolong usia produktif.

Pasar Gelap

Pertanyaannya mengapa obat yang telah dilarang peredarannya itu masih bisa ditemukan di pasaran? Pengamat Industri Farmasi Anthony Charles Sunarjo, MBA mengatakan, rentang waktu yang diberikan kepada pihak industri untuk menghentikan dan menarik peredaran obat yakni selama enam bulan.

Namun, praktik di lapangan, stok dari setiap produk adalah penjualan untuk satu tahun. Jadi distributor, toko obat dan apotik memiliki stok untuk satu tahun itu, mungkin mengalami kendala menarik produk secara bersih.

Nah, untuk kasus tablet PCC yang telah dilarang peredarannya pada 2013 namun belakangan diketahui dikonsumsi oleh masyarakat, menurut Anthony ada kemungkinan adanya pasar gelap (black market) perdagangan obat ini yang memanfaatkan kekosongan produk, yang mungkin masih ada pasien yang telah terbiasa menggunakan obat PCC dan membutuhkannya.

"Jadi ini ada pasar gelap yang sudah lama ditarik lalu saat ini populer. Bisa jadi omset besar dan tidak terkena pajak karena izin edarnya sudah tidak ada," kata Anthony.

Polisi saat ini sudah mengamankan sembilan orang terkait kasus tablet PCC ini yang terdiri dari dua apoteker dan tujuh lainnya ibu rumah tangga biasa.

Pihak Kemenkes pun menduga, masih ada korban yang tidak melaporkan kasus ini. Karena itu, Kemenkes mendesak agar dibentuk Satuan Tugas Pengawasan Peredaran Tablet PCC di Kendari.

Mengapa korban umumnya berusia remaja? Sosiolog dari Universitas Nasional Sigit Rochadi mengatakan, para bandar memang menggunakan berbagai cara untuk memasarkan barang dagangannya dan anak-anak semakin mudah terjerat karena lemahnya institusi primer seperti keluarga dan sekolah dalam pengawasan.

Selain semakin banyak orang tua yang bekerja di sektor publik, maraknya teknologi dan membiarkan anak-anak menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, mendorong anak semakin banyak mengandalkan teman sebaya.

“Orang tua harus membatasi pemberian barang kepada anak-anaknya, terutama HP canggih dan sepeda motor. Dua alat ini memungkinkan anak-anak yang miskin informasi mudah terjerat karena mobilitas fisik (dengan sepeda motor) dan mobilitas psikis (dengan handphone) yang mudah terjadi dengan waktu yang sangat cepat,” jelasnya.

Jangan sampai kasus ini menjadi fenomena gunung es, artinya yang terungkap ke publik saat ini hanyalah sebagian kecil saja dan masih banyak korban penggunaan tablet PCC, bukan hanya di Kendari, mungkin bisa terdapat di daerah-daerah lain.

Karena itu, upaya pencegahan harus dilakukan oleh semua pihak dan sosialisasi terhadap obat-obat yang telah ditarik peredarannya dan bahaya dari obat tersebut, seharusnya gencar dilakukan oleh pihak terkait.

Jika memungkinkan, seperti saran dari legislator, sebaiknya BNN memasukkan tablet PCC sebagai golongan Napza karena menyebabkan ketidaksadaran dari orang yang mengonsumsinya. Serta ganjaran hukuman maksimal perlu diberikan kepada pelaku karena dapat dikategorikan merusak masa depan anak bangsa.

Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?