Sabtu, 25 November 2017 | 07:03 WIB

  • News

  • Editor's Note

Begitu Streskah Masyarakat Zaman Now?

Stres bisa terjadi tanpa pandang jabatan dan gelar.
Seruni
Stres bisa terjadi tanpa pandang jabatan dan gelar.

Berita Terkait

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Belakangan terdengar kasus-kasus suami menembak istri, suami menganiaya hingga membunuh istrinya, hingga dokter yang notabene memiliki pendidikan dan keilmuannya yang tinggi ikut-ikutan membunuh istri.

Pada 1 September 2017, kasus penembakan yang dilakukan suami kepada istrinya kembali terjadi. Kali ini, seorang pegawai Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido bernama Indria Kameswari, tewas ditembak Mochamad Akbar, tepat saat warga lainnya tengah melaksanakan salat Idul Adha, di Perumahan River Valley, Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Pada 31 Oktober dr Anwari menakut-nakuti asisten rumah tangganya dengan senjata angin. Padahal sebelumnya eks dokter RSPAD itu melakukan hal yang sama dengan petugas parkir di Mal Gandaria City.

Dokter Ryan Helmi menembak istrinya yang juga berprofesi sebagai dokter, Letty Sultri hingga tewas, di Klinik Azzahra Medical, Jl Dewi Sartika, Cawang, Jakarta Timur, Kamis 9 November 2017 sekitar pukul 14.30 WIB, menghebohkan masyarakat.

Masyarakat dikejutkan lagi dengan kasus pada 12 November 2016. Hasan warga Dusun Senuruk, Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, tega menembak Murni istrinya hingga tewas di sebuah ladang.

Begitu streskah masyarakat zaman now?  Ahli psikologi forensik Reni Kusumowardani, mengatakan sebenarnya menjadi ramai bukan karena kasusnya yang makin marak, tetapi karena kasus-kasus tersebut saat ini makin banyak yang terekspos oleh media.

Kasus kekerasan dalam rumah tangga, dilandasi oleh adanya sebuah relasi yang tidak seimbang antara korban dengan pelaku. Oleh karena itu peristiwanya dapat terjadi berulang-ulang dan berisiko sampai pada kekerasan yang fatal yaitu pembunuhan.

Siklus kekerasan dalam rumah tangga kerapkali luput dari hadirnya pertolongan dari luar karena kebanyakan masyarakat masih menganggap berbagai bentuk kekerasan yang terjadi adalah masalah domestik, dan urusan rumah tangga masing-masing.

Masyarakat yang mengetahui adanya kekerasan dalam sebuah rumah tangga cenderung enggan untuk melakukan intervensi karena tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga orang. Meskipun sebenarnya sudah ada Undang-Undang yang mengatur penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga  (KDRT).
 
Meskipun stres merupakah salah satu kondisi yang bisa memicu, tetapi kekerasan dalam rumah tangga, termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga merupakan satu kasus yang unik dan spesifik. Variabelnya cukup banyak. Pertama KDRT diawali oleh adanya relasi yang tidak seimbang dalam relasi di rumah tangga. Biasanya pihak yang dominan lebih memiliki kuasa atas korban.

Kedua, terjadi siklus kekerasan yang sangat khas, yang membuat korban makin merasa terpojok tanpa ada yang dapat memberi bantuan. Ketiga masyarakat meskipun tahu ada KDRT, masih menganggap itu urusan domestik yang tidak enak untuk mencampurinya. Keadaan tersebut mengakibatkan adanya risiko tindakan yang makin hari makin brutal hingga sampai ke pembunuhan.

Sangat tergantung pada kepribadian masing-masing orang. Makin tidak matang kepribadiannya, kian tidak stabil emosinya sehingga hal-hal yang tidak nyaman akan mudah menjadi triger terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan

Pada dasarnya memiliki dan memegang senjata api itu membutuhkan berbagai kondisi psikologis yang stabil dan bertanggungjawab. Jangankan pada masyarakat sipil, bahkan pada para penegak hukum yang memerlukan senpi dalam tugas tanggungjawabnya juga perlu dilakukan tes psikologis untuk melihat kelayakan jiwanya untuk memegang senpi. Oleh karena itu kepemilikan senpi perlu diperketat dengan berbagai izin dan persyaratan

Setiap pasutri perlu memiliki satu paradigma kesetaraan dan saling menghargai serta saling berelasi dalam keseimbangan. Apabila ada perilaku kekerasan dalam rumah tangga, sebaiknya korban segera meminta pertolongan pada keluarga terdekat atau pada lembaga perlindungan yang saat ini hampir di setiap kabupaten/kota itu ada, seperti Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

Diharapkan pula seluruh masyarakat juga peduli kepada lingkungan sekitar jika menemui dan mengenali adanya tindakan-tindakan KDRT di lingkungan terdekatnya. Dibutuhkan gerakan bersama untuk dapat menghapuskan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Gerakan serentak dari hulu ke hilir, bukan gerakan-gerakan bersifat sporadis atau bersifat sektoral saja.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?