Rabu, 13 Desember 2017 | 10:16 WIB

  • News

  • Editor's Note

Belajar dari Bencana Alam yang Terjadi Akhir-Akhir Ini

BNPB memetakan kemungkinan arah aliran lava dari erupsi Gunung Agung.
NNC/Anhar Rizki Affandi
BNPB memetakan kemungkinan arah aliran lava dari erupsi Gunung Agung.

Berita Terkait

JAKARTA, NNC - Sejumlah bencana melanda beberapa wilayah di Indonesia, seperti banjir di sejumlah wilaya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), banjir bandang dan longsor di Pacitan, Jawa Timur, dan erupsi Gunung Agung di Bali.

Akibat banjir di Kabupaten Kulon Progo, DIY, sekitar 1.000 hektare sawah yang berada di lima wilayah kecamatan, terancam gagal panen. Salah satu wilayah yang paling parah terendam banjir adalah Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo.

Kecamatan Panjatan sendiri berada di kawasan yang cekung, setiap tahun menjadi langganan banjir, dan setiap tanam pertama tidak pernah panen. Hal ini disebabkan sungai-sungai yang melalui Kecamatan Panjatan meluap.

Sementara itu, di wilayah Pacitan, Jawa Timur, bencana banjir bandang dan tanah longsor mengakibatkan setidaknya 20 orang tewas. Sebanyak 14 dari 20 korban tersebut, tewas akibat tertimbun tanah longsor, sedangkan sisanya terbawa arus banjir bandang.

Pemerintah, melalui Kementerian Sosial, pun memberikan santunan kepada keluarga korban tewas yang telah ditemukan sebesar Rp15 juta berikut paket sembako kepada masing-masing keluarga korban.

Selain itu, bantuan berupa peralatan kebersihan lingkungan dan bantuan logistik juga diberikan kepada mereka yang terdampak banjir dan tanah longsor tersebut.

Seperti diketahui, cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Cempaka menyebabkan sejumlah daerah termasuk Pacitan, Jawa Timur, diterjang banjir, longsor dan puting beliung, serta sejumlah wilayah di DIY mengalami banjir.

Sedangkan di Bali, tingkat erupsi Gunung Agung meningkat dari fase freatik menjadi magmatik, sejak teramati adanya sinar merah di puncak gunung setinggi 3.142 mdpl, pada Minggu (25/11/2017) malam.

Area radius zona bahaya yang sebelumnya enam kilometer dinaikkan menjadi delapan kilometer dari puncak gunung, ditambah perluasan sektoral yang sebelumnya radius 7,5 kilometer dinaikkan menjadi sepuluh kilometer ke arah Utara, Timur Laut, Tenggara, Selatan, dan Barat Daya.

Hingga Minggu (3/12/2017), Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali, menyatakan aktivitas erupsi efusif atau leleran lava di kawah Gunung Agung sejak siang hingga petang secara perlahan masih berlangsung.

Bahkan, Bandara I Gusti Ngurah Rai dan Lombok International Airport sempat ditutup, karena debu vulkanik yang disemburkan dari gunung tersebut dapat membahayakan penerbangan.

Selain itu, sejumlah titik pengungsian pun disiapkan. Warga yang tinggal di zona berbahaya terpaksa diungsikan ke tempat yang lebih aman. Mereka harus menginap di tenda pengungsian hingga keadaan dinilai aman kembali.

Sejumlah bencana yang datang dalam waktu yang dekat seperti tersebut di atas, tentunya tidak diharapkan. Namun, tentunya perlu diantisipasi dan dipersiapkan penanganannya secara matang.

Berbagai hal perlu disiapkan oleh pihak-pihak terkait, seperti pemantauan yang baik terkait cuaca dan aktivitas gunung berapi. Hal ini diperlukan untuk dapat memberikan informasi dan peringatan dini untuk mengurangi atau meminimalisir korban.

Selain itu, kesiapan sumber daya manusia dan peralatan penunjuangnya yang siap bergerak ketika harus mengevakuasi warga, mencari dan menolong korban, hingga membersihkan sisa-sisa efek dari bencana tersebut.

Tak hanya itu, berbagai kebutuhan untuk para pengungsi, seperti makanan dan minuman, pakaian, serta obat-obatan juga harus dipersiapkan sumber-sumbernya. Sehingga saat dibutuhkan, kebutuhan logistik itu tinggal didistribusikan.

Pemerintah melalui instansi terkait juga harus memikirkan kelangsungan hidup masyarakat pascabencana. Mereka yang kehilangan mata pencarian tentu perlu diberi bekal, entah berupa pelatihan ketrampilan maupun dalam bentuk bantuan lainnya.

Hal ini menjadi penting agar warga yang terdampak dapat tetap survive setelah bencana terjadi, karena mereka harus melanjutkan kelangsungan hidup mereka.

Tentunya diperlukan kerja sama dari sejumlah pihak untuk dapat bekerja sama sehingga penanganan-penanganan terkait bencana tersusun menjadi semacam prosedur standar operasional, dan pihak terkait telah tahu apa yang harus dilakukan. Begitu pula masyarakat yang terdampak pun setidaknya lebih mudah diarahkan oleh petugas di lapangan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.


Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?