• News

  • Editor's Note

PSI Harus Kerja Ekstra Keras Jika Ingin Sukses di Pemilu 2019

Ketua Umum PSI Grace Natalie
Istimewa
Ketua Umum PSI Grace Natalie

JAKARTA, NNC - Popularitas Partai Solidaritas Indonesia dalam beberapa pekan terakahir ini kembali mencuat. Penyebabnya petinggi PSI Grace Natalie dan Raja Juli Antoni bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka. Grace Natalie akui jika pertemuan itu memang sempat membahas soal Pemilu Presiden 2019, dimana PSI memang telah nyatakan dukungan ke Joko widodo.

Pertemuan ini berujung pelaporan oleh Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) soal Jokowi dinilai menggunakan jam kerja dan Istana untuk membicarakan Pilpres 2019 yang berkaitan dengan kepentingan pribadinya.

Sontak publik berekasi. Imbasnya, ini justru memang menguntungkan PSI, reaksi-reaksi ini justru beri benefit tersendiri bagi PSI yang katanya digawangi oleh sejumlah anak-anak muda.

Sebelumnya, beredar surat yang menyebutkan jika pengusaha nasional Jeffrie Geovanni dan bekas staf ahli Basuki Tjahaja Purnama, SUnny Tanuwidjaja menjadi Dewan Pembina PSI. Meski, diklaim jika kedua nama itu telah lama berada dalam struktur, namun masuknya keduanya itu pun menjadi sebuah polemik.

Sebut saja Sunny Tanuwidjaja yang sempat terseret kasus Reklamasi Teluk Jakarta. Namun, ini dengan sigap diredam oleh Sekjen PSI Raja Juli Antoni.

PSI diprediksi membidik swing voters selama ini, yaitu generasi muda yang kritis dan terkadang memilih Golput karena tidak percaya dengan calon legislatif yang 'disediakan' oleh partai politik selama ini. Massa potensial ini mungkin yang coba diraih dengan mengembangkan jargon sebagai partainya anak muda.

Pemilih pemula khususnya remaja (berusia 17 tahun) mempunyai nilai kebudayaan yang santai, bebas, dan cenderung pada hal-hal yang informal dan mencari kesenangan, oleh karena itu semua hal yang kurang menyenangkan akan dihindari.

Untuk Pemilu tahun 2019, suara pemilih pemula mencapai sekitar 20-30 persen dari seluruh jumlah pemilih membuat suara mereka sering dijadikan untuk mendongkrak perolehan suara dan bisa menentukan kemenangan pihak yang berkompetisi dalam pemilu.

Mengacu pada data KPU untuk pemilu 2014, diketahui jumlah pemilih pemula yaitu rentang usia 17 tahun hingga 20 tahun sebesar 14 juta orang. Sedangkan pemilih usia 20 tahun hingga 30 tahun sebesar 45,6 juta jiwa.

Pemilih Pemula ini yang jadi lahan garapan PSI, namun perlu diingat jika partai politik lain pun menggarap segmen yang sama karena menilai hal ini cukup potensial. Ini jadi lahan bertempur sejumlah partai politik lain.

Untuk menangkan pertempuran di level ini, PSI harus punya strategis yang lebih mumpuni, issu yang diusung pun tidak mengandalkan jargon anak muda pilih PSI misalnya.  Pernyataan Ketua PSI Tsamara Amany yang menyebutkan media sosial sebagai media kampanye efektif pun tidak terlalu bisa dijadikan patokan.

Pasalnya, selain semua partai politik lain yang lebih mapan telah melirik model kampanye ini, melek teknologi dan media sosial di semua wilayah Indonesia sama besarnya. Jadi peluang untuk andalkan media sosial pun menipis.

Hal ini lain yang perlu diingat oleh PSI, dalam politik, Popularitas dan Elektabilitas itu memang mirip tapi tidak identik. Kalau ini sejalan, maka yang bisa jadi anggota DPR adalah orang populer seperti artis. Dan yang jadi Presiden bukanlah Joko Widodo pada 2014, tapi Rhoma Irama, Slank atau Iwan Fals yang disebut oleh Rhenald Kasali bukan hanya miliki fans tapi ummat.

PSI pun harus punyai mekanisme sendiri untuk menentukan calon legislatif yang bakal dimajukan pada Pemilu 2019 mendatang. Harus ada survei yang independen dan mendalam sebelum menentukan Caleg. Jangan menentukan hanya dengan klaim-klaim sejumlah pihak karena saat ini penyematan Tokoh Masyarakat atau pun Tokoh Pemuda ini sangat gampang karena tolak ukur belum jelas.

PSI harus terus lakukan pelatihan-pelatihan internal untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan para kadernya, termasuk pada level Pengurus Pusat. Soalnya, untuk jadi Politisi yang andal, tidak hanya karena telah selesai membaca Pengantar Ilmu Politik karya Dian Nimmo tapi itu harus terus ditingkatkan lagi kemampuan dan pemahamanan.

Politisi dalam kacamata saya harus bisa elegan dan bisa menempatkan posisi. Kata-kata yang jelas dan terukur disertai dengan data-data yang valid saat berbicara di publik. Karena jika hanya bisa mengiritik tanpa solusi dan kerap kali memotong pembicaraan lawan hanya karena tidak sepakat, itu tidak elegan.

PSI harus kerja keras untuk bisa wujudkan ambisinya menjadi Partai yang besar dan populer karena sebagai partai baru, harus melawan partai politik yang telah mapan dan memang telah miliki basis massa sendiri.

Jika memang PSI ingin lama warnai peta perpolitikan di Indonesia, maka jangan mengulangi kesalahan-kesalahan yang dilakukan para pendahulu hingga akhirnya harus tersingkir dari pentas. PSI saat ini harus bekerja dua kali lipat dibandingkan dengan partai politik yang telah mapan saat ini.

Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?