• News

  • Editor's Note

Taktik dan Strategi Kampanye Itu Bernama Door to Door

Ilustrasi kampanye  <i>door to door</i>
hpacmag
Ilustrasi kampanye door to door

Berita Terkait

JAKARTA, NNC - Kampanye politik pemenangan pemilu jilid II antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto  tengah berlangsung dalam suasana panas-dingin. Hal ini terjadi sebagai akibat dari aneka sentilan politik antar kedua kubu politik yang terlihat bagaikan siraman bumbu penyedap rasa yang cukup membangkitkan selera politik massa Indonesia yang beragam. 

Kampanye politik yang dikatakan sebagai pertarungan politik jilid II mengingat pada pemilu 2014 lalu. Kala itu, kedua pasangan ini juga bertarung untuk memenangkan kursi presiden dan Jokowi  keluar sebagai pemenangnya.

Pada pemilu 2014 lalu, kedua pasangan ini memulai dari titik start yang sama. Karena pada waktu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak bisa lagi menjadi capres karena sudah menjabat dua periode seperti diatur oleh konstitusi.

Berbeda dengan pemilu kali ini. Jokowi tampil dari garis start politik sebagai petahana, sedangkan Prabowo tampil sebagai penantang yang pernah merasakan pahitnya kekalahan. Sehingga secara psikologis, keinginan untuk “balas dendam politik” pasti ada.

Kondisi ini tentu sangat berpengaruh terhadap usaha strategis pemenangan pemilu, dimana  Jokowi sebagai “juara bertahan”, sedangkan Prabowo lebih pada usaha untuk tidak mengulangi lagi kesalahan pada pemilu 2014 yang membuat dirinya kalah.

Tulisan ini tidak memokuskan pada kondisi psikologis Prabowo dan penguasaan lapangan politik Jokowi, melainkan pada sejauh mana membangun strategi marketing politik untuk memenangkan pertarungan politik jilid II ini sesuai dengan karakteristik dan tipologi pemilih.

Karakteristik dan tipologi pemilih

Mengenal dan memahami karakter sekaligus tipologi pemilih merupakan suatu jalan terbaik dalam marketing politik. Memahami tipologi pemilih penting untuk mengetahui sejauh mana pandangan dan penilaian politik para pemilih terhadap sang figur.

Untuk mencapai tahapan ini, Firmanzah, dosen politik UI dalam bukunya “Marketing Politik, Antara Pemahaman dan Realitas” (2007)  mengatakan, “Masing-masing pemilih terdapat dua orientasi sekaligus, yaitu pertama orientasi policy problem solving dan kedua orientasi ideology.

Pemilih yang brorientasi pada policy problem solving, yang terpenting bagi mereka adalah sejauh mana kontestan mampu menawarkan program kerja yang memberikan solusi terhadap segala permasalahan bangsa.

Para pemilih seperti ini lebih melihat figur dan program secara objektif. Ini biasanya berlaku pada pemilih dari kalangan terdidik di perkotaan. Mereka lebih memiliki kepekaan sosial, kepekaan ekonomi, dan kepekaan politik yang tinggi.

Sedangkan pemilih yang lebih memiliki ikatan primordial, lebih mengutamakan ideologi. Maka, yang terpenting bagi mereka adalah soal kesamaan antara sang figur dengan mereka dalam hal suku, agama budaya, dan sejenisnya.

Dengan demikian, strategi politik pun harus diarahkan kepada mereka dengan menampilkan para figur yang memiliki kesamaan dalam hal agama, suku, budaya dan lain-lain yang berkaitan. Pemilih jenis ini umumnya berada di perkampungan dengan karakteristik tradisional.

Selain itu, ada sejumlah faktor lain yang berpengaruh terhadap proses politik yang membawa mereka hingga memutuskan untuk memilih figur yang dilihatnya cocok. Tingkat ekonomi, bidang profesi, dan pendidikan juga ikut memengaruhi pemilih untuk menjatuhkan pilihannya.

Untuk memperjelas itu, dapat dirunut sekilas tentang tipologi pemilih sesuai dengan status sosial ekonomi, pendidikan, dan tingkat pandangan mereka.

Pertama, pemilih yang berpendidikan dengan tingkat rasionalitas yang tinggi cenderung memiliki orientasi pada policy problem solving.

Mereka akan menjatuhkan pilihannya pada penilain yang objektif dengan melihat pada program kerja atau platform, yang dinilainya dalam kinerja, baik di masa lampau maupun kemungkinan di masa depan yang dapat diraih.

Jadi, untuk merangkul pemilih di kalangan ini, para kompetitor politik dalam memaparkan program harus benar-benar logis, rasional, jangan asal rakyat senang dengan tampilan pesona sang figur.

Kedua, pemilih tradisional, dimana mereka akan lebih melihat sosok sang figur dari asal usulnya, agamanya, sukunya, dan seterusnya. Mereka kurang peduli dengan program kerja entah sehebat apa pun itu. Apalagi jika figur yang tampil sesuai dengan kedekatan emosional dan memiliki kharisma yang mengagumkan.

Pemilih bertipologi ini akan dengan mudah digiring dan dimobilisasi secara massal. Ingat bahwa kelompok ini masih menjadi mayoritas pemilih di negeri ini. Sehingga, keberadaan mereka menjadi tambang suara untuk mendongkrak pemenangan pemilu.

Ketiga, kelompok kritis. Kelompok ini  biasanya jumlahnya tidak banyak, tetapi sangat kritis. Mereka ini umumnya masuk  golongan putih atau golput. Kelompok ini agak sulit terpengaruh oleh program dan ideology. Mereka akan berjalan sendiri sesuai dengan keinginannya.

Keempat, pemilih mengambang. Kelompok ini kurang terpengaruh oleh program, ideology, dan lain-lain. Selera politik mereka sangat pragmatis dan berjalan sesuai dengan sikon.

Mereka memiliki kemauan politik yang unik. Kadang-kadang mereka ikut, dan kadang-kadang tidak mau ikut memilih. Mereka tidak bersikap tegas seperti kelompok lain.

Taktik dan strategi kampanye

Setelah dipaparkan perihal tipologi pemilih, hal berikut adalah bagaimana mengatur taktik dan strategi  kampanye dalam marketing politik yang tepat, dengan program yang lengkap, sekaligus dengan dukungan kontestan yang sesuai.

Ingat bahwa pemilih dengan tipologi apa pun saat ini, pertama arus informasi yang kini begitu terbuka juga sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan sikap politik masyarakat Indonesia.

Kedua, rakyat sudah cerdas dan terus belajar dari pengalaman sebelumnya. Masyarakat sudah terlalu sering mengikuti pesta demokrasi, bukan hanya pemilu presiden, tetapi juga pemilihan anggota legislatif, maupun pemilukada.

Karena itu, salah satu cara yang paling jitu di tengah derasnya arus informasi dengan adanya media facebook, twitter, whatsapp, istagram dan berbagai media online yang sudah menyusup jauh ke ruang privat masyarakat, adalah tatktik dan strategi kampanye secara door to door ataudari pintu ke pintu” para pemilik suara.

Taktik sekaligus strategi kampanye door to door ini boleh dikatakan strategi baru yang dapat “membongkar” pemikiran politik publik yang sudah lama terkooptasi oleh berbagai budaya dan pemikiran politik yang tertanam di tengah masyarakat.  

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?