• News

  • Editor's Note

Baliho dan Kaos Kampanye Saja Dipertanyakan, Apalagi Kondom?

Baliho caleg terkesan justru merusak pemandangan kota
foto: Asyikin
Baliho caleg terkesan justru merusak pemandangan kota

Berita Terkait

JAKARTA, NNC - Mengapa pemilu di Indonesia identik dengan banjir spanduk, baliho, poster, stiker, dan bagi-bagi kaos? Pernahkah mempertanyakan manfaat dan seberapa banyak dampak dari semua itu bagi kesejahteraan masyarakat?

Berapa pula dana yang dihambur-hamburkan untuk memproduksi dan mendistribusikan alat peraga kampanye (APK) tersebut? Sulit dihitung tapi dipastikan angkanya tidak sedikit.

Ada warga yang berpendapat bahwa hal itu membikin kumuh sudut-sudut kota. Sementara seorang pegiat musik daerah yang nyeletuk, “Ketimbang dana dibuang-buang untuk itu, mending disumbangkan bagi kami agarbisa membeli angklung yang sedang kami butuhkan.”

Suara hati pegiat musik daerah itu bukan karena mendukung praktik money politic atau karena ingin menjual suaranya. Hakikat keluh kesahnya adalah mempertanyakan bahwa hingar bingar pesta demokrasi terkadang bagi masyarakat di akar rumput, masih jauh api dari panggang.

Baliho, kaos, poster dan sebagainya sebagai alat kampanye mungkin memang mutlak dibutuhkan bagi para caleg, capres-cawapres untuk memperkenalkan dirinya. Atau karena mereka tidak tidak percaya diri? Mengapa tidak percaya diri?

Karena masa-masa sebelum pemilu, mereka belum dikenal masyarakat melalui karya nyata dalam membangun kehidupan bermasyarakat secara meluas.

Maka dalam waktu beberapa bulan, mereka “memaksa” masyarakat agar tahu tentang kehebatan dan program indah yang ia buat, yang konon karena dilandasi motif untuk melayani rakyat.

Penilaian seperti itu mungkin tepat ditujukan bagi para caleg yang rekam jejaknya masih dipertanyakan. Tetapi bagi caleg yang mempunyai rekam jejak dalam karya nyata dan sudah dikenal masyarakat luas, mengapa masih saja tetap menggunakan cara-cara seperti itu?

Bahkan kampanye capres-cawapres juga melakukan hal sama. Apakah masih tidak yakin bahwa pasangan capres-cawapres nomer 01 dan nomor 02 belum dikenal masyarakat?

Dan baru-baru ini, publik semakin dibuat tercengang karena baru kali ini, muncul cara kampanye baru yaitu dengan menggunakan kondom berlabel pasangan capres-cawapres.

Terlepas dari kontroversi siapa yang membuat, siapa yang menyebarkannya, dan beragam  respon serta pendapat, namun cara itu semakin mempertegas untuk kita pertanyakan.

Lain konteksnya bila kondom diproduksi memang untuk dibagikan kepada para pekerja seks komersil (PSK) agar penyebaran penyakit kelamin bisa ditekan. Namun apakah karya sosial seperti itu meski dengan memberi label kondom dengan gambar capres-cawapres?

Dalam ilmu psikologi ada istilah bias konfirmasi (confirmation bias) yang bisa diartikan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan untuk menginterpretasikan suatu berdasarkan apa yang sudah disukai atau dianggap sebagai kelompoknya.

Artinya, seseorang yang telah menyukai pandangan, idiologi, pilihan, atau opini tertentu, maka ia akan cenderung mencari informasi yang bersifat membenarkan atau menguatkan apa yang disukainya itu.

Bersamaan dengan itu, ia juga akan cenderung menolak atau mengabaikan informasi lain yang tidak disukai.

Dalam kaitannya dengan pemilu, besar kemungkinan mayoritas masyarakat Indonesia sebenarnya sudah memiliki keberpihakan dan menentukan pilihan walaupun pelaksanaan pemilu masih sebulan lagi.

Maka, ketika mereka menjumpai spanduk, poster, dan kaos, sebenarnya tidak akan merubah pilihannya. Jadi, baliho, spanduk, kaos, dan APK lainnya, hanya akan berguna bagi orang-orang yang mungkin belum memiliki kesukaan atau pilihan.

Dan seberapa efektifkah APK tersebut bisa membuat orang yang belum suka kemudian tiba-tiba menjadi suka, hanya dengan melihat gambar caleg, capres-cawapres?

Berbeda dengan praktik karya nyata yang dirintis seseorang jauh-jauh hari sebelum pemilu. Bila karya itu mengesankan dan manfaatnya benar-benar dirasakan, dipastikan akan muncul rasa suka dan memilih orang itu.

Misalnya, karya nyata yang dilakukan Relawan Partai Keadilan Sosial (PKS) saat membantu korban bencana tsunami. Ternyata karya tanpa pamrih para relawan PKS berhasil menarik simpati kelompok masyarakat tertentu, sehingga Partai PKS menjadi idaman di hatinya.

Contoh lain adalah apa yang disampaikan Ketua Umum Forum Betawi Rempug  (FBR) Lutfi Hakim, kepada sejumlah media massa pada Jumat (8/3/2019).

Ia secara terbuka menyatakan simpatinya berubah kepada salah satu pasangan capres-cawapres karena pernah merasakan kebijakannya saat memimpin Jakarta, terbukti memajukan budaya Betawi.

Apa yang dilakukan PKS dan apa yang terjadi dengan FBR hanyalah sekedar contoh kecil.

Masih banyak model kampanye lainnya yang pernah dilakukan kubu pendukung capres-cawapres nomer 01 maupun nomor 02 yang jauh lebih efektif dan bermanfaat bagi masyarakat. Kedua kubu tinggal menganalisa dan memilihnya.

Jadi, menentukan model kampanye yang efektif sebenarnya cukup jelas. Apakah kampanye tersebut benar-benar bermanfaat bagi kemaslahatan masyarakat? Atau hanya karena ambisi kekuasaan semata?

Kaos, spanduk, poster dan APK lainnya hanya efektif digunakan untuk menegaskan identitas kelompok mereka, namun tidak akan efektif merubah pilihan dan pola pikir orang di luar kelompoknya.

Padahal, bukankah kampanye ditujukan untuk menarik simpati kelompok lain? Bila kaos saja tidak terlalu berefek, apalagi kondom?

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?