Senin, 01 Mei 2017 | 11:23 WIB

  • News

  • Editor's Note

Buktikan! Polisi Bisa Ungkap Kasus Teror Novel Baswedan

Senin, 17 April 2017 | 16:21 WIB
Dukungan terhadap KPK dan Novel Baswedan. (Netralnews/Anhar Rizky)
Dukungan terhadap KPK dan Novel Baswedan. (Netralnews/Anhar Rizky)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Di tengah keseriusan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menguak skandal megakorupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik atau e-KTP, terpaan badai kembali menerjang lembaga antirasuah tersebut. Salah satu penyidik terbaik KPK, Novel Baswedan mendapat teror fisik berupa penyerangan dengan air keras oleh pria tak dikenal.

Insiden tersebut terjadi pada Selasa (11/4/2017) pagi, tatkala Novel baru saja pulang menunaikan Salat Subuh di Masjid Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Novel selesai Salat Subuh sekitar pukul 05.10 WIB. Saat keluar dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumahnya, tiba-tiba Novel dihampiri oleh dua orang laki-laki pengendara motor yang langsung menyiramkan air keras ke arah wajahnya hingga mengenai bola matanya. 

Sontak, penyidik senior KPK itu merasa kesakitan akibat serangan zat cair berbahaya yang diketahui berjenis asam sulfat (H2SO4). Cairan ini cukup berbahaya jika terkena tubuh atau wajah manusia secara langsung.

Pria kelahiran Semarang, tahun 1977 itu sempat dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading, Jakarta Utara dan dirujuk ke Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center, Menteng, Jakarta Pusat. Namun akhirnya Novel diterbangkan ke Singapura guna mendapat perawatan yang lebih intensif di sebuah rumah sakit di sana.

Kejadian tersebut jelas membuat publik terhenyak. Berbagai spekulasi terkait aksi teror terhadap penegak hukum tersebut mulai bermunculan di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana tidak, Novel Baswedan selama ini dikenal sebagai salah satu penyidik senior KPK yang tindak-tanduknya cukup membuat nyali para koruptor menciut. 

Keberanian Novel sebagai penyidik KPK memang tak diragukan lagi. Kasus dugaan korupsi proyek simulator ujian SIM Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menjadi salah satu kasus yang berhasil diungkap Novel Cs.

Tak hanya itu, Novel yang merupakan perwira lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1998 itu juga pernah melakukan penyidikan skandal korupsi yang melibatkan mantan Bendahara Partai Demokrat, M. Nazaruddin, yang kemudian menyeret banyak tokoh penting di Republik ini.

Teranyar, Novel turut serta mengungkap korupsi kelas kakap dalam proyek e-KTP yang saat ini kasusnya tengah disidangkan di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Kasus terakhir inilah yang dikaitkan dengan upaya teror terhadap Novel Baswedan. Maklum saja, sejumlah nama besar mulai dari pengusaha, pejabat, anggota DPR, Ketua Partai, hingga mantan Menteri terseret dalam pusaran kasus yang merugikan negara hingga triliunan rupiah tersebut. Ketua KPK Agus Rahardjo bahkan menyebut kemungkinan besar penyerangan itu berkaitan dengan penanganan kasus korupsi e-KTP.

Terkait kasus teror yang menimpa Novel, Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri, Kombes Polisi Martinus Sitompul, menilai penyerangan terhadap Novel bukan tidak mungkin telah direncanakan. Indikasi itu kata dia, dapat dilihat dari waktu kejadian, di mana saat itu Novel tengah pulang setelah menunaikan ibadah. Hal itu menunjukkan pelaku sudah mengetahui kegiatan sehari-hari yang dilakukan Novel.

Meski demikian polisi belum dapat memastikan motif pelaku melakukan penyerangan. Apakah terkait kasus e-KTP yang ditangani Novel atau bukan.

Pihak kepolisian hingga saat ini telah mengumpulkan beberapa barang bukti dan memeriksa 16 orang saksi. Polisi masih membutuhkan sejumlah saksi dan akan memanggil saksi lain untuk memberikan keterangan lainnya supaya perkara ini bisa diusut lebih lanjut. Yang pasti, kepolisian akan terus menindaklanjuti kasus penyerangan air keras terhadap Novel Baswedan hingga pelakunya tertangkap dan dihukum setimpal.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian bahkan menyiapkan tim khusus (Timsus) yang bekerja sesuai instruksinya dalam mengusut tuntas kasus tersebut. Tim gabungan dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya dan di- back up (didukung) Mabes Polri itu kini tengah mendalami potensi-potensi motif.

Sejauh ini, Tim gabungan telah berhasil menelusuri identitas dua orang yang diduga mengintai rumah Novel Baswedan. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengklaim sudah mengantongi  identitas kedua orang yang diduga sebagai pelaku penyiraman air keras berdasarkan analisa kamera tersembunyi di rumah Novel.

Seperti diketahui, teror terhadap Novel Baswedan ini bukanlah yang pertama terjadi. Sebelumnya, ia sudah beberapa kali mendapatkan teror antara lain ditabrak mobil saat menuju ke KPK ketika mengendarai motor pada 2016, kriminalisasi dengan ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan di Bengkulu (2015), hingga diserang kelompok pendukung Amran Batalipu hingga motornya ringsek pada 2012.

Guna mengantisipasi terulangnya teror yang dialami Novel Baswedan, aktivis anti korupsi Indonesia Corruption Watch (ICW), Emerson F Yuntho menganggap perlunya dibentuk unit khusus untuk keamanan lembaga KPK. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada ini menilai, dengan dibentuknya unit keamanan independen, KPK tak lagi memiliki ketergantungan dengan aparat penegak hukum lain dalam melindungi para penyidiknya. 

Sebelumnya institusi Polri dan TNI siap memberikan pengawalan dan pengamanan terhadap para penyidik KPK. Tak tanggung-tanggung, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan personel yang diperlukan secara profesional bila diminta untuk melakukan pengawasan bagi penyidik KPK selama 24 jam.

Sementara itu, wacana pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan dihembuskan para pegawai KPK. Namun sayang, usulan tersebut justru menuai pro dan kontra. 

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan sepakat dengan wacana pembentukan TPF. Karena menurutnya TPF dapat memberikan hasil investigasi yang yang terpercaya. Dengan adanya TPF, diharapkan kasus teror dapat terungkap sebenar-benarnya dan menepis segala isu dan spekulasi liar yang berkembang.

Sebaliknya, Anggota Komisi III DPR Masinton Masaribu tidak mendukung dibentuknya TPF kasus teror penyidik KPK Novel Baswedan. Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu beralasan, proses hukum kasus penyiraman air keras sebaiknya diserahkan ke aparat kepolisian. Bahkan, kata dia Presiden Joko Widodo juga menginginkan kasus tersebut ditangani aparat kepolisian.

Sepertinya masyarakat harus lebih sabar menunggu pembuktian apakah Polri mampu mengungkap kasus tersebut?

Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?