Selasa, 24 Oktober 2017 | 02:05 WIB

  • News

  • Editor's Note

Mari Rebut Kembali Piala Sudirman

Ilustrasi Piala Sudriman.(Dok/Ist)
Ilustrasi Piala Sudriman.(Dok/Ist)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sejak bergulir pertama kali pada tahun 1989, tim bulutangkis Indonesia baru sekali mengangkat trofi kejuaraan bergengsi bertajuk Piala Sudirman. Padahal, Piala Sudirman diambil dari nama tokoh pebulutangkis Tanah Air, Dick Sudirman (Bapak Bulutangkis Indonesia).

Artinya, Indonesia yang merupakan negara pelopor turnamen Piala Sudirman hampir selalu gagal dalam setiap turnamen yang mempertandingkan nomor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran tersebut. 

Sejak kali pertama kali dicetuskan Indonesia pada 1986, hanya enam negara yang berhasil mencapai babak semifinal di seluruh kejuaraan: Indonesia, Korea Selatan, Inggris, Malaysia, Republik Rakyat Tiongkok, dan Denmark.

Indonesia sendiri menjadi juara saat turnamen pertama yang berlangsung dI Istora Gelora Bung Karno, Jakarta pada 24-29 Mei 1989. Pada kejuaraan tersebut, Indonesia berhasil tampil sebagai juara dengan mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-2. Itulah satu-satunya gelar Piala Sudirman yang pernah diraih Indonesia.

Sejak tahun 1991, Piala Sudirman secara bergantian direbut Korea Selatan dan Republik Rakyat Tiongkok. Korea Selatan menjadi juara pada tahun 1991, 1993, dan 2003 sedangkan Tiongkok menjadi j juara terbanyak pada 1995, 1997, 1999, 2001, 2005, 2007, 2009, 2011 2013 dan 2015.

Catatan ini tentu sangat mengecewakan. Sebabnya, selama pergelaran berlangsung, Indonesia telah merasakan enam kali menjejak final. Sayang, semuanya berakhir dengan tangan hampa alias tanpa gelar.

Kini, Piala Sudirman yang berlangsung dua tahun sekali kembali akan bergulir. Bertempat di Gold Coast, Australia, turnamen beregu antarnegara di dunia tersebut bakal berlangsung 21-28 Mei 2017. Tim bulutangkis Indonesia sendiri menurunkan 20 pemain pelatnas untuk mengikuti ajang tersebut.

Inilah waktu yang tepat jika ingin kembali mengembalikan trofi Piala Sudirman ke Tanah Air. Meski beranggotakan pemain muda, Indonesia cukup mampu unjuk kebolehan di Australia. Meski, Tiongkok tetap menjadi musuh terberat. 

Di sektor tunggal putra, kita tentu mengharapkan kematangan dua pemain muda, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting. Tanpa kehadiran Tommy Sugiarto, kedua pemain tersebut diharapkan mampu mengemban tugas dengan baik.

Harapan mendulang poin tentu berada di sektor ganda putra. Beranggotakan Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Ricky Karanda Suwardi, Angga Pratama, Mohammad Ahsan, Rian Agung Saputro, Indonesia sebetulnya mampu untuk meraih kemenangan krusial.

Plus, dari ganda campuran. Meski tanpa Liliyana Natsir, pasangan Praveen/Debby tetap bisa diandalkan. Namun, pasangan baru Tontowi/Gloria harus lebih ekstra waspada lagi.

Tunggal putri dan ganda putri sepertinya mengemban tugas lebih berat. Karena di sektor ini, Indonesia belum memiliki atlet yang mumpuni lagi selepas Susy Susanti di sektor tunggal. Fitriani, Dinar Dyah Ayustine sepertinya harus lebih banyak jam terbang lagi.

Sementara, Rosyita Eka Putri Sari, Anggia Shitta Awanda, Apriani Rahayu juga belum bisa bersinar di kejuaraan superseries sebelumnya. 

Waspadai Denmark dan India

Bergabungnya Indonesia di Grup D bersama Denmark dan India membuat jalan skuat Merah-Putih tak mudah. Meski ada dua tiket menuju perempat final, Indonesia wajib mengerahkan 100 persen kekuatan di tiap pertandingan bila tak ingin langsung pulang selepas babak penyisihan.

Dari tiga negara yang ada, Denmark terbilang memiliki kekuatan yang lebih merata. Namun, Denmark juga tak lantas pasti bisa menang melawan Indonesia dan juga India.

Indonesia sendiri akan menjalani duel lawan India terlebih dulu pada Selasa (23/5) dan berlanjut lawan Denmark sehari setelahnya.

Pada duel lawan India, Indonesia memiliki keunggulan di nomor ganda putra dan ganda campuran, sementara India bakal lebih diunggulkan di nomor tunggal putri lewat kehadiran Sindhu PV dan Saina Nehwal.

Duel seimbang antara Indonesia lawan India ada di nomor tunggal putra. Pebulutangkis India terbaik di nomor ini adalah Ajay Jayaram, namun menilik rekor pertemuan melawan Jonatan dan Anthony, maka India mungkin lebih memilih menurunkan Kidambi Srikanth.

Andai Indonesia mampu merebut poin di nomor tunggal putra, maka hal itu akan berarti sangat vital bagi skuat Merah-Putih. Peluang untuk merebut kemenangan pun menjadi lebih besar. Namun jika Indonesia kehilangan poin di nomor tunggal putra, duel Indonesia dan India akan menjadi lebih sengit.

Indonesia sendiri wajib waspada dengan strategi tak terduga India. Mereka bisa saja bermain rangkap dengan menempatkan Sindhu juga sebagai pemain ganda putri untuk mengubah susunan laga sekaligus mengejutkan pasangan ganda putri Indonesia.

Bila di laga lawan India nomor tunggal putri Indonesia tak diunggulkan di atas kertas, hal berbeda terjadi dalam duel Indonesia lawan Denmark. Tunggal putri Indonesia wajib menyumbangkan angka bila ingin memperbesar peluang menang atas Denmark. Nomor tunggal putri Denmark sendiri merupakan satu-satunya nomor tempat Denmark tak memiliki pemain papan atas.

Dalam duel lawan Denmark, nomor ganda putra dan nomor ganda campuran akan mempertandingkan duel yang seimbang. Dua nomor ini juga akan menentukan arah kemenangan dalam duel Indonesia lawan Denmark.

Sementara itu di nomor tunggal putra, di atas kertas Denmark lebih unggul dibandingkan Indonesia, baik itu bila mereka menurunkan Viktor Axelsen maupun Jan O Jorgensen. Tetapi dari rekor head to head, Jorgensen lebih berpengalaman saat bertemu dengan para pebulutangkis muda Indonesia.

Indonesia punya sedikit keuntungan dari nomor ganda putri bila Christinna Pedersen bermain rangkap di dua nomor. Dengan demikian tenaga Pedersen, yang sudah 31 tahun, nantinya telah terkuras karena ia juga bermain di nomor ganda campuran.

Melihat hitung-hitungan di atas kertas, masih ada peluang bagi Indonesia untuk menjadi juara grup. Namun peluang itu sendiri juga hanya berjarak tipis dengan kemungkinan terburuk terhenti di babak penyisihan lantaran meratanya kekuatan tiga negara di Grup D. 

Mari kita dukung Indonesia untuk kembali mendatangkan Piala Sudirman ke Tanah Air.

ANGGOTA TIM INDONESIA

Putra: Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Ricky Karanda Suwardi, Angga Pratama, Mohammad Ahsan, Rian Agung Saputro, Tontowi Ahmad, Praveen Jordan

Putri: Fitriani, Dinar Dyah Ayustine, Gregoria Mariska Tunjung, Greysia Polii, Della Destiara Haris, Rosyita Eka Putri Sari, Anggia Shitta Awanda, Apriani Rahayu, Debby Susanto, Gloria Emanuelle Widjaja

Pelatih Teknik: Hendry Saputra, Minarti Timur, Herry Iman Pierngadi, Eng Hian, Richard Mainaky

Pelatih Fisik: Felix Ary Bayu Marta, Ary Subarkah

Sejarah Piala Sudirman:

1989 (Jakarta) Indonesia 3-2 Korea Selatan

1991 (Copenhagen) Korea Selatan 3-2 Indonesia

1993 (Birmingham) Korea Selatan 3-2 Indonesia

1995 (Lausanne) Tiongkok 3-1 Indonesia

1997 (Glasgow) Tiongkok 5-0 Korea Selatan

1999 (Copenhagen) Tiongkok 3-1 Denmark

2001 (Sevilla) Tiongkok 3-1 Indonesia

2003 (Eindhoven) Korea Selatan 3-1 China

2005 (Beijing) Tiongkok 3-0 Indonesia

2007 (Glasgow) Tiongkok 3-0 Indonesia

2009 (Guangzhou) Tiongkok 3-0 Korea Selatan

2011 (Qingdao) Tiongkok 3-0 Denmark

2013 (Kuala Lumpur) Tiongkok 3-0 Korea Selatan

2015 (Dongguan) Tiongkok 3-0 Jepang|

Editor : Widita Fembrian

Apa Reaksi Anda?