Sabtu, 25 November 2017 | 07:00 WIB

  • News

  • Ekonomi Makro

Bank Dunia: Ini Saat Tepat Investasi di Indonesia

Bank Dunia
Geoenergi
Bank Dunia

MANILA, NETRALNEWS.COM - Indonesia semakin dipercaya dunia internasional sebagai daerah tujuh investasi, setelah ada pengakuan dari Perdana Menteri Jepangan Shinzo Abe.

Selain itu, Bank Dunia turut akui pencapaian Indonesia dalam perbaikan iklim investasi. Perbaikan regulasi pemerintah berhasil mendongkrak peringkat Indonesia dalam Ease of Doing Business (EoDB). 

Country Director Bank Dunia di Indonesia, Rodrigo Chaves mengatakan, dengan iklim investasi kondusif dan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, saat ini merupakan periode tepat bagi investor untuk menanam modal di Indonesia.

Apalagi Indonesia pada 2030 diperkirakan akan menjadi negara ekonomi terbesar di dunia, memiliki 135 juta kelas konsumsi, dan memiliki 180 juta penduduk pada usia produktif. 

"Apalagi, saat ini proyek infrastruktur sedang digalakkan dan banyak insentif bagi investor," papar Rodrigo, Selasa (14/11/2017).

Bank Dunia juga melihat, Pemerintah Indonesia saat ini serius dalam reformasi fiskal dan hukum. Kebijakan pemerintah menanggulangi korupsi juga terus digencarkan. 

Di sisi lain, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah juga tinggi. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi investor menunda berinvestasi di Indonesia.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani sepakat dengan penilaian Bank Dunia tersebut. Menurutnya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi di Indonesia dengan banyaknya potensi proyek yang harus dikembangkan.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Benny Soetrisno juga sepakat dengan penilaian ini. Namun, ia tak menampik bahwa investasi langsung asing di Indonesia masih kecil. 

Tidak sebanyak Tiongkok yang rangking EoDB-nya lebih rendah dari Indonesia. Oleh karena itu, tugas pemerintah untuk memperbaiki permasalahan yang masih menghambat minat investor asing untuk tanam modal di Indonesia.

Reporter : Pramirvan Datu Aprilatu
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?