• News

  • Ekonomi Makro

Hadapi Gempuran Traveloka Cs, Ini yang Dilakukan Pelaku Bisnis Travel

Ilutrasi bisnis travel agent
Wisatania
Ilutrasi bisnis travel agent

JAKARTA, NNC - Gempuran digitalisasi makin gencar pada seluruh sektor industri, termasuk pariwisata, khususnya pada bisnis biro perjalanan atau travel agent. Banyak usaha biro perjalanan yang gulung tikar namun tidak sedikit pula yang mampu bertahan di era merebaknya penggunaan ponsel pintar yang didukung semakin luasnya jaringan internet. 

Golden MICE, perusahaan yang bergerak di bidang Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition, yang telah menggarap bisnis travel agent sejak tahun 2010, merupakan salah satu perusahaan yang mampu bertahan di era digitalisasi saat ini. 

Menurut Rina Darmawan, Direktur Golden MICE, dampak negatif gempuran digitalisasi telah dirasakan oleh perusahaan sejak tahun 2012. Terutama terlihat dari menurunnya jumlah pembelian tiket pesawat udara, hotel, dan lain-lain. 

"Sejak ada aplikasi seperti Traveloka dan sejenisnya, kita akui bisnis travel agent turun drastis. Orang yang tadinya beli tiket lewat kita sekarang sudah melakukannya sendiri lewat handphone. Itu sudah kita rasakan sejak tahun 2012," ujarnya di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Ia mengatakan, gempuran digitalisasi tidak mampu dihindarkan. Jadi, tinggal bagaimana perusahaan mampu menerapkan strategi bisnis yang sejalan dengan perubahan pada dunia usaha.

"Kita lakukan diversifikasi bisnis, memberikan servis yang paling baik kepada pelanggan, dan juga meningkatkan kreativitas. Itu beberapa strategi yang kita jalankan dan memang sejauh ini bisa berjalan baik," sebutnya. 

Menurutnya, diversifikasi bisnis yang dilakukan adalah dengan masuk pada bisnis MICE. Bisnis ini telah digarap perusahaan sejak tahun 2015 dengan jasa yang ditawarkan berupa penyelenggaraan rapat kerja, rapat koordinasi, RUPS.

Perusahaan juga menyediakan jasa incentive trip dan juga business trip. Lalu, penyelenggaraan konferensi untuk instansi atau organisasi dan juga penyelenggaraan pameran untuk organisasi, komunitas dan masyarakat umum.

Lebih lanjut, Rina menyatakan, meski banyak perusahaan-perusahaan besar bergerak di bisnis yang sama, perusahaan tidak merasa gentar.

"Kita punya kekuatan sendiri. Even yang kita selenggarakan unik dan memang itu even yang kita create sendiri, jadi kita tidak takut dengan pesaing atau perusahaan MICE lainnya," ujarnya. 

Ia menambahkan, perusahaan tidak masuk pada even skala besar yang biasanya digelar secara berkala pada lokasi seperti Jakarta Convention Center.

"Kalau di JCC kita tidak mau masuk, karena kita liat seperti ada monopoli ya, even-even disana yang kita tau penyelenggaranya yang itu-itu aja, ada 7 sampai 8 perusahaan yang biasa garap even disana. Yang penting kreativitas kita bagaimana bisa menggarap potensi yang ada," imbuhnya. 

 

Reporter : Irawan Hadi Prayitno
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?