• News

  • Ekonomi Makro

ESDM Gandeng Perusahaan Korea Aplikasikan Gasmin

 Perusahaan asal Korea, PT Uvision Daehyup Indonesia akan menggantikan sumber energi mesin pengering cocofiber yang dimilikinya dengan gasifier mini (gasmin) batubara,.
Bisnis
Perusahaan asal Korea, PT Uvision Daehyup Indonesia akan menggantikan sumber energi mesin pengering cocofiber yang dimilikinya dengan gasifier mini (gasmin) batubara,.

JAKARTA, NNC - Perusahaan asal Korea, PT Uvision Daehyup Indonesia akan menggantikan sumber energi mesin pengering cocofiber yang dimilikinya dengan gasifier mini (gasmin) batubara, hasil inovasi BLU Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Tekmira), Kementerian ESDM.

"Tim BLU Tekmira akan segera memproduksi gasmin tersebut selama dua minggu ke depan. Gasmin yang dipesan berkapasitas 30 kilogram ditambah, penambahan instalasi heat exchanger, pemipaan, pemasangan, instalasi alat dan perangkat lainnya," ungkap Kepala Puslitbang Tekmira, Hermansyah, di Bandung, Minggu (17/3/2019).

PT Uvision Daehyup Indonesia memproduksi cocofiber yaitu serat kelapa yang dapat dibuat menjadi media tanam, tali tambang sampai pengisi jok mobil mewah. Cocofiber dibuat dengan proses pengeringan, penguraian, penyaringan dan pengepresan. Perusahaan yang berlokasi berlokasi di Cikoneng, Jawa Barat ini melakukan proses pengeringan menggunakan mesin bertenaga listrik PLN sehingga biaya operasional untuk energi pemanas sangat tinggi.

Mesin pengering cocofiber perusahaan ini beroperasi nonstop selama 24 jam per hari dari hari Senin sampai Sabtu. Selama ini sumber energi yang digunakan adalah tenaga listrik berkapasitas 120 kWh dengan biaya produksi mencapai Rp 170 ribu per jam. Rata-rata biaya konsumsi listrik per tahunnya sekitar Rp 1,23 miliar.

Pada 24 Februari 2019, Tim Badan Layanan Umum (BLU) Tekmira mempresentasikan perbandingan biaya bahan bakar bila mesing pengering menggunakan tenaga listrik maupun gasmin. Gasmin menggunakan batubara yang digasifikasi yang kemudian dibakar pada burner untuk sumber energi pada pengering cocofiber.

Biaya batubara dan listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan gasmin sekitar Rp 60 ribu per jam. Rata-rata biaya produksi menghabiskan sekitar Rp 432 juta per tahun. Perhitungan ini masih belum memperhitungkan biaya tambahan, di antaranya penambahan tenaga operastor gasmin dan biaya lainnya. Tim BLU Tekmira merekomendasikan tingkat efisiensi gasmin pada industri ini minimal 40 persen hingga 50 persen.

Pemilik PT Uvision Daehyup Indonesia pun tertarik untuk beralih ke Gasmin karena selisih efisiensi biaya yang didapatkan cukup besar. Sebelumnya perusahaan ini juga mempertimbangkan testimoni positif dari perusahaan pengering kayu di Ciamis, yang telah menggunakan gasmin terlebih dahulu.

 

 

Reporter : PD Djuarno
Editor : Widita Fembrian

Apa Reaksi Anda?