• News

  • Hukum

Isi Rekening Setya Novanto Sebesar Rp1.116.624.197 Dipindahkan ke Rekening KPK

Setya Novanto saat persidangan
poskota
Setya Novanto saat persidangan

JAKARTA, NNC - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memindahkan isi rekening Setya Novanto sebesar Rp1.116.624.197 ke rekening KPK. Duit tersebut merupakan hasil  Inventarisasi aset milik Setnov  untuk bayar uang Pengganti Korupsi E-KTP.

Menurut juru bicara KPK Febri Diansyah, pendataan tersebut merupakan bagian dari antisipasi KPK jika mantan ketua umum Partai Golkar itu tidak sanggup membayar uang pengganti korupsi proyek pengadaan e-KTP, maka aset yang telah tercatat akan disita KPK.

Diketahui, Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan pidana penjara 15 tahun dan denda Rp500 juta serta pidana tambahan uang pengganti sebesar Rp66 miliar. Sejauh ini Novanto sudah membayar denda sebagaimana yang dijatuhkan.

Jurubicara KPK Febri Diansyah menjelaskan bahwa, pihaknya tetap meminta Novanto dapat mengembalikan uang pengganti dalam bentuk aset yang tidak perlu dilakukan lelang.

"Kalau nanti diperlukan proses perampasan atau penyitaan sampai pelelangan tentu akan dilakukan. Kami harap tidak terlalu lama (pembayaran uang pengganti) kalau memang ada etiket baik bersikap koperatif," kata Febri saat dikonfirmasi wartawan di Jakarta,  Jumat (14/9/2018).

Sebagaimana diketahui, sejauh ini Novanto telah membayar uang pengganti secara menyidil dalam tiga kali tahapan dan berjanji untuk melunasi uang pengganti tersebut.

Sementara itu, unit Kerja Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti dan Eksekusi (Labuksi) KPK telah mengeksekusi uang yang ada di dalam rekening Setnov sebesar Rp1.116.624.197. Selanjutnyaq, uang tersebut dipindahkan dari rekening Novanto ke rekening KPK.

Selain itu, KPK sendiri telah menerima uang pengganti yang dibayarkan Setnov sekira Rp6,1 miliar dan USD100 ribu. ‎Sejumlah uang pengganti tersebut akan disetorkan untuk memulihkan kerugian keuangan negara sebagaimana yang dituduhkan kepada mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Reporter : Dominikus Lewuk
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?