• News

  • Hukum

APPI: Stop Zalimi Gubernur Enembe, KPK Harus Minta Maaf ke Rakyat Papua

APPI geruduk Gedung KPK sebagai buntut penggeledahan Kantor Gubernur Papua Lukas Enembe
NNC/Adiel Manafe
APPI geruduk Gedung KPK sebagai buntut penggeledahan Kantor Gubernur Papua Lukas Enembe

JAKARTA, NNC - Ratusan pemuda yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Papua Indonesia (APPI) menggeruduk Gedung Komisi Pemberantas Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (15/2/2019).

Kedatangan massa APPI buntut dari peristiwa penggeledahan Kantor Gubenur Papua Lukas Enembe pada 2 Februari 2017 dan Misi OTT, KPK yang gagal pada (2/2/2019) di Hotel Borobudur Jakarta. Adapun hal tersebut dinilai APPI sebagai bentuk tindakan upaya pembunuhan karakter yang diduga sengaja dilakukan oleh oknum pihak KPK. 

"Semesti KPK dan para pihak yang terus mengganggu Gubernur Enembe, berterima kasih kepada Gubernur Lukas Enembe atas semua sikap dan kebijakan dalam melindungi dan memajukan Papua," kata Koordinator APPI Otis Iryo, saat aksi unjuk rasa di depan Gedung KPK.

"Jangan dzolimi Gubernur Lukas Enembe, ada upaya massive pembunuhan karakter. Rakyat Papua sangat mengutuk tindakan KPK yang tidak profesional," tegasnya.

APPI juga menduga kuat ada pesanan politik khusus KPK dalam melakukan upaya kriminalisasi  Gubenur Papua Lukas Enembe. Hal itu dapat ditelisik dari lembaga anti rasuah itu sangat agresif dalam upaya mengkriminalisasi Gubenur Papua Lukas Enembe.

"KPK Harus melakukan OTT secara profesional jangan hanya seperti securty seperti yg terjadi di Hotel borobudur. Tindakan KPK di Hotel Borobudur merupakan tindakan yang tidak profesional. "Kami menginginkan KPK berdiri secara mandiri," ujarnya.

APPI juga mendesak KPK menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada rakyat Papua, atas semua upaya pembunuhan karakter terhadap Lukas Enembe. Karena Lukas tidak bersalah dan perbuatan KPK ikut mencoreng wajah seluruh rakyat Papua

"KPK harus jujur dan terbuka menyampaikan permohonan maaf secara terbuka," tandasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?