Minggu, 24 September 2017 | 10:08 WIB

  • News

  • Internasional

PM Israel Dukung Pembentukan Negara Kurdi Merdeka di Irak

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan PM Australia Malcolm Turnbull.
Istimewa
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) dan PM Australia Malcolm Turnbull.

YERUSALEM, NETRALNEWS.COM - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendukung pembentukan sebuah negara Kurdi. Sementara pihak Kurdi di Irak mendorong sebuah referendum mengenai kemerdekaan yang ditentang para anggota parlemen di Baghdad.

Israel telah menjalin hubungan bisnis, militer dan intelejen yang dilakukan berhati-hati dengan pihak Kurdi sejak tahun 1960-an, dengan memandang kelompok etnis minoritas itu sebagai penyangga terhadap musuh-musuh dari Arab-nya. Populasi Kurdi itu tersebar di Irak, Turki, Suriah dan Iran.

Pada Selasa kemarin, pemimpin Kurdi Irak Massoud Barzani mengatakan ia akan mendorong referendum pada 25 September kendati pemungutan suara di parlemen Irak menolaknya.

"(Israel) mendukung usaha-usaha sah rakyat Kurdi untuk mencapai negara mereka sendiri," kata Netanyahu, dalam keterangan yang dikirim ke koresponden luar negeri oleh kantornya pada Rabu, (13/9/2017).

Kekuatan-kekuatan di Barat mengkhawatirkan referendum di kawasan semi otonomi Kurdi di Irak - termasuk kota Kirkuk yang kaya minyak - bisa mengalihkan perhatian dari perang melawan para militan ISIS.

Namun, Netanyahu mengatakan Israel memandang Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang berkedudukan di Turki sebagai kelompok teroris, sikap yang sama diambil Turki, Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Seorang jenderal Israel mengatakan dalam jumpa pers di Washington pekan lalu bahwa ia secara pribadi tidak memandang PKK, yang para anggota militannya bertempur melawan Turki selama lebih tiga dekade, sebagai kelompok teroris.

Netanyahu, yang dijadwalkan akan berpidato di Sidang Umum PBB pada 19 September, menyuarakan dukungan bagi aspirasi rakyat Kurdi dalam pidatonya pada tahun 2014, dengan menyatakan mereka berhak memperoleh "kemerdekaan politik".

Keterangannya yang terbaru itu tampak merupakan pengesahan lebih langsung bagi pembentukan sebuah negara Kurdi.

Tetapi hal tersebut akan membuat masalah di Baghdad yang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan mempunyai hubungan kuat dengan Iran sebagai musuh bebuyutan Iarel.

Negara-negara tetangga Irak -- Turki, Iran dan Suriah -- menentang referendum itu, yang takut akan mengobarkan pemikiran untuk memisahkan diri di antara populasi etnis Kurdi di masing-masing negara itu.

Orang-orang Kurdi mengupayakan sebuah negara merdeka sejak sedikitnya akhir Perang Dunia I, ketika kekuatan-kekuatan kolonial memecah belah Timur Tengah setelah kejatuhan Kekaisaran Usmani yang multi etnis.

Editor : Nazaruli
Sumber : Antara/Reuters

Apa Reaksi Anda?