Sabtu, 16 Desember 2017 | 08:34 WIB

  • News

  • Internasional

Bahas Krisis Rohingya, Aung San Suu Kyi Kirimkan Utusan ke Bangladesh

Aung San Suu Kyi (Reuters/Antara)
Aung San Suu Kyi (Reuters/Antara)

DHAKA, NETRALNEWS.COM - Utusan khusus pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi akan memulai pembicaraan tingkat tinggi di Bangladesh pada hari Rabu (11/1/2017), karena PBB mengatakan krisis Rohingya memaksa 65.000 orang melarikan diri dari Myanmar menuju Bangladesh dalam tiga bulan terakhir.

Kyaw Tin, Wakil Menteri Luar Negeri Myanmar, selama selama tiga hari ke ibukota Bangladesh, Dhaka, untuk mengatasi tantangan terbesar yang dihadapi pemerintahan Suu Kyi, peraih nobel perdamaian, yang baru berusia sembilan bulan.

Kunjungan ini menandai pergeseran dari keengganan Myanmar untuk bekerja sama dengan tetangga di sebelah baratnya meski para pakar melihat ini sebagai kunci untuk memecahkan krisis yang sedang berkembang.

Pemberontak Rohingya menyerang pos perbatasan Myanmar pada 9 Oktober lalu, menewaskan sembilan polisi. Menanggapinya Myanmar mengirim tentara ke mayoritas Muslim bagian utara di negara bagian Rakhine.

Warga dan pengungsi telah memberikan penjelasan singkat tentang eksekusi, penangkapan sewenang-wenang dan pemerkosaan dalam operasi itu. Pemerintahan Suu Kyi telah membantah pada hampir semua tuduhan pelecehan.

Pejabat Depatemen Luar Negeri Myanmar, Aye Aye Soe, mengatakan selama kunjungan, utusan kedua negara tetangga ini akan membahas hubungan bilateral, tapi pihak Myanmar sepertinya tidak akan mengangkat masalah yang "rumit" terkait keamanan perbatasan.

Seorang pejabat senior di Kementerian Luar Negeri Bangladesh mengatakan Kyaw Tin akan bertemu dengan Perdana Menteri Sheikh Hasina hari ini Rabu.

Pejabat, yang meminta tidak disebutkan namanya karena ia tidak berwenang berbicara kepada media, mengatakan Myanmar telah menginisiasi kunjungan "sehingga Bangladesh tidak meningkatkan tekanan terhadap Myanmar atas isu Rohingya di forum internasional," seperti pertemuan Organisasi Kerjasama Islam mendatang.

Negara mayoritas Muslim di Asia Tenggara, Indonesia dan Malaysia, telah secara terbuka menekan Myanmar selama krisis.

"Bangladesh telah dibujuk dan ditekan di belakang layar dalam forum internasional agar tidak menghambat hubungan," kata pejabat Bangladesh.

Pembicaraan antara tetangga ini dipersulit oleh kenyataan bahwa sebanyak 500.000 penduduk Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh selama dekade penindasan di Myanmar tidak diakui sebagai warga negara di sana.

Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan sampai dengan 5 Januari sekitar 65.000 lebih orang telah tiba di Bangladesh sejak 9 Oktober.

Aye Aye Soe mempertanyakan pada PBB, mengatakan siapa pun yang mengaku sebagai pengungsi dari Myanmar harus diteliti.

Dia merujuk pada kebijakan pemerintah yang sudah berjalan lama bahwa pembicaraan pemulangan hanya bisa mencakup 2.415 orang di Bangladesh yang diakui Myanmar sebagai warga negara.

Reporter : Hermina W
Editor : Hila Japi

Apa Reaksi Anda?