Selasa, 12 Desember 2017 | 11:34 WIB

  • News

  • Kesehatan

Selain Serviks, Deteksi Dini Paru Juga Perlu

Deteksi dini paru juga perlu selain serviks.
Deherba
Deteksi dini paru juga perlu selain serviks.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Masyarakat diimbau untuk melakukan deteksi dini kanker paru karena secara umum tingkat kesadaran masyarakat mengenai penyakit kanker paru masih rendah.

Dokter Spesialis Paru-Paru RS Pondok Indah dr Achmad Hudoyo, SpP(K), menjelaskan kanker paru stadium awal biasanya tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, diperlukan deteksi dini untuk mengetahuinya agar kemungkinan sembuh semakin besar.

Ia mengatakan jika kanker paru terdeteksi lebih dini, maka penderita kanker memiliki peluang hidup lima tahun lebih lama. Untuk langkah deteksi dini yang paling mudah adalah melakukan rontgen paru. Selain itu, pasien juga dapat melakukan diagnosis dini yang lebih sensitif dengan CT Scan (LDCT/Low Dose CT Scan).

Adapun data terakhir dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan jumlah penderita kanker diperkirakan akan terus meningkat dan diperkirakan terdapat 1,8 juta atau 12,9 persen dari total kasus baru pada 2012, 58 persen di antaranya terjadi di daerah maju.

Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut prevalensi kanker untuk semua kelompok umur di Indonesia 1,4 per mil atau 347.392 orang.

Ditambah lagi, studi dari Globocan (IARC) menemukan penyakit kanker paru merupakan penyebab kematian utama akibat kanker pada penduduk pria (30 persen) dan penyebab kematian kedua akibat kanker pada penduduk wanita (11,1 persen).

Sebuah studi yang dilakukan Roy Castle Lung Cancer Foundation menyebutkan sepertiga dari kasus penyakit paru kanker baru terdeteksi 90 hari sebelum pasiennya meninggal.

Selain itu, satu dari 20 penderita kanker paru baru terdiagnosa bahwa mereka mengidap kanker paru setelah mereka meninggal.

“Oleh karena itu, dalam bulan peduli kanker paru pada November menjadi momentum untuk masyarakat melakukan berbagai inisiatif dalam menanggulangi penyakit mematikan itu,” tutur Achmad Hudoyo, dalam siaran persnya, Senin (13/11/2017).

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?