Sabtu, 25 November 2017 | 07:07 WIB

  • News

  • Kesehatan

Bisa Ular Menjalar Lewat Darah? Pakar: Mitos

Bisa pada ular tidak menyebar melalui darah melainkan melalui kelenjar limfatik atau kelenjar getah bening.
Healthxchange
Bisa pada ular tidak menyebar melalui darah melainkan melalui kelenjar limfatik atau kelenjar getah bening.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apakah Anda pernah melakukan atau melihat korban gigitan ular yang mengikat kuat area bekas gigitan? Konon, cara tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya menghindari bisa ular dapat menyebar ke organ tubuh lain melalui darah.

Pernyataan itu secara tegas ditepis oleh pakar toksologi dan bisa ular DR dr Tri Maharani M Si SP EM. Menurut Tri, sebetulnya bisa pada ular tidak menyebar melalui darah melainkan melalui kelenjar limfatik atau kelenjar getah bening.

"Masyarakat harus tahu penanganan pertama gigitan ular, sehingga tidak dikuasai mitos. Salah satunya, 'bisa ular itu tidak dapat menjalar jika diikat', itu sebetulnya mitos," kata Tri baru-baru ini saat dihubungi netralnews.com.

Tri mengatakan, mengikat kuat area bekas gigitan ular justru akan akan menganggu pembuluh darah. Keadaan ini akan membuat darah tidak mengalir dan bisa ular tidak lewat pembuluh darah, melainkan ke kelenjar limfatik atau getah bening.

Maka dari itu, Tri mengimbau masyarakat yang mengalami kasus gigitan ular tidak mengikat, menyedot, merobek bahkan mengamputasi luka gigitan.

"Jadi nggak perlu diikat, tapi posisinya seperti orang patah tulang. Pokoknya tidak bergerak, tidak boleh diikat, tidak boleh," tegas Tri.

Sebetulnya, sambung dia, bisa ular memiliki anti venom yang bisa menolong korban gigitan. Sedangkan gigitan yang masih lokal, dinilai tidak perlu antivenom.

"Pengetahuan itulah tidak diketahui bangsa Indonesia. Sangat berat melawan mitos dan pengetahuan masyarakat yang kuat mitosnya," tukas Tri.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?