Senin, 26 Februari 2018 | 00:31 WIB

  • News

  • Kesehatan

Kisah Dokter Menangani LGBT, Pasien Kebanyakan Berakhir dengan Kematian

Penyakit akibat LGBT adalah HIV/AIDS.
LGBT
Penyakit akibat LGBT adalah HIV/AIDS.

JAKARTA, NNC –  LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender), saat ini marak dibicarakan di masyarakat. Namun apa sebenarnya LGBT yang terus menjadi buah bibir ini, hingga DPR pun harus membahas masalah tersebut.

Sekadar berbagi cerita dari poli saraf utk para orang-tua, supaya kita semakin gencar menjaga lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal &  sekolah.

Ahli syaraf di RSCM, dr Ani Hasibuan, mengatakan sejak 1997 dirinya sudah berurusan dengan para gay. Sampai hari ini, belum pernah absen. Mereka pasien terbanyak HIV  yang ditanganinya. Namun, yang hidup dapat dihitung. “ Belum lama ada suster saya lapor ada lagi yang meninggal akibat kriptokokus meningitis (infeksi jamur di otak).”

Dia menambahkan dari pengamatannya  Gay itu ada kastanya. Ada yang dominan, biasanya yang punya uang dan lebih tua secara umur. Kemudian ada yang submissive, dan jika diperhatikan, semacam “piaraan”. Piaraan ini berkasta juga, ada anak muda putih bersih klimis dari kalangan keluarga menengah, ada juga yang kelas sandal jepit,” ujar Ani.

Menurut dia, perlakuan dari yang dominan pada piaraan juga berbeda, sesuai KW si piaraan.  Yang KW ori diperlakukan sangat istimewa. “Waktu saya kerja di klinik HIV RSCM, pernah dapat  pasien mahasiswa  di universitas swasta terkenal di Jakarta yang terkena meningitis kriptokokus (jamur otak). Orang tuanya pekerja petrol, tinggal di Dallas, US. Dia disini tinggal sendiri. Anaknya tampan, klimis dan kelihatan anak baik.  Sang Dominan sering ikut mengantar kalau kontrol. Jangan kaget , dominannya ini seorang aktivis LSM Anti HIV. Lebih mengagetkan jika si pasien ini mengeluh sakit kepala, si dominan ini mengelus-elus punggung si submissif sambil bilang “sakit ya sayang? yang mana yang sakit? Sabar ya sayang..”

Ani mengaku juga pernah juga dapat seorang dominan yang kena infeksi di medulla spinalis, spondilitis TB, jadi lumpuh kedua kakinya.  Ketika dirawat, submissifnya datang menemani dan membentak tidak ada kata-kata sayang.  Kemudian si submissif ini tampilannya kelas sandal jepit, manggil dominannya abaaaang.”

Cerita lain, ada juga piaraan bayaran. Satu pasiennya asal Yogyakarta dan kini sudah meninggal dengan toksoensefalitis; bisul di dalam otak karena kuman tokso yang sering menempel di badan kucing dan anjing, dan  mengaku dia bayaran. Dipelihara, seorang laki-laki Tiongkok untuk bayaran US$1000 sampai US$ 2000 per bulan.

Uangnya dia kirim ke Yogyakarta untk anak dan istrinya.  Untuk kasus ini, sejatinya bukan gay, jadi semacam lelaki (gigolo) yang kerja sebagai caddy lelaki di satu lapangan golf di Tangerang. Waktu ketahuan HIV dan tokso, nangis meraung-raung, selama dirawat baca Qur’an terus. Jika diperiksa selalu terisak-isak danbilang menyesal.

Cerita lainnya, ada juga gay kakak adik. Sejak kecil dikasih satu kamar dn satu ranjang orang tuanya. Ketika besar yang kakak terkena kripto. Dicek HIV positif, ditanya pasangannya siapa, dia bilang adiknya. Saat adiknya dicek, positif juga HIV- nya. Kedua-duanya sudah meninggal, dalam satu ruang rawat yang sama. Ayahnya hingga anak-anak tersebut meninggal tidak pernah mau menengoknya.

Ani mengingatkan pada para orang tua agar hati-hati dengan anak-anak. Ajarkan mereka untuk  bertindak agresif dan jika ada yang coba-coba menggoya misalnya gay, jangan kasih ampun dan adukan ke orang yang lebih tua.

“Pengalaman saya dari anak-anak yang terkegoda para penyuka anus ini mereka makin agresif jika yang digoda diam atau menunjukkan rasa takut. Tapi langsung berhenti jika yang digoda langsung main fisik,” tandas Ani.

Ani  menambahkan jika anak  bepergian, jangan izinkan kalau sendirian. Usahakan pergi beramai-ramai agar nyalinya tidak ciut kalau ada gay yang datang menggoda. Mereka bisa tawarkan apa saja, bisa uang, bisa bujuk rayu, bisa ancaman. Dari wawancara dengan pasien-pasien gay, mereka ini tadinya semua pernah mengalami anal seks. Sebagian besar secara paksa, setelahnya mereka akan sangat dijaga dam ditemani oleh kelompok gay. Pergaulannya diganti jadi  pergaulan gay, dan seterusnya.

“Cerita tentang gay, semua berakhir tragis, belum pernah saya dengar  berakhir seperti di cerita fairytopia. Misalnya berakhir seperti Cinderella. Kisah para gay berakhir dengan tokso, kripto, TB, pnemonia, kandida, dan diujungnya, kematian,” tandas Ani Hasibuan.

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?