• News

  • Kesehatan

Remaja Tewas Dipatuk King Kobra, Pakar: Penanganan Awalnya Salah

Rizki Ahmad pecinta reptil yang tewas dipatuk peliharaan sendiri
Kriminologi
Rizki Ahmad pecinta reptil yang tewas dipatuk peliharaan sendiri

JAKARTA, NNC - Rizki Ahmad, remaja usia 19 tahun merupakan warga Palangkaraya,Kalimantan Tengah. Dia dikenal sebagai pecinta reptil di Palangkaraya, namun alami peristiwa naas yakni dipatuk oleh King Cobra piaraanya sendiri.

Peristiwa terjadi saat kegiatan olahraga pagi di Bundaran Besar Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (8/7/2018). Warga yang olahraga dikagetkan dengan kejadian King Cobra yang melukai pemiliknya.

Menanggapi hal ini, Pakar Toksikologi Dr dr Tri Maharani MSi SpEM menilai, penanganan dalam kasus tersebut dengan diikat adalah salah, padahal King Cobra adalah jenis ular yang neurotoxin post synaptik.

Penasihat Gigitan Ular World Health Organization (WHO) ini menjelaskan, sesuai riset Prof Sutherland sejak 1979, pemahaman hematogen tentang perjalanan venom atau bisa terbukti salah. Ternyata perjalanan venom adalah limfogen atau lewat kelenjar limfa, sehingga semua cara penanganan konsep hematogen atau lewat darah menjadi tidak direkomendasikan lagi, misalnya diikat ,dibuat sayatan atau disedot menjadi salah.

"Jadi penanganan awal yang benar dengan mebuat tidak bergerak bagian yang kena gigitan dari ujung jari sampai bagian sendi, misalnya pangkal ketiak atau pangkal paha. Dengan cara itu maka venom akan ada di tempat gigitan dan tidak menyebar ke seluruh tubuh dan menjadi kan kerusakan organ-organ hingga kematian," jelas Dr Tri pada NNC, Rabu (11/7/2018).

Dijelaskan Dr Tri, pada neurotoxin posynaptik akibat King Cobra ini dapat akibatkan kelumpuhan otot pernafasan dan kegagalan nafas serta kegagalan jantung dan fatalitas meninggal.

"Jadi saran saya, kalau ada kejadian gigitan King Cobra segera lakukan imobilisasi dan jangan bergerak. Bawa ke rumah sakit terdekat dan segera hubungi RECSIndonesia (lembaga nirlaba konsultan online penanganan snakebites) untuk bantuan identifikasi dan terapi serta antivenomnya," imbau Dr Tri.

Saran ink disampaikan Dr Tri, sebelum program ada dari pemerintah tentang kasus gigitan ular dan pengadaan antivenom atau antibisa untuk ular-ular yang tidak dicover Biosave Indonesia.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?