Tranfusi darah (Quete Addicts)

Tranfusi darah (Quete Addicts)

Penelitian Terbaru: Ketika Transfusi Darah Bisa Mematikan

Rabu, 11 Jan 2017 | 15:28 WIB | Kesehatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebuah studi baru menemukan, darah terlama yang tersedia untuk transfusi dapat melepaskan sejumlah zat besi berbahaya ke dalam aliran darah pasien.

Jumlah maksimum waktu sel darah merah dapat disimpan agar dapat digunakan untuk transfusi adalah enam minggu.

Tetapi penelitian baru menunjukkan semakin lama berada dalam penyimpanan, semakin ia dapat lebih berbahaya, meningkatkan risiko penggumpalan darah pasien secara drastis.

Para ahli memperingatkan temuan menunjukkan bahwa kita bisa menyelamatkan ribuan nyawa dari bahaya, dengan mengubah batas penyimpanan maksimum FDA dari enam minggu menjadi lima minggu.

Sayangnya, dengan kurangnya sumbangan darah untuk memenuhi permintaan, perubahan kecil ini bisa menghilangkan ribuan pengobatan yang menyelamatkan jiwa.

Transfusi sel darah merah adalah prosedur yang paling umum dilakukan pada pasien rawat inap.

Menurut Palang Merah Amerika, sekitar 36.000 unit sel darah merah dibutuhkankan setiap hari di AS. Sekitar 4,5 juta orang Amerika menerima transfusi darah setiap tahunnya.

“Usia sel darah merah, semakin lama usia mereka dan disimpan, semakin mereka rusak," ujar Dr Eldad Hod, profesor patologi dan biologi sel di Columbia University Medical Center, seperti dikutip dari laman Daily Mail, Rabu (11/1/2017).

Semakin lama usia sel darah merah, semakin banyak zat besi dilepaskan.

Kita semua tahu zat besi merupakan nutrisi penting untuk membantu membawa oksigen dari paru-paru ke organ lain.

Namun, seperti nutrisi apapun, terlalu banyak zat besi dapat menyebabkan komplikasi kesehatan seperti gumpalan darah.

“Berdasarkan jumlah besi yang beredar dalam darah mereka yang menerima darah berusia enam minggu, kami akan memprediksi bahwa infeksi tertentu yang ada dapat diperburuk," ujar Dr Hod.

Saat ini, FDA memungkinkan unit sel darah merah untuk disimpan sampai enam minggu sebelum mereka harus dibuang.

Sekitar lima sampai 20 persen pasien menerima darah yang ada di minggu terakhir penyimpanannya.

Dalam studi tersebut, sekelompok 60 sukarelawan sehat secara acak menerima satu unit sel darah merah yang telah disimpan selama antara satu sampai enam minggu. Para relawan kemudian dipantau selama 20 jam setelah transfusi.

Dalam beberapa jam setelah transfusi, tujuh dari sembilan relawan yang menerima darah berusia enam minggu tidak bisa memetabolisme sel yang rusak dengan tepat, sehingga melepaskan sejumlah besar zat besi ke dalam aliran darah mereka.

Memang tak satu pun dari para relawan yang dirugikan oleh transfusi, tetapi penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kelebihan zat besi dapat meningkatkan pembekuan darah dan mempromosikan infeksi atau mengakibatkan komplikasi serius pada pasien.

Rekan-pemimpin Dr Steven Spitalnik, profesor patologi dan biologi sel di CUMC, mengatakan, rekomendasi kami akan menjadi kontroversial, tapi kami pikir kami memiliki data yang nyata untuk mendukungnya.”

“Studi terbaru menyimpulkan bahwa transfusi darah lama tidak berdampak pada pasien, tetapi studi tersebut tidak secara eksklusif memeriksa darah terlama yang tersedia untuk transfusi. Studi baru kami menemukan masalah ketika transfusi darah yang lebih lama dari lima minggu," jelasnya.

Dr Hod mengakui studi ini memiliki keterbatasan.

"Masalahnya adalah bahwa penelitian kami hanyalah prinsip kehati-hatian," katanya.

"Kita tidak bisa secara etis menunjuk  dan memilih orang-orang yang membutuhkan transfusi untuk menerima darah berusia enam minggu.”

"Ada argumen bahwa 'Jika kita tidak bisa mengujinya, lalu mengapa kita melakukannya?' Tapi ada begitu banyak orang di luar sana yang membutuhkan darah. '

Penelitian mengarah ke beberapa kontroversi mengenai pasokan sumbangan darah.

60 persen penduduk AS memenuhi syarat untuk mendonasikan darahnya - tapi hanya lima persen yang melakukannya secara tahunan.

Jika peraturan FDA berubah untuk lima minggu penyimpanan dan bukan enam minggu tanpa pasokan bank darah yang memadai, itu bisa berarti lebih sedikit orang yang menerima transfusi darah yang menyelamatkan nyawa.

Dr Hod mengatakan ada beberapa solusi untuk masalah ini sehingga orang tidak harus menerima darah 'lama'.

"Ada juga variabilitas donor. Darah seseorang mungkin dapat disimpan selama 42 hari, dan orang lain ada yang kurang. Jika kita bisa mengetahui secara umum apa genetik atau faktor lingkungan yang berperan, kita bisa mencari solusi penyimpanan yang lebih baik," katanya.

Namun, sampai solusi ini datang, peneliti mengatakan keputusan 'bijaksana' adalah agar FDA mengurangi periode penyimpanan maksimum.

Dr Spitalnik mengatakan, Inggris, Irlandia, Belanda, dan Institut Kesehatan Nasional telah membatasi penyimpanan selama 35 hari. "Dan kita berpikir bahwa dapat dicapai di seluruh Amerika Serikat tanpa mempengaruhi suplai darah dengan serius," ujarnya.


Reporter : Hermina W
Editor : Lince Eppang