Selasa, 21 November 2017 | 07:51 WIB

  • News

  • Kesra

Kesejahteraan Petani Banten Meningkat

Kesejahteraan petani diharapkan terus meningkat.
Tabloid Sahabat Petani
Kesejahteraan petani diharapkan terus meningkat.

SERANG, NETRALNEWS.COM - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Banten pada Oktober 2017 naik 0,32 persen dibandingkan bulan sebelunya dari 100,69 menjadi 101,01.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Rabu (15/11/2017), mengatakan Kenaikan NTP dikarenakan laju kenaikan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang sebesar 1,15 persen lebih cepat dari laju kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang sebesar 0,82 persen.

"Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani," katanya.

Kenaikan NTP Oktober 2017 disebabkan oleh naiknya NTP hanya pada subsektor tanaman pangan yang naik 2,15 persen. Empat subsektor lainnya justru mengalami penurunan yakni subsektor hortikultura turun 0,75 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 1,56 persen, dan subsektor peternakan turun 1,18 persen, serta subsektor perikanan turun sebesar 1,25 persen. Penurunan keempat subsektor tersebut sedikit menghambat kenaikan yang terjadi pada NTP umum.

It Banten mengalami kenaikan sebesar 1,15 persen dibanding It September, yaitu naik dari 129,52 menjadi 131,01. Sebagaimana NTP secara umum, Kenaikan It pada Oktober 2017 disebabkan naiknya It pada kedua subsektor yakni subsektor tanaman pangan yang naik 3,00 persen dan It subsektor hortikultura naik 0,06 persen. It Ketiga subsektor lainnya mengalami penurunan yakni It subsektor tanaman perkebunan rakyat turun 0,55 persen; It subsektor peternakan turun 0,62 persen; dan subsektor perikanan turun 0,53 persen.

Indeks harga yang dibayar petani terdiri dari 2 golongan yaitu konsumsi rumah tangga (KRT) dan biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM). Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Oktober 2017 indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,72 persen. Hal ini terjadi karena Indeks Konsumsi Rumah Tangga mengalami kenaikan 0,95 persen dan Indeks BPPBM mengalami kenaikan sebesar 0,33 persen.

Kenaikan indeks BPPBM ini disebabkan naiknya empat kelompok yakni kelompok pupuk, obat-obatan, dan pakan naik 0,82 persen; biaya sewa dan pengeluaran lain naik 0,01 persen; kelompok penambahan barang modal naik 0,32 persen; dan kelompok upah buruh naik 0,52 persen, kata Soebeno.

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi atau deflasi di pedesaan. Pada bulan Oktober 2017 dari pantauan di empat Kabupaten di Provinsi Banten, terjadi inflasi di perdesaan sebesar 0,96 persen.

Pemicu inflasi ini adalah kelompok perumahan sebesar 1,76 persen. Lima kelompok lainnya mengalami inflasi yakni kelompok bahan makanan naik 1,25 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,81 persen, transportasi dan komunikasi 0,23 persen, kesehatan 0,17 persen, sandang 0,38 persen. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,04 persen mengalami deflasi 0,14 persen.

Dari 33 provinsi di Indonesia sebanyak 17 provinsi yang NTP-nya berada di atas angka 100, tertinggi dicapai Provinsi Sulawesi Barat dengan nilai indeks 109,05 diikuti Jawa Barat 107,36. Sedangkan NTP terendah terjadi di Provinsi Bangka Belitung sebesar 93,67. NTP nasional sebesar 102,78 yang mengalami peningkatan sebesar 0,54 persen dari bulan sebelumnya.

Editor : Lince Eppang
Sumber : Antara

Apa Reaksi Anda?