• News

  • Kesra

KPAI Kutuk Keras Dugaan Penganiayaan oleh Habib Bahar Bin Smith

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti,
EduNews
Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti,

JAKARTA, NNC - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyesalkan dan mengutuk keras terjadinya dugaan penganiayaan atau kekerasan fisik yang di lakukan oleh Habib Bahar Bin Smith (HBS). Apalagi terjadi penjemputan paksa korban dari rumahnya dan kemudian mengalami penyiksaan selama beberapa jam.

KPAI mengapresiasi keberanian orangtua korban  melaporkan dugaan penganiayaan tersebut kepada pihak kepolisian. Bagi KPAI, siapapun tidak boleh melakukan kekerasan dan main hakim sendiri dengan alasan dan tujuan apapun dan terhadap siapapun.

"Apalagi ini  seorang yang dianggap ustad dan pimpinan ponpes terhadap anak. Negara ini adalah negara hukum, jika bersalah, dilaporkan ke pihak berwajub, bukan dihakimi sendiri," kata Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, seperti dalam siaran persnya, Rabu (19/12/2018).

Dietahui Retno, salah satu korban masih usia anak. Bagi Retno, seberapapun kesalahan seorang anak, yang bersangkutan wajib diberi kesempatan memperbaiki diri, bukan malah dianiaya.

"Seorang yang dikenal sebagai ulama mestinya  perilakunya bisa menjadi model dan contoh yang baik bagi anak-anak didik dan jamaahnya," tegas Retno.

KPAI juga mengaku mengapresiasi Kepolisian yang sudah bergerak cepat dan sudah menahan terduga pelaku. Polisi tidak boleh kalah dengan tekanan pihak tertentu dan hukum harus ditegakan.

Untuk itu, KPAI juga mendorong pihak Kepolisian menuntaskan penyelidikan kasus ini. KPAI akan melakukan pengawasan terhadap pihak kepolisian untuk memastikan penggunaan UU Perlindungan Anak mengingat salah satu Korban masih usia anak.

"KPAI mendorong Anak korban wajib mendapatkan rehabilitasi medis dari Dinas Kesehatan dan rehabilitasi psikologis dari Dinas PPA/P2TP2A setempat.  Nanti KPAI akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk anak korban mendapatkan hak-haknya, terutama rehabilitasi medis dan psikis," jelas Retno.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Nazaruli

Apa Reaksi Anda?