Selasa, 21 November 2017 | 11:30 WIB

  • News

  • Kesra

700 Juta Perempuan Menikah Usia Dini, Ini Akibatnya

Menteri PPPA Yohana Yembesie ingatkan bahaya pernikahan dini. (Ilustarsi:Smansa)
Menteri PPPA Yohana Yembesie ingatkan bahaya pernikahan dini. (Ilustarsi:Smansa)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Perkawinan usia anak masih marak terjadi bahkan menurut UNICEF terdapat 700 juta perempuan di dunia menikah ketika masih anak-anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan untuk menuntaskan masalah ini, perlu kesadaran keluarga tentang buruknya menikahkan anak yang belum di atas 18 tahun, salah satunya anak akan terancam putus sekolah.

Selain itu, anak juga dianggap belum siap secara mental untuk menghadapi persoalaan di dalam rumah tangga. Persoalaan lain adalah, ancaman rokok dan yang menurut Depkes (2016) terjadi peningkatan perokok pemula usia 10-14 tahun sebesar 100 persen dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9 persen pada 1995 menjadi 18 persen di tahun 2013.

Kemudian, persoalan gizi anak dimana sekitar 37 persen anak Indonesia menderita stunting, dan terakhir maraknya kekerasan yang dialami oleh anak khususnya kekerasan seksual.

Yohana Yembise mengatakan perlindungan anak dari berbagai ancaman kekerasan dan diskriminasi haruslah dimulai dari keluarga.

"Keluarga merupakan awal mula pembentukan kematangan individu dan struktur kepribadian seorang anak. Anak akan mengikuti dan mencontoh orang tua dengan berbagai kebiasaan dan perilaku," kata Yohana, Senin (17/07/2017).

Yohana berharap pada peringatan Hari Anak Nasional kali ini dapat membangun kesadaran keluarga Indonesia agar dapat mengasuh anak dengan penuh tanggung jawab. "Baik buruknya keluarga akan menjadi cerminan bagi masa depan anak. Baik buruk karakter anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan keluarganya dan lingkungan terdekatnya.”

Dia menyoroti ada beberapa masalah yang marak terjadi saat ini, antara lain perkawinan di bawah umur.  Untuk menyelesaikan hal tersebut, maka perlu adanya kesadaran yang dapat mendorong keluarga Indonesia agar memiliki pengasuhan yang berkualitas, berwawasan, keterampilan dan pemahaman yang komprehensif dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak.

 

Editor : Sulha Handayani

Apa Reaksi Anda?