Sabtu, 25 November 2017 | 06:54 WIB

  • News

  • Lingkungan

Jumlah Spesies Ikan Air Tawar Asli Sungai Ciliwung Menciut 92,5 persen

Jumlah ikan air tawar asli Ciliwung menyusut drastis dari 187 spesies menjadi 20 spesies.
Wikipedia
Jumlah ikan air tawar asli Ciliwung menyusut drastis dari 187 spesies menjadi 20 spesies.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Komunitas Ciliwung Depok, Sabtu (11/11/2017) ini mengajak anak-anak untuk ikut dalam peringatai Hari Ciliwung. Komunitas ini menggelar acara tersebut dengan alasan sungai banyak dicemari limbah manusia.

Hari Ciliwung dideklarasikan enam tahun lalu oleh para relawan Komunitas Ciliwung dari Hulu hingga Hilir.

Lantas seberapa parahnya kerusakan lingkungan di Sungai Ciliwung? Dari data yang diperoleh, catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah spesies ikan air tawar asli yang menghuni Sungai Ciliwung menciut sekira 92,5 persen dalam seabad.

Pada awal abad ke-20 tepatnya tahun 1910, jumlah ikan air tawar asli penghuni Ciliwung mencapai 187 spesies. Seabad kemudian, tepatnya 2009, jumlah tersebut menciut drastis menjadi 20 spesies.

Masuk dalam catatan studi Biota Perairan dan Herpetofauna di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dan Cisadane: Kajian Hilangnya Keaneragaman Hayati, yang terbit pada 2010 lalu.

Dalam laman LIPI dikutip pada Sabtu (11/11/2017) peneliti pengusul hasil studi, Daisy Wowor, memaparkan penciutan jumlah spesies disebabkan berbagai faktor, antara lain pencemaran limbah industri, limbah rumah tangga, penyetruman, penebaran racun, dominasi ikan sapu-sapu yang kerap memangsa spesies lain, dan penggundulan hutan di kawasan hulu.

"Hubungannya (penggundulan hutan), kalau hujan lebat, itu, kan, terjadi longsor. Tanah yang di pinggir sungai tergerus, sehingga tanah larut di dalam air. Partikel tanah itu akan menutup insang udang, ikan, dan semua yang hidup di air (sungai), yang tak bisa kabur ke luar air," kata Daisy.

Daisy yang juga peneliti Taksonomi dan Krustasea Pusat Penelitian Biologi LIPI itu menguraikan, dalam kondisi tersebut, seluruh spesies ikan dan udang bakal terancam.

Beda halnya dengan kepiting, yang berkarakter amfibi dan bisa beradaptasi dengan cara melarikan diri ke daratan.

Saat penelitian, kata Daisy, tim riset melakukan sampling dengan cara menelusuri sejumlah titik stasiun tempat berkumpulnya ikan. Para peneliti mengguakan berbagai alat untuk mendapatkan sample ikan dalam penelitian.

"Dari setiap stasiun, kita periksa adanya jenis apa. Itu kemudian hasilnya dibandingkan dengan jumlah spesies dalam buku Weber dan de Beaufort (The fishes of the Indo-Australian Archipelago)," ujarnya.

Daisy mengaku tidak bisa memprediksi jumlah spesies ikan asli Sungai Ciliwung terkini. Ia menolak berspekulasi lantaran baru sekali melakukan penelitian keanekaragaman hayati di Sungai Ciliwung. Menurutnya, perlu beberapa kali penelitian agar peneliti dapat memberikan prediksi.

Reporter : Vito Adhityahadi
Editor : Lince Eppang

Apa Reaksi Anda?