Kamis, 23 November 2017 | 08:32 WIB

  • News

  • Megapolitan

Di Balik Kasus Asma Dewi, Apakah Anies-Sandi Bisa Dibatalkan Pelantikannya?

Asma Dewi yang ditangkap polisi
istimewa
Asma Dewi yang ditangkap polisi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Asma Dewi adalah sosok nama yang belakangan ini terus menjadi pusat perbincangan hangat di dunia maya. Bahkan ia menjadi bahan pergunjingan di warung-warung kopi, juga obrolan publik di tepi jalan.

Perbincangan itu bermula dari ditangkapnya seorang perempuan yang bernama Asma Dewi oleh Direktorat Tindak Pidana Cyber Crime Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, pada Jumat (8/9/2017), atas dugaan mengunggah konten ujaran kebencian dan penghinaan agama serta ras tertentu di akun media sosialnya.

Asma Dewi, sebagaimana Netralnews.com beritakan sebelumnya, disebut-sebut sebagai salah satu panitia Tamasya Al Maidah, sebuah gerakan yang muncul di Pilkada DKI April 2017 lalu, yang dibentuk oleh pihak-pihak yang kontra terhadap pasangan Ahok-Djarot.

Tujuan dari Tamasya Al Maidah, menurut para penggagasnya kala itu, adalah mengajak seluruh masyarakat dari daerah datang ke Jakarta untuk ikut mengawasi Tempat Pemungutan Suara (TPS), agar Pilkada DKI berjalan aman, tertib, dan jauh dari kecurangan.

Selain itu,  Asma Dewi juga disebut mentransfer uang sebesar Rp75 juta ke pengurus inti kelompok Saracen, sindikat yang diduga menyebar isu SARA dan berita hoax lewat media sosial untuk kepentingan politik.

Perbincangan publik tentang sosok perempuan yang satu ini, karena aktivitasnya itu dikait-kaitkan dengan kelompok Saracen, dan juga diduga sebagai panitia Tamasya Al Maidah. Tak cukup sampai di situ, namanya kian dibicarakan warganet (netizen), setelah beredar foto dirinya dengan sejumlah politisi yang berseberangan dengan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok - Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI 2017 lalu.

Beberapa politisi itu, yakni Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Waketum Gerindra Fadli Zon, Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan -Sandiaga Uno, Ahmad Dhani, Buni Yani, dan beberapa tokoh lainnya.

Foto-foto itu juga mengundang komentar dari tim sukses Ahok-Djarot di Pilkada DKI lalu. Salah satunya adalah Guntur Romli. Ia mengatakan, seperti dikutip Netralnews.com, mereka yang menggunakan cara-cara kotor di Pilkada DKI mulai terungkap.

Selain Guntur Romli, adalah penggiat media sosial Eko Kuntadhi. Lewat tulisan berjudul 'Maukah Anies–Sandi Ingat Jasa  Asma Dewi?' yang juga disitir Netralnews.com. Ia mengulik kemenangan pasangan itu di Pilkada DKI yang tak lepas dari orang-orang yang kini terjerat kasus hukum, termasuk Buni Yani dan Rizieq Shihab.

Lalu, apa yang mesti kita kerling lebih jauh dalam kasus ini? Adalah mengerikan jika para pendukung pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies-Sandi pada Pilkada DKI lalu benar-benar telah menempuh cara-cara kotor ala Machiavelli, yaitu politik tanpa memedulikan moral, untuk memenangkan pasangan tersebut dalam meraih kekuasaan. Semoga tidak.

Lebih mengerikan lagi jika cara-cara kotor itu diketahui dan direstui oleh pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih DKI Jakarta itu. Sekaligus, kemenangan yang diraih pasangan Anies-Sandi itu juga benar-benar karena politik kotor seperti itu.
 
Maka, sulit dibayangkan jika kekuasaan yang digenggam dan dilaksanakan oleh kedua pasangan terpilih itu berpijak di atas landasan politik kotor. Atau, bagaimana pasangan ini bisa nyaman duduk di atas kursi kekuasaan yang diperolehnya dengan cara-cara yang kotor? Atau, bagaimana para penguasa baru Jakarta itu dapat mencicipi kenikmatan kekuasaan yang diraih dengan semua cara yang kotor?
 
Lalu, bagaimana perasaan pasangan pemimpin baru Jakarta itu terhadap Ahok yang kini mendekam di balik terali besi dan Djarot, yang mereka kalahkan dengan cara-cara yang kotor seperti itu?
 
Banyaknya pertanyaan itu memang sangat sulit dijawab, apalagi itu menyangkut perasaan, isi hati, getaran nurani, atau denyutan hati nurani dan sejenisnya dalam diri seseorang.
 
Di atas pertanyaan-pertanyaan itu, ada pertanyaan yang lebih sulit dijawab lagi, yakni apakah pasangan terpilih, Anies-Sandi, dapat dan masih pantas dilantik pada Oktober 2017 mendatang, jika benar-benar terbukti bahwa kemenangan yang mereka raih pada Pilkada DKI Februari lalu itu penuh dengan noda-noda hitam dalam politik pilkada itu sendiri?
 
Sulit dibayangkan betapa ngerinya jika pasangan ini akhirnya tidak dilantik. Iya, sangat jelas, mengerikan. Penulis pun hanya bisa bertanya tanpa bisa menjawabnya.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?