• News

  • Megapolitan

Birgaldo: Mengapa La Nyalla Menyalak? Ini Bukan Soal Uang tapi Harga Diri

Birgaldo Sinaga
infonawacita
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NNC - Penggiat media sosial Birgaldo Sinaga ikut memberikan pandangannya mengenai pengakuan La Nyalla Mahmud Mattalitti yang mengaku dimintai uang Rp40 miliar oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, untuk direkomendasikan maju sebagai calon gubernur di Pilkada Jawa Timur 2018.

Menurut Birgaldo, sikap La Nyalla yang membongkar politik transaksional pasca dirinya tak jadi direkomendasikan Gerindra, bukan karena soal jumlah uang yang diminta, tapi karena harga diri.

"Dalam darah La Nyalla mengalir darah Bugis yang pantang dipermalukan dan direndahkan.  Lebih baik mati berputih mata daripada malu berputih muka. Kira-kira begitu pantunnya," kata Birgaldo.

"Bagi La Nyalla ini bukan soal uang tapi harga diri. Dan itu tidak ternilai harganya. Jika harga diri terluka dalam falsafah Bugis si pembuat luka harus membayarnya setimpal," ungkap Birgaldo.

Pasalnya, lanjut loyalis mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok ini, untuk seorang La Nyalla dengan berbagai jabatan yang diemban, uang Rp40 miliar dirasa terlalu kecil baginya.

"Apakah La Nyalla tidak punya uang Rp40 Miliar sebagai syarat mendapat rekom Gerindra? Semua orang pasti yakin uang Rp40 Miliar kecil bagi seorang La Nyalla.  Ini bukan soal uang baginya.  Ini soal cara memperlakukan dirinya yang telah berbungkus lumus mengorbankan begitu banyak waktu, materi, pikiran dan tenaga bagi Prabowo," tandasnya.

Berikut komentar lengkap Birgaldo soal kisruh La Nyalla dan Gerindra, dikutip NNC dari akun Facebooknya, Minggu (14/1/2018).

MENGAPA LA NYALLA MENYALAK ?

Semua orang tahu La Nyalla Matalitti adalah loyalis Prabowo yang loyal.  La Nyalla juga bukan orang sembarangan sekelas si tamvan Habiburochman yang sering tersesat di Lingkaran Susun Semanggi. 

La Nyalla adalah salah satu punggawa kelas utama di Ring 1 Prabowo.  Punya uang,  punya jaringan dan punya jabatan.  La Nyalla seorang Ketua Kadin Jatim.

La Nyalla mantan Ketum PSSI. La Nyalla pengusaha disegani.  Meski lahir besar dan berkecimpung bisnis di Surabaya,  darah Bugis mengalir dalam diri La Nyalla.

Saat Pilgub DKI lalu,  peran sentral La Nyalla juga dominan.  Ia bersama pentolan aksi 212 merancang gerakan aksi bela agama dan ulama. Tujuannya satu,  memenjarakan Ahok

Ahok dipenjara,  Anies Sandi melenggang kangkung menang.  Minimal dijadikan tersangka agar masa kampanye Anies Sandi mulus menggebuk Ahok Djarot dengan isu SARAnya.

Sumbangsih dan pengorbanan La Nyalla bukan saja pada aksi busuk 212, jauh sebelumnya sejak 2009 La Nyalla adalah kader militan Prabowo

Masa Pilpres 2009 dan 2014 La Nyalla berperan besar membantu Prabowo.  Tentu saja La Nyalla merogoh kocek yg dalam  pun juga tenaga,  pikiran dan jejaringnya utk memenangkan Prabowo.

Ingat politik etis penjajah Belanda masa kolonial dulu?  Belanda saja tahu membalas budi jajahannya. Masakan Prabowo tidak tahu membalas budi gue?  Mungkin pikiran itu muncul dibenak La Nyalla

Apalagi Prabowo bekas prajurit Kopassus.  Pasukan komando yang terkenal korsa dan kesetiakawanannya.  Ingat saja bagaimana kesetiaan prajurit Ucok yang rela masuk penjara Grobogan Jogya demi membalas kematian rekannya. 

Begitulah korsa dan kesetiakawanan prajurit Kopassus.  Tiada lawan.  Tidak diragukan.

Sayangnya La Nyalla lupa pemeo kuno,  dalam politik keabadian itu adalah kepentingan.  Tidak ada kawan abadi,  yang ada adalah kepentingan.  La Nyalla lupa Prabowo bukan lagi prajurit.  Prabowo adalah Ketua Umum partai politik. 

Hukum utama dan terutama bagi politikus adalah tunggang menunggangi siapa untuk mencapai target kekuasaan. 

Hukum Machiaveli bilang dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan menghalalkan segala cara itu keniscayaan.

Kita tidak mungkin lupa dengan sabda agung Prabowo soal merampas harta rumah tetangga yang habis terbakar demi tujuan politik.

Mantan Danjen Kopassus itu mengungkap sebuah strategi loot a burning house' (rampoklah rumah yang sedang terbakar).

"Bapak ibu kita kalau mengajarkan kita, Nak belajar yang baik, jadi orang yang baik, kalau besar jadi orang baik membantu orang, membantu tetangga. Kalau strategi tidak begitu, kalau perlu kau rampok tetanggamu yang sedang kesusahan," tegas Prabowo.

Prabowo, yang dalam video belum segemuk sekarang, menyebut strategi loot a burning house ini sebagai strategi kelima.

"Strategi kelima bunyinya loot a burning house rampoklah rumah yang sedang terbakar. Arti daripada strategi ini, penjelasan aslinya adalah: jika rumah seseorang sedang terbakar, gunakan kesempatan daripada kekacauan yang timbul, untuk mencuri harta kekayaannya," tegas mantan menantu Soeharto itu.

Prabowo kemudian mengatakan, "Saya ulangi, jika rumah seseorang sedang terbakar, gunakan kesempatan daripada kekacauan yang timbul, untuk mencuri harta kekayaannya."

Orang yang berkecimpung dalam politik pasti mahfum diPHPin.  Sudah lazim dikecewain.  Orang politik yang baper kalo dikecewakan, ya pasti terlempar ke laut.  Hilang ditelan ombak. 

Jadi politisi kudu punya otot kawat tulang besi.  Contoh Maruarar Sirait.  Ditendang dari posisi calon Menteri tetap tenang dan setia menerima keputusan partai.  Tidak diusung di Pilgub Sumut meski namanya moncer tetap tenang dan menyokong Djarot sebagai cagub terbaik.

Tapi mengapa La Nyalla mengamuk? Marah?   Bukankah dia politisi?

Dalam darah La Nyalla mengalir darah Bugis yang pantang dipermalukan dan direndahkan.  Lebih baik mati berputih mata daripada malu berputih muka. Kira-kira begitu pantunnya.

Dalam budaya Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar dan Tana Toraja) ada sebuah istilah atau semacam jargon yang mencerminkan identitas serta watak orang Sulawesi Selatan, yaitu Siri’ Na Pacce. Secara lafdzhiyah Siri’ berarti : Rasa Malu (harga diri), sedangkan Pacce atau dalam bahasa Bugis disebu Pesse yang berarti : Pedih/Pedas (Keras, Kokoh pendirian).

Apakah La Nyalla tidak punya uang 40 M sebagai syarat mendapat rekom Gerindra?

Semua orang pasti yakin uang 40 M kecil bagi seorang La Nyalla.  Ini bukan soal uang baginya.  Ini soal cara memperlakukan dirinya yang telah bertungkus lumus mengorbankan begitu banyak waktu,  materi,  pikiran dan tenaga bagi Prabowo.

Bagi La Nyalla ini bukan soal uang tapi harga diri.  Dan itu tidak ternilai harganya. Jika harga diri terluka dalam falsafah Bugis si pembuat luka harus membayarnya setimpal.

Salam

Birgaldo Sinaga

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?