Rabu, 17 Januari 2018 | 00:27 WIB

  • News

  • Megapolitan

Facebook Didemo, Pengamat: Tak Masuk Akal dan Butuh Kecerdasan Lebih Memahami Itu

Kantor Facebook didemo massa yang mengatasnamakan  Aliansi Tolak Kedzaliman Facebook
NNC/Toar Sandy
Kantor Facebook didemo massa yang mengatasnamakan Aliansi Tolak Kedzaliman Facebook

JAKARTA, NNC - Pengamat politik Ray Rangkuti mengaku bingung dalam mengomentari aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah ormas seperti Presidium Alumni 212 dan Front Pembela Islam (FPI) di kantor Facebook Indonesia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pada Jumat (12/1/2018).

Pasalnya, disebut Ray, ada hal yang unik dari aksi ini, yakni mereka memprotes sebuah perusahaan hanya karena perusahaan tersebut memblokir akun mereka.

"Yang paling unik itu perusahaan di demo karena perusahaan gak memasukkan mereka ke situ. Aku gak masuk akal di otak ku lagi, jadi aku gak punya analisa soal itu lagi. Butuh kecerdasan lebih untuk memahami logika itu," kata Ray kepada NNC, Minggu (14/1/2018).

"Gimana ya, kalau politik seburuk-buruknya masih ada penjelasannya. Tapi kalau kasus kemarin itu sudah saya menjelaskan itu, gak ada teorinya itu," sambungnya.

Hal menarik lainnya diungkapkan Ray, yaitu sebelum digelarnya aksi di kantor Facebook, mereka sempat menyerukan untuk memboikot dan menggembar-gemborkan akan membuat media sosial tandingan Facebook.

"Sok-sokan anti, mengatakan boikot, sekarang malah minta Facebook yang memasukan mereka. (Mereka) Kampanye pribumi, cintailah negeri, lho kalau begitu kenapa lagi demo?" ujar Direktur Lingkar Madani (LIMA) itu.

Sebelumnya, Tokoh Front Pembela Islam (FPI) Habib Novel Chaidir Bamukmin menuding perusahaan Facebook telah berbuat zalim dan mendiskriminasi umat Islam, karena telah memblokir sejumlah akun milik umat Islam yang digunakan untuk dakwah dan kegiatan kemanusiaan.

"Karena akun itu akun dakwah dan akun aksi kemanusiaan terhadap bencana, yang masyarakat perlu yang kita memang terdepan membantu masyarakat, membantu ketika ada bencana alam dan musibah," kata Habib Novel kepada NNC, Jumat (12/1/2018).

Sementara di satu sisi, lanjut Humas Presidium Alumni 212 ini, sejumlah akun yang mengunggah soal lesbian, gay, biseksual, dan transgender/transeksual (LGBT), komunis, hingga penistaan agama, dibiarkan tetap eksis di media sosial.

"Justru akun LGBT, komunis, zina, penista agama, didukung. Sementara setiap profil (Alumni) 212, FPI, MCA (Muslim Cyber Armi), bendera tauhid, foto Habib Rizieq, dan masih banyaklah, mereka langsung blokir," ungkap Habib Novel.

Tak hanya itu, Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) ini menuding pemblokiran dilakukan karena perusahaan Facebook juga perpihak pada penguasa yang sakit hati akibat kekalahan di Pilkada 2017, baik itu di Pilkada DKI maupun Banten.

"FB jangan berpihak (pada) penguasa dalam melakukan balas dendam politik karena kalah di Pilkada DKI dan Banten, dan sekarang benar-benar membabi buta memblokir akun dakwah dan akun aksi kemanusiaan karna takut bertarung sehat di Pilkada (serentak 2018) dan Pilpres (2019)," tegasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?