• News

  • Megapolitan

Diduga Gelapkan Dana Klaim Nasabah, Oknum Agen Asuransi Dilaporkan ke Polisi

Wiwih Luciani Bohar didampingi pengacaranya, Alvin Lim, menjelaskan kasus penggelapan dana asuaransi.
NNC/Toar Sandy Purukan
Wiwih Luciani Bohar didampingi pengacaranya, Alvin Lim, menjelaskan kasus penggelapan dana asuaransi.

JAKARTA, NNC - Seorang nasabah PT Asuransi Allianz, Wiwih Luciani Bohar, melaporkan salah satu oknum agen Allianz, Feronika, ke polisi. Feronika dilaporkan ke polisi atas dugaan penggelapan sebanyak 4 polis asuransi yang dibeli Wiwih pada 28 September 2016 silam oleh sang suaminya, bernama Belki Sukiyo, yang sudah meninggal.

Laporan Wiwih teregister dalam laporan bernomor TBL/640/II/2018/PMJ/Dit Reskrimum Polda Metro Jaya tertanggal 2 Februari 2018. Terlapor Feronika diduga telah melanggar Pasal 263 KUHP tentang Pemalsuan Surat dan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan.

Pengacara Wiwih, Alvin Lim, menjelaskan bahwa awal adanya dugaan penggelapan polis asuransi senilai Rp105 juta itu terjadi pada Februari 2017, saat sang suami sakit dan memerlukan perawatan. Sehingga Wiwih terpaksa mengajukan klaim ke pihak Allianz, meski beberapa kali sempat ditolak karena dianggap tidak sesuai ketentuan.

"Klaim rawat inap ditolak dengan alasan belum lewat masa tunggu 1 tahun untuk pengajuan sakit khusus, karena ada 1 diagnosa dokter mengatakan Bapak Belki stroke, dan dokter di 4 rumah sakit memberikan diagnosa yang berbeda-beda," kata Alvin di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (12/2/2018).

Karena terkendala dana, kemudian Belki dirawat di rumah dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Juli 2017 lalu, dengan meninggalkan istri dan anak yang masih kecil. Saat itu juga Allianz langsung membayar klaim yang sebelumnya sempat ditolaknya.

Klaim meninggal dan kritis ditransfer ke rekening atas nama sang istri, sementara klaim kesehatan atau rawat inap ditransfer ke rekening BCA atas nama almarhum Belki. Karena dana klaim di atas Rp50 juta, maka pihak BCA mengharuskan nasabah menyertakan surat kematian dan surat waris sebagai syarat penarikan.

Kemudian, setelah semua syarat dianggap lengkap, tepatnya pada Januari 2018, Wiwih akan menarik uangnya di rekening. Namun, ternyata pihak bank memberi tahu bahwa rekening yang berisi klaim totalnya mencapai Rp105 juta tersebut sudah ditarik bertahap oleh orang yang mengaku Belki.

"Katanya ada orang yang mirip seperti Pak Belki datang dengan KTP atas nama itu, minta buku dan ATM baru, kemudian isi saldonya ditransfer ke orang, namanya Feronika, itu agen," tutur Alvin.

Saat itu juga aksi jahat Feronika mulai terbongkar, dan setelah ditelusuri melalui buku polis, ternyata diketahui yang bersangkutan merupakan seorang agen asuransi di Allianz tersebut. Padahal, lanjut Alvin, 4 polis asuransi dibeli dari agen Prudential bernama Robby, dan ternyata Robby membeli asuransi untuk Belki dan keluarga dari agen Feronika.

Alvin mengaku, sudah berusaha menghubungi pihak Allianz terkait masalah itu, namun belum juga mendapat respon. Oleh karena itu, ia melaporkan Feronika ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan dan pemalsuan surat.

"Kami kecewa karena pihak asuransi seharusnya bertanggung jawab atas data-data yang diberikan klien. Kan ada nomor rekening, KTP, KK, dari situ bisa tahu nama ibu dan sebagainya sehingga disalahgunakan," tambahnya.

Reporter : Toar Sandy Purukan
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?