• News

  • Megapolitan

Guru Penyebar Hoaks Suara Dicoblos Ternyata Pendukung Prabowo-Sandi

Ilustrasi Hoaks
Matangasa
Ilustrasi Hoaks

JAKARTA, NNC - Jajaran Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) berhasil meringkus MIK (38), pelaku penyebar hoaks soal tujuh kontainer yang berisi 80 juta surat suara yang telah dicoblos. 

Pelaku yang ditangkap di rumahnya di Kebon Dalam, Purwakarta, Kota Cilegon, Banten itu mengaku sebagai pendukung pasangan calon nomor 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono mengatakan, dari hasil pemeriksaan pelaku berprofesi sebagai seorang guru di daerah Cilegon, Banten dan pendukung Paslon nomor 02.

"Dari pemeriksaan, yang bersangkutan membuat sendiri narasi kalimat postingan dengan maksud memberitahukan kepada para tim pendukung paslon 02 tentang info tersebut. Ini menurut keterangan tersangka seperti itu," terang Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat (11/1/2019).

Pelaku itu menyebarkan hoaks melalui media sosial Twitter. Dalam Twitter milik pelaku bernama @chiecilihie80, tertulis : "Di Tanjung Priok ada 7 kontainer berisi 80jt surat suara yang sudah dicoblos. Hayo Padi merapat pasti dari Tiongkok tuh".

Dalam tulisan itu, pelaku juga menyisipkan capture yang bertulisan 'Viralkan Info dari sumber yang dipercaya, posisi paslon nomor 1 unggul hanya tinggal di 4 propinsi Jateng, NTT, Bali dan Papua.'

"Kemudian setelah penyidik pemeriksaan bahwa yang bersangkutan, tersangka juga tak bisa membuktikan ini capturenya dari mana. Kami tanya dari mana, dia tidak bisa membuktikan. Kata Dia (pelaku) dari FB tapi dia ga tau FB siapa," tambahnya.

Tersangka dikenakan Pasal 28 ayat (2) Juncto Pasal 45A ayat (2) Undang-undang RI nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas undang-undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Elektronik, dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan atau denda Paling banyak Rp1 miliar dan atau Pasal 14 dan Pasal 15 Undang-undang RI nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan Hukum Pidana, dengan pidana penjara paling singkat dua tahun dan paling lama 10 tahun.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Firman Qusnulyakin

Apa Reaksi Anda?