Tewas dibunuh sang kakak

Pembunuh Mahasiswi Universitas Muhammadiyah, Kakaknya Sendiri

Rabu, 11 Jan 2017 | 21:34 WIB | Megapolitan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM -  Kematian mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Murniati (22)  yang ditemukan tewas di rumah kontrakannya di Jalan Makmur, Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (10/1/2017), masih misterius. Penyidik Polres Metro Jakarta Timur menduga pembunuhan Murniati (22) bermotifkan soal warisan keluarga.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Jakarta, Rabu (11/1/2017) mengatakan, motif kasus ini masih didalami. Apakah karena berkaitan dengan warisa, atau sebab lain.

Dalam kasus ini polisi telah menetap satu orang tersangka, tak lain dan tak bukan kakak Murniati sendiri, yakni berinisial AR (31). Untuk saat ini, AR masih menjadi tersangka tunggal. Belum ada tersangka lain yang ditetapkan polisi.

Penyidik Polres Metro Jakarta Timur masih meminta keterangan tersangka secara intensif guna menggali informasi motif  pembunuhan tersebut.

Saat ini, masih masih berusaha mengembangkan kasus ini. Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Polisi Agung Budijono mengaku belum dapat mengungkapkan latar belakang pembunuhan tersebut.

Polisi menetap AR sebagai tersangka setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam. Polisi mendapatkan petunjuk dari kunci pintu di lokasi kejadian. Polisi mendapatkan keterangan dari keluarga korban yang menyebutkan pernah kehilangan kunci pintu saat AR datang ke rumah ibu korban.

Selanjutnya penyidik menelusuri keberadaan kunci pintu rumah yang hilang dipegang ibu korban, sedangkan satu kunci lainnya milik Murniati. Saat jasad korban ditemukan, polisi menemukan kunci yang dipegang Murniati berada di lokasi kejadian. Polisi mencurigai pelaku yang membunuh Murniati merupakan orang dekat korban sehingga dugaan tersangka mengarah terhadap AR.

Seperti diberitakan sebelumnya, Murniati (22) ditemukan tewas di rumah kontrakannya di Jalan Makmur, Pondok Ranggon, Cipayung, Jakarta Timur, Selasa (10/1/2017). Kakinya terikat tali, wajahnya luka dan ada darah pada bantal dan gulingnya.



Editor : Wulandari Saptono