Minggu, 26 Maret 2017 | 18:02 WIB

  • News

  • Megapolitan

Pemerintah Kota Bogor Janji Ganti Penebangan Pohon di Jalan Solis Iskandar

Kamis, 12 Januari 2017 | 02:20 WIB
Tol BORR sesi IIB (prfm)
Tol BORR sesi IIB (prfm)

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, memberikan klarifikasi terkait penebangan pohon di sepanjang Jl Solis Iskandar yang terkena dampak pembangunan jalan Tol BORR sesi IIB.

Klarifikasi disampaikan dalam temu media dengan Pemerintah Kota Bogor dan PT Marga Sarana Jabar selaku pengelola Tol BORR di Balai Kota, Rabu, dipimpin Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, yang dihadiri Direktur PT Marga Sarana Jabar Hendro Atmojo dan Sekretaris Daerah Ade Syarip Hidayat.

Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Suyudi Ario Seto, Wakil Ketua DPRD Heri Cahyadi, guru besar landskape dan pertamanan IPB Prof Hadi Susilo dan peneliti dari Badan Litbang Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Bima Arya Sugiarto menekankan, pembangunan tol BORR sangat diperlukan untuk pembenahan dan pengurai kemacetan di Jl Sholis Iskandar, mengingat situasi arus lalu lintas di kawasan tersebut sudah tidak mampu menampung jumlah kendaraan yang melintas.

"Tapi pembangunan tidak boleh mengorbankan lingkungan, apalagi Kota Bogor mengusung konsep sebagai kota hijau (green city), penanaman dan penghijauan terus digalakkan, jadi pembangunanpun harus mengedepankan konsep kota hijau," katanya.

Ia mengatakan, hari sebelumnya telah meninjau langsung ke lapangan kondisi pohon yang sudah ditebang di Jl Solis Iskandar dan membicarakannya dengan PT Marga Sarana Jabar untuk merelokasi pohon-pohon yang masih ada ke tempat lain serta mengganti pohon yang sudah ditebang.

"Untuk lokasi relokasi pohon akan disepakati bersama, pohon yang ditebang akan diganti lima kali lipat dari jumlah yang ditebang," kata Bima.

Sementara itu, Direktur Utama PT Marga Sarana Jabar, Hendro Atmojo menjelaskan, tercatat 410 pohon terdiri dari 11 jenis yang berada di sepanjang jalur yang akan dibangun tol BORR seksi IIB dari ruas Kedung Badak sampai Simpang Yasmin dengan panjang 2,65 km.

"Kami sudah melakukan verifikasi pada 23 Desember 2016 untuk menetukan mana tanaman yang harus ditebang dan yang direlokasi. 49 pohon yang sudah dipotong jenis Trembesi, kami mendahulukan jenis ini karena tidak semua pohon dapat direlokasi," katanya.

Menurut Hendro, pihaknya siap mengganti sebanyak lima kali lipat untuk satu batang pohon yang ditebang, karena sudah menjadi komitme pihaknya yang mengedepankan penghijauan dalam setiap proyek pembangunan jalan tol yang dilakukan.

"Komitmen kami bukan lagi penghijauan tetapi penghutanan, kami siap mengganti lima sampai 10 kali lipat setiap batang pohon yang ditebang, dan merelokasi pohon yang dapat direlokasi," katanya.

Ia menambahkan, untuk memudahkan upaya relokasi pohon, pihaknya menggandeng Prof Hadi Susilo Arifin dan Badan Litbang Inovasi Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup untuk membantu percepatan proses pemindahan pohon-pohon yang ada di area proyek pembangun tol BORR seksi IIB.

"Karena sesuai kalender kerja harus selesai dalam waktu 17 bulan. Pengerjaan sudah dimulai Desember 2016. Sesuai jadwal persiapan lapangan, Maret 2017 seluruh kawasan sudah harus bersih atau steril, sehingga pembangunan fisik bisa dimulai," katanya.

Dalam pertemuan tersebut, Prof Hadi Susilo Arifin mengatakan, tidak setuju adanya penebangan pohon untuk pembangunan. Perlu ada sosialisasi yang dilakukan jauh-jauh hari sebelum pembangunan dimulai, agar tidak timbul persoalan.

"Hendaknya pohon yang ditebang diganti, apalagi pohon yang ditanam di sepanjang jalan itu sudah berusia 10 tahun. Pergantiannya 5 kali lipat untuk setiap pohon yang ditebang," katanya.

Prof Hadi menambahkan, yang perlu dijamin dari kelangsungan pohon tersebut dengan adanya proyek pembangunan jalan Tol BORR yakni pohon ganti yang sudah ditanam harus betul-betul tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

"Ini yang perlu dikawal, lokasi relokasi pohon ditentukan, dan dipastikan pohon yang diganti dan direlokasi dirawat, dan tumbuh dengan baik," katanya.

Ismayadi dari Badan Litbang Inovasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menambahkan, ada dua metode relokasi yang dapat dilakukan yakni dengan cara boling. Yakni membungkus akar pohon sebelum dipindahkan, dengan memperhatikan kondisi akar maupun tajuk pohon, sehingga ketika ditanam kembali dapat tumbuh dengan baik.

Editor : Wulandari Saptono