Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:39 WIB

  • News

  • Megapolitan

Pasar Tanah Abang, Cerita Ajakan PSK, “Ayo Mas, Ngamar” (3 Habis)

PSK Bongkaran Tanah Abang (Dok.poskota)
PSK Bongkaran Tanah Abang (Dok.poskota)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Masih berada di kawasan Pasar Tanah Abang, ada sebuah tempat prostitusi kelas teri yang masih saja beroperasi hingga saat ini. Bongkaran Tanah Abang, itulah namanya. Terletak di belakang Blok G.

Namanya cukup kondang di ibu kota ini, merupakan wilayah dengan luas sekitar 3 hektar di kawasan Tanah Abang. Di wilayah inilah, para penjajah seks komersial menggantungkan hidupnya dengan mengais rezeki dari para buruh atau pekerja kasar yang butuh hiburan dan pelepas hajat duniawi di tubuhnya.

Mereka berasal dari berbagai daerah, antara lain Indramayu dan kota-kota lainnya di sekitaran Jakarta. Namun, ada juga PSK yang berasal dari wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
 
Dari penelusuran Netralnews.com, di setiap malam, di tengah gelapnya Pasar Tanah Abang Blok G, saat memasuki lantai tiga terlihat perempuan seksi berusia 17 hingga 40-an sibuk berdandan. Usai berdandan, para PSK itu satu persatu turun mencai pria hidung belang di sekitar Blok G.  Di situ, tak segan-segan mereka mengajak “ngamar” dengan tarif sekali kencan Rp200.000-300.000.

Menurut penulusuran diceritakan apabila telah ada kesepakatan soal tarif, kencan dapat dilakukan langsung di los (counter) yang tersedia di lantai 3 yang sedianya untuk para pedagang. “Kalau mau bercinta di pasar lantai 3, di los saya. Aman di sini, tenang saja tidak usah takut”. Kata wartawan itu tentang pengalamannya dalam penelusurannya.

Kepada penulis, sang wartawan itu bercerita tentang hasil penelusurannya, bahwa sekitar pukul 19.00 WIB, sudah terlihat para penjual lendir itu tidak malu melakukan adegan percintaan di dalam los yang hanya berukuran 3 meter itu. Suara desahan dan rintihan tanda kenikmatan para PSK sedikit terdengar dari balik los tatkala melintas di antara los yang ada di situ.

Para pelanggan yang datang ke Blok G tempat mangkal para pelacur itu biasanya adalah para sopir, tukan ojek, kuli pasar, kuli bangunan, juga para sekuriti. Mereka rata-rata melakukan transaksi seks untuk sekali kencan. Kadang-kadang mereka meminta kencan semalam suntuk dengan tarif bisa satu juta maksimal.

Menurut seseorang yang tidak mau disebutkan namanya mengungkapkan bahwa di lantai 3 itu kerap dijadikan tempat praktik prostitusi, perjudian dan banyak juga yang menggunakan narkoba jenis sabu-sabu. Sehingga, tatkala melintasi lantai 3 bau aroma khas daun ganja mewarnai gelapnya malam Pasar Tanah Abang Blok G. Suasana percintaan, ganja, sabu-sabu dan perjudian terus berlangsung dengan aman. Karena semuanya ada pengamanannya.

Namun, apabila ada orang yang dicurigai bertanya kepada orang-orang yang berkepentingan di daerah itu, mereka pasti mengelak atau membantah dengan mengatakan bahwa di tempat itu tidak ada prostitusi, perjudian, dan narkoba.

Mereka berdalih bahwa selalu dipantau petugas keamaman. Tetapi sudah menjadi rahasia umum kalau di situ sebenarnya banyak sekuriti yang berpakaian preman yang biasanya bertugas menjaga keamanan dan selalu sigap memberitahu setiap kali ada pihak keamaman dari kepolisian yang datang menggerebek.

Humas PD Pasar Tanah Abang misalnya, selalu menegaskan kalau di situ tidak ada yang namanya tempat maksiat, perjudian dan pengedaran narkoba. Mana yang benar? Anda sendirilah yang menjawabnya. Siapa tahu ada di antara pembaca berita di Netralnews ini yang ingin mengetahuinya langsung. Silakan ke sana, meski penulis tidak menganjurkan lho!

Satu hal yang pasti, Pasar Tanah Abang pasca Ahok, kesemrawutan semakin bertambah. Parkir-parkir liar terus beraksi di Pasar Tanah Abang. Pedagang kaki lima (PKL) semakin berseliweran di Pasar Tanah Abang. Inilah tugus penting yang sudah menunggu gubernur baru dan wakilnya. Apakah Pak Gubernur baru sanggup melenyapkan yang namanya prostitusi, perjudian dan perdedaran narkoba? Kita tunggu!

Selamat bertugas membenani Pasar Tanah Abang, Pak Gubernur dan wakilnya! Kami tunggu!

Penulis : Thomas Koten
Editor : Wulandari Saptono
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?