Selasa, 24 Oktober 2017 | 02:04 WIB

  • News

  • Megapolitan

Suasana HUT RI ke-72, Pidato Djarot Bikin Merinding

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan sejumlah fasilitas di Monas
Netralnews/Adiel Manafe
Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan sejumlah fasilitas di Monas

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat saat meresmikan sejumlah fasilitas di Monas, pada Sabtu (12/8/2017) tadi malam, sempat menyinggung soal semangat mengisi kemerdekaan. Hal ini berkenaan dengan suasana jelang peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) yang ke-72.

Dalam acara bertajuk 'Yuk ke Monas' itu, di hadapan ribuan warga yang hadir, Djarot mengungkapkan kiat-kiat mengisi kemerdekaan, sikap nasionalis yang harus ditumbuhkembangkan, hingga peringatan kepada pihak-pihak yang anti terhadap Pancasila.

Berikut rangkuman pidato Djarot di Monas dengan semangat mengebu-gebu yang disambut tepuk tangan meriah warga.

Warga bangsa Indonesia yang saya banggakan, ini adalah bulan Agustus, bulan Agustus kita kenal sebagai bulan kemerdekaan Indonesia. Di Jakarta pada saat bulan Agustus ini digelar acara Gebyar Merah Putih, dan saat ini kita berada di jantung ibukota, di Monumen Nasional.

Monumen Nasional benar-benar mampu menyatukan berbagai macam warga Indonesia, bukan hanya yang ada di Jakarta tapi juga di seluruh Indonesia. Tiada mengenal apa agamanya, apa sukunya, apa latar belakangnya, semuanya bisa menikmati keindahan Monumen Nasional ini. 

Di dalam bulan kemerdekaan ini, tentunya kita juga harus bertanya kepada diri kita masing-masing, kalau kita mengatakan bahwa kita mensyukuri nikmat dari Allah Subhanahu ta'ala, Tuhan Maha Esa,  atas diberikannya kemerdekaan Indonesia selama 72 Tahun.

Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita mensyukuri nikmat itu? Bagaimana cara kita menikmati mensyukuri di dalam rangka menikmati kemerdekaan Indonesia itu? Ini harus kita tanyakan dalam diri kita masing-masing, karena kita juga harus sadar bahwa kemerdekaan Indonesia tidak turun begitu saja dari langit, tidak. 

Kemerdekaan Indonesia itu didapatkan dengan perjuangan, dengan tetesan darag, air mata, keringat, dan harapan bahwa kemerdekaan itu adalah sebagai satu jembatan tapi jembatan emas dan di seberang jembatan emas itulah kita semua bersama-sama akan membangun satu tatanan masyarakat yang adil, yang makmur, yang sejahtera.

Kita akan bangun bangsa kita adalah bangsa yang berdaulat yang bersatu, yang benar-benar mempunyai harapan tinggi terhadap masa depan Indonesia.

Sekali lagi, harapan dan masa depan Indonesia terletak pada diri kita sendiri. Apa yang kita kerjakan, yang dikerjakan oleh saudara-saudara kita ketika memperbaiki Monas, ketika memperbaiki air mancur, ketika memperbaiki vitrin, ketika memperbaiki toilet, ketika memperbaiki trotoar-trotoar supaya lebar, ketika memperbaiki penerangan yang ada di Jakarta, sehingga Jakarta menjadi Ibukota yang dibanggakan bukan hanya oleh bangsa Indonesia, tapi juga dibanggakan oleh seluruh dunia.

Kerja-kerja yang seperti itulah yang sebetulnya bentuk konkret dari rasa syukur kita untuk menikmati kemerdekaan ini. Oleh karena itu sebagai bentuk konkrit mensyukuri kemerdekaan ini, mari kita saling menjaga, saling memelihara dan memberikan contoh terbaik bagi bangsa kita ini.

Janganlah sesama bangsa kita ini saling gaduh, saling menyalahkan satu sama lain, saling  membenci satu sama lain, melecehkan satu sama lain, merendahkan satu sama lain dan mendiskriminasikan satu sama lain. Jangan!

Kita adalah bangsa yang bersatu yang berdaulat dan untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur di bawah naungan lindungan Allah Subhanahu Ta'ala. Satu tatanan masyarakat yang baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur, itulah cita-cita dari para pendahulu kita. Ini harus kita jawab.

Saudara-saudaraku sekalian, marilah kita saling menghargai satu sama lain. Yang dibutuhkan oleh republik kita tercinta ini adalah keteladanan dari kita semua. Keteladanan bukan hanya dari sisi pemimpinnya, tapi keteladanan itu juga dari seluruh warga bangsa Indonesia, karena kita semua adalah bangsa yang beradab, bangsa yang berbudaya, bangsa yang memiliki etika untuk saling hormat dan menghormati satu sama lain, satu bangsa yang bertoleransi satu sama lain sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.

Kita semua menjadi bangsa Indonesia diikat oleh suatu ideologi yang sama, menapak di dalam satu dasar negara yang sama yaitu Pancasila.

Siapapun yang meragukan ideologi Pancasila, siapapun yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila dan bertempat tinggal di Indonesia, jangan menjadi warga negara Indonesia silahkan pindah ke negara lain.

Kenapa? karena di dalam kartu penduduk kita, KTP kita itu ada Garuda Pancasila, kalau dia nggak sesuai dengan Pancasila ya Pancasila ya sesuai dengan Pancasila ya Pancasila ya kembalikan KTP-nya dong, pindah ke negara lain yang sesuai dengan ideologinya.

Ini perlu saya ingatkan dalam kesempatan yang baik ini, karena kita akan bersama-sama menikmati indahnya Indonesia, indahnya Jakarta, dibawah naungan bulan purnama, dengan suasana yang sangat sejuk dengan angin semilir untuk menikmati Monas.

Terima kasih kepada seluruh pihak untuk membantu merawat dan menjaga Monas ini. Dan saya minta kepada semua untuk menjaga merawat Monas ini. Jangan kotori Monas, jangan kotori Indonesia dengan tindakan-tindakan yang tidak terpuji.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Wulandari Saptono

Apa Reaksi Anda?